Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 42


__ADS_3

"Ya ampun! Luna pasti sebentar lagi akan datang ke sini! Lebih baik aku segera pergi," kata Amora dalam hati.  


Amora mencari tempat untuk bersembunyi. Begitu menemukan semak belukar, Amora pun menyembunyikan tubuhnya di sana. Wanita itu bahkan sesekali menahan napas. Matanya terpejam dan jantungnya berpacu cepat. Takut-takut kalau Galih ataupun Luna melihatnya.


"Tidak ada siapapun di sini." Luna keluar dari rumah Galih.


Begitupun dengan Galih. Laki-laki itu mengekor di belakang Luna dan mengawasi keadaan sekitar. Galih mengedarkan pandangan matanya ke setiap penjuru. Namun, ia tidak menemukan apapun. Hanya pintu gerbang yang sedikit terbuka.


"Aku yakin kalau pintu gerbang itu sudah tertutup. Bagaimana bisa tiba-tiba terbuka? Aku tidak mungkin salah. Sebab aku sendiri yang menutupnya." Galih membatin curiga. Akan tetapi ia tidak mengatakan apapun pada Luna.


"Ck! Kau tidak ingin membuatkan aku minum? Miskin sekali." Luna kembali menghina Galih.


"Dasar wanita sialan! Awas saja. Lebih baik aku tidak mengatakan apapun padanya. Dia hanya akan menyusahkan aku lagi nantinya. Aku yakin sekali ada orang yang membuntuti Luna datang ke sini." Galin membatin dalam hati. Ia kesal dengan sifat Luna yang terlalu merendahkannya.


"Kau tidak bilang ingin minum apapun. Masuklah. Aku akan membuatkanmu minuman," ucap Galih.


"Tidak perlu. Aku lebih baik pergi dari rumah ini. Nanti tubuhku bisa-bisa gatal karena rumah jelek ini. Tidak usah mengantarku. Aku akan pulang naik taxi." Luna menolak tawaran Galih dengan kasar.


Wanita hamil itu berjalan cepat keluar dari halaman rumah Galih. Berjalan cepat meninggalkan Galih yang masih termenung di tempatnya. Laki-laki itu menatap tajam ke arah pot bunga miliknya yang sudah hancur. Galih pun membungkuk memungut pecahan pot bunga itu.


"Jelas pot bunga ini sedikit berat. Tidak ada angin juga. Kucing? Rasanya tidak ada suara apapun. Apa benar ada yang mengikuti Luna? Aku hanya berharap kalau orang tersebut berada di pihakku. Jangan sampai hal ini menyusahkan aku di kemudian hari. CCTV, sebaiknya aku memeriksa CCTV." Galih pun bangkit.


Galih berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia meninggalkan pot bunga yang sudah pecah begitu saja. Berjalan cepat menuju kamarnya. Setelahnya ia membuka laptop untuk mengetahui siapa orang yang menguntit Luna. Tak lama kemudian Galih menemukan Amora di sana.

__ADS_1


"Siapa wanita ini? Mengapa dia ada di rumahku? Kalau bukan orang yang aku kenal, seharusnya Luna mengenalnya. Lebih baik aku segera mencari tahu. Sebelum aku kerepotan di kemudian hari." Galih menggumam sambil mengambil handphone yang berada di dalam saku. Kemudian laki-laki itu menghubungi seseorang.


"Halo? Galih? Hey! Tumben kau menelponku? Aku tidak punya uang kalau kau ingin mencari pinjaman."


"Sial! Apakah aku mencarimu hanya untuk meminjam uang? Dasar brengsek!" gerutu Galih.


"Hei! Hei! Oke, oke. Sorry. Ada apa? Kau sangat jarang sekali menghubungiku. Sudah pasti aku patut curiga bukan? Ayolah, brother. Apa yang kau inginkan? Tidak mungkin kau menelponku tanpa alasan." Laki-laki di ujung seberang tertawa lepas. Ia mengejek Galih yang memang tidak akan sudi menghubunginya tanpa alasan.


"Aku butuh bantuanmu," ucap Galih.


"Apa kau akan membayarku dengan harga yang lumayan? Ah, jangan ngutang lagi. Aku tahu kau sedang sepi job." Teman Galih mengejek dirinya.


