
Pagi menjelang, saat matahari sudah naik ke sepenggalah. Cahayanya yang tembus melewati jendela kaca, menyapu wajah gadis cantik, yang masih terlelap dalam tidurnya.
Amora yang merasa terganggu akan sinar mentari pagi, dia membuka kedua mata perlahan dan mengerjap beberapa kali.
"Jam berapa sih ini?" ucapnya, dengan suara serak.
Ketika Amora mencoba beranjak dari tidurnya, alangkah terkejutnya dia, saat melihat sebuah tangan kokoh melingkar di perutnya. Amora langsung menoleh ke belakang, di sana dia mendapati wajah tampan Prince yang masih memejamkan mata.
"Huaaaaa ...."
Mendengar Amora yang menjerit, membuat telinga Prince pengang. Pria itu membeliakkan matanya karena terkejut akan suara Amora, yang memenuhi seisi kamar.
"Kenapa kau berteriak?" ucap Prince, kesal.
"Kau ... kau memelukku?" Amora menggerutu, dia berusaha melepaskan tangan kokoh itu yang sejak tadi melilit tubuhnya. Namun, sepertinya Prince enggan untuk melepaskan tangannya dari tubuh Amora.
"Memangnya kenapa jika aku memelukmu?" Prince menanggapi ucapan Amora dengan santai. Bahkan kedua matanya masih terpejam, mengingat dia baru saja memejamkan dua jam yang lalu.
"Diamlah! Jangan berisik! Apa kau mau seluruh orang rumah masuk ke kamar dan melihat kita?" jawab Prince, dia mencoba memejamkan matanya kembali.
"Apa yang kau lakukan, Prince? Lepaskan aku," ucap Amora, masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Prince. Sebab, selama tidur satu ranjang dengan Prince, Amora selalu membuat batas di tempat tidur, dengan bantal guling menjadi pembatasnya.
"Heh, aku ini suamimu. Memangnya kenapa kalau aku melakukan sesuatu padamu, hem?" Prince tersenyum smirk.
Prince meletakkan dagunya di pundak Amora, dan hal itu membuat Amora menjadi risi.
Beberapa jenak saat berada di dalam pelukan Prince, Amora merasakan bahwa jantungnya sedang berdegup sangat kuat. Seolah ada gempa dengan kekuatan hebat di dalam tubuhnya.
"Prince, lepaskan aku!" pinta Amora, dia memelas.
Prince berdecak kesal, dia pun menyingkirkan tangannya dari perut Amora, kemudian tidur telentang dengan kedua tangan menjadi bantalnya.
Amora yang sudah bisa mengontrol detak jantungnya sendiri. Dia menatap Prince dengan mata memicing.
"Kau sedang lihat apa?" ucap Prince, membalas tatapan Amora.
Wajah Amora tersipu, memikirkan bahwa semalam Prince tidur sambil memeluk tubuhnya.
"Kau sangat cantik saat bangun tidur, aku suka melihat muka bantalmu itu," lanjut Prince