
Prince akhirnya meninggalkan Amora di rumahnya sendiri untuk beberapa hari. Sampai wanita itu siap untuk kembali ke rumah Kakek Liu.
Kakek Liu sendiri sudah menengok keadaan Amora dan membujuknya untuk kembali ke rumah. Namun, Amora masih enggan.
Hingga Essa sendiri yang menyuruh Amora pulang ke rumah Kakek dan mengusir Amora dari rumahnya baru Amora mau pergi dengan terpaksa.
Dia memilih pulang mengendarainya kendaraannya sendiri ketika kembali ke mansion keluarga Liu.
"Enaknya nanti makan apa ya? Steak daging? Atau ramen? Seharusnya aku tadi membeli cemilan di jalan. Ah, andai saja tadi aku ingat. Hmm?" Amora menyipitkan kedua matanya.
Saat ia hendak membelokkan mobil untuk keluar dari halaman rumahnya, ia melihat siluet tubuh yang dikenalinya. Tentu saja Amora mengucek kedua mata untuk memastikan. Namun, tetap saja Amora melihat Luna berjalan seorang diri di pinggir jalan. Hingga Luna masuk ke dalam sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
"Itu kan Luna? Kenapa dia masuk ke dalam mobil itu? Mobil siapa? Bukan milik Dave atau Prince. Sebentar. Sepertinya aku mengenalinya. Laki-laki itu siapa? Lalu, untuk apa Luna pergi bersama laki-laki itu?" Amora bermonolog seorang diri.
Wanita itu sejenak merenung. Akan tetapi insting Amora mengatakan untuk mengikuti Luna. Wanita itu merasa curiga. Seketika ia menutup mulutnya sesaat sudah tersadar dan mengenali siapa laki-laki yang menjemput Luna.
"Bukannya dia salah satu artis yang pernah memiliki hubungan dengan Luna? Dia artis yang itu kan? Galih? Galih? Ah siapa sih? Aku yakin dia bukan artis terkenal karena aku tidak begitu mengenalnya. Yang jelas Essa pernah memperlihatkan foto Galih padaku. Ya ampun! Aku tidak menduga ingatan tentang foto itu masih kuat di otakku." Amora menepuk kepalanya pelan.
Lalu ia melajukan mobilnya mengikuti mobil Galih yang membawa Luna. Jantung Amora berdegup kencang. Ia takut jika Luna merencanakan sesuatu. Terlebih Amora sangat tahu bahwa Luna terobsesi dengan Prince. Amora sedikit menjaga jarak dengan mobil Galih.
"Sebenarnya mereka mau pergi kemana?" gumam Amora.
Meski penasaran, Amora pun tetap mengikuti mobil Galih. Namun, kedua alis Amora bertautan saat melihat mobil Galih berbelok ke perumahan di daerah Bintaro. Lebih tepatnya perumahan dari kalangan menengah. Amora menghentikan mobilnya.
Ia sangat penasaran mengapa Luna ikut Galih ke perumahan menengah. Di mana ini bukanlah selera Luna. Akan tetapi, rasa penasaran Amora nyatanya jauh lebih besar. Wanita itu pun kembali menginjak pedal gas dan mengikuti mobil Galih.
__ADS_1
"Untuk apa mereka berdua masuk ke daerah ini?" tanya Amora.
Amora tetap mengikuti mobil Galih. Bahkan ketika mobil itu berbelok ke salah satu halaman rumah. Tak lama kemudian mereka berdua turun dari mobil. Di belokan ujung jalan, Amora menghentikan laju mobilnya. Wanita itu sejenak meragu. Ingin pergi dan meninggalkan Luna, tapi ia cukup penasaran dengan Luna yang menemui Galih.
"Sebenarnya untuk apa Luna bersama Galih masuk ke rumah itu? Apakah itu rumah Galih? Tapi mengapa Luna sudi untuk ke tempat itu? Mataku tidak buta untuk melihat karakter Luna yang menyukai kemewahan. Hmm? Aku lebih baik memarkir mobilku sebentar. Cari tempat yang bagus untuk parkir." Amora akhirnya memarkirkan mobilnya di salah satu rumah yang terlihat masih belum berpenghuni.
Setelah mobilnya aman, Amora turun dari mobil. Ia berjalan menuju ke rumah Galih. Amora sangat penasaran dengan tujuan Luna yang bertemu Galih.
"Aku ingin mencari bukti dulu. Bukti kalau Luna merencanakan sesuatu. Mungkin suatu saat akan berguna," putus Amora.