"Sialan! Siapa yang menghubungimu hanya untuk meminjam uang? Aku membutuhkan bantuanmu. Ini bukan tentang uang! Kenapa kau menyangkut pautkan swmua hal dengan uang? Apakah saat aku membutuhkanmu aku harus berada di situasi kekurangan uang?" Galih terus mengelak.


 


Akan tetapi, Galih tidak memiliki banyak uang untuk mencari orang dengan keahlian di bidangnya. Walaupun temannya ini seorang amatir, tapi kemampuannya cukup bisa diandalkan.


"Ha-ha-ha! Galih, aku tahu siapa kau. Kau kan temanku yang sangat memprihatinkan. Mau kubilang kau artis, tapi kau hampir tidak dikenali oleh banyak orang. Sekali memiliki kekasih yang lumayan keren bernama Luna, eh dia meninggalkanmu demi laki-laki lain. Ha-ha-ha. Aish, aku ini memang satu-satunya temanmu yang paling setia." Lagi. Teman Galih tertawa lepas. Sepertinya ia sangat puas dengan keadaan mengenaskan Galih yang diputuskan sepihak oleh Luna.


 


"Heh! Asal kau tahu, aku meminta bantuanmu juga ini ada hubungannya dengan Luna. Wanita sialan itu benar-benar membuatku kesal!" Galih mengutuk Luna.

__ADS_1


"Luna? Baiklah. Katakan padaku. Apa kau ingin kembali padanya?" Teman Galih kembali mengejek Galih yang masih saja menahan emosinya.


"Hah. Baiklah. Kau meminta bantuanku tapi tidak gratis ya. Kasih aku bayaran juga sesuai dengan bantuan yang aku berikan." Dia menghela napas. Menghentikan tawa dan sepertinya sudah cukup ia membuang waktu. "Ada apa? Kalau aku bisa membantumu, aku akan membantumu."


"Hari ini aku menemukan seorang wanita yang tidak aku kenal ada di teras rumahku. Dari gelagatnya dia seperti diam-diam dan tidak berusaha untuk menampakkan dirinya padaku sebagai pemilik rumah. Apakah kau bisa mencari tahu tentangnya?" Galih akhirnya mengatakan tujuannya dalam menghubungi temannya itu.


"Hmm? Kau melihatnya dari kamera CCTV? Kirimkan saja potongan videonya. Biar aku lihat." Teman Galih akhirnya menyetujui untuk membantu.


Di tempat Galih suasana hening. Akan tetapi tak berapa lama kemudian satu pesan masuk di handphone laki-laki itu. Pesan dari Galih berupa potongan video kamera CCTV. Teman Galih pun mencari tahu siapa wanita yang ada di sana.


"Amora. Istri sah dari Prince. Wah? Mengapa wanita sekelas istri konglomerat ini berada di rumahmu dan menjadi penguntit? Jangan bilang dia kekasih gelapmu!"  Teman Galih itu sangat terkejut mengetahui identitas wanita yang ia cari.


Galih pun tak kalah terkejut. "Thank you, bro. Nanti malam tunggu transferan dariku ya!"


Laki-laki itu pun mengakhiri sambungan telepon tersebut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Galih tidak percaya bahwa wanita yang menguntit Luna itu merupakan istri sah dari Prince. Laki-laki itu tertawa keras. Seolah sedang merayakan kemenangan.


"Gila! Amora, istri sah dari Prince ada di rumahku! Ha-ha-ha! Luna, sepertinya kau salah mengambil langkah! Hmm, kalau begitu aku harus memanfaatkan ini. Aku akan memberikan pelajaran pada wanita sombong itu! Dasar wanita sial!" Galih kembali tertawa keras. Ia benar-benar merasa telah menang.


"Kita sebaiknya menunggu saja. Nyonya Amora sudah mengetahui siapa Luna. Aku tinggal menunggu waktu di mana wanita sombong itu dipermalukan!"


Di sisi lain, Amora bergegas keluar dari rumah Galih. Berjalan tergesa-gesa untuk keluar dari pintu gerbang.  Amora menghela napas saat sudah sampai di mobilnya. Namun, ia sadar kalau Luna bisa saja memergokinya kapanpun. Dengan terburu-buru wanita itu menginjak pedal gas dan berlalu pergi.


'Luna, kau bermain dengan orang yang salah. Apa kau tidak sadar siapa orang yang kau lawan?' Amora membatin miris.

__ADS_1


__ADS_2