Akhirnya Amora memutuskan untuk mencari tahu rencana Luna. Wanita itu berjalan pelan memasuki pintu gerbang. Kemudian mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara yang membuat Luna maupun Galih curiga.
Akan tetapi, saat Amora baru saja sampai di depan pintu ia mendengar suara gaduh. Penasaran, Amora pun merapatkan telinganya pada daun pintu pintu.
"Anak siapa itu?" Sepertinya itu suara Galih. Laki-laki itu bertanya pada Luna.
"Untuk apa bertanya lagi? Jelas ini anak Prince!" jawab Luna.
"Tidak mungkin aku hidup bersama denganmu, Galih. Kau laki-laki yang miskin. Aku akan menderita bila hidup bersamamu," batin Luna.
"Ayolah, Luna. Tidak mungkin itu anak Prince! Aku yakin kalau kau hamil anakku! Jangan lupa kalau kita juga pernah melakukannya," sanggah Galih.
Tak lama suara tawa Luna menggelegar. "Apa katamu? Kau yakin ini anakmu? Andai kata iya ini anakmu, memang kau punya apa? Kau tidak memiliki apapun untuk menikahiku dan membesarkan anak ini kan? Sayangnya anak ini merupakan anak Prince. Anak keturunan dari pemilik Mountain grup. Tidak sebanding denganmu yang hidup di rumah seperti ini. Galih, Galih. Harga rumahmu pun tidak lebih mahal dari harga tasku."
"Bersama dengan laki-laki yang sudah beristri apa enaknya? Hanya akan berakhir menjadi simpanan." Sepertinya Galih membalas ejekan Luna.
__ADS_1
"Menjadi simpanan yang terpenting diutamakan. Kau jangan terlalu menganggap remeh posisiku, Galih. Justru aku akan menjadi kesayangan keluarga Prince. Sebab aku sebentar lagi akan memberikan penerus untuk Mountain Grup! Bukan malah akan hidup susah bersama laki-laki sepertimu," sarkas Luna
"Kenapa mereka berdua ribut perkara anak? Jadi, siapa ayah dari anak yang dikandung Luna? Galih atau Prince? Aku tidak mungkin salah dengar. Kalau Galih juga mengakui anak yang ada di dalam kandungan Luna. Bukankah tidak mungkin Galih mengakuinya bila benar mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun?" Amora membatin seraya berpikir.
Logika saja, tidak mungkin Galih mengakui anak yang di perut Luma merupakan anaknya tanpa sebab. Jelas Galih memiliki alasan kuat sebab mengakui istri orang sedang mengandung anaknya. Tiba-tiba Amora menutup mulutnya. Itu bisa saja terjadi. Terlebih Galih dan Luna sedang berdebat perihal anak yang masih dalam kandungan.
"Apakah ini alasan Luna bertemu dengan Galih secara diam-diam? Hubungan Luna dan Galih sebelumnya juga sebagai sepasang kekasih. Ini tidak mungkin hanya tebakanku saja." Amora terus membatin sambil merekam pembicaraan Luna dan Galih.
"Ayolah, Luna. Meski begitu kau tidak lupa dengan status hubungan kita bukan? Mantan sepasang kekasih! Maka dari itu aku sangat yakin kalau anak yang ada di dalam perutmu itu adalah anakku!" Galih menekankan kata-katanya.
"Diamlah laki-laki miskin! Ingat, status kita yang hanya sebatas mantan kekasih! Lagipula sebagai orang yang mengandung bayi ini, aku yakin kalau ini anak Prince! Akulah yang mengandung calon pewaris Prince!"
"Apa yang kau banggakan, Luna? Dia masih memiliki istri sah dan kau tetaplah simpanan. Dia tetaplah nyonya sedangkan kau hanyalah gundik!" ejek Galih.
"Aku yang akan menjadi Nyonya Liu. Suatu saat nanti." Luna berkata dengan penuh percaya diri.
"Apa kau yakin bisa menyingkirkan istri sah laki-laki itu? Luna, c'mon! Berhentilah bermimpi. Kau selamanya hanya akan menjadi simpanan saja!" tegas Galih.
Amora terkejut dan tanpa sengaja bergerak mundur. Punggungnya otomatis menyentuh pot bunga bahkan pot bunga tersebut hancur. Sontak saja Galih dan Luna ikut terkejut.
"Ya ampun! Aku akan ketahuan!" batin Amora.
"Siapa di sana?" Suara Galih terdengar menggelegar. Membuat Amora semakin merinding ketakutan.
"Bagaimana ini? Aku bisa habis kalau ketahuan Luna!" sesal Amora dalam hati.
__ADS_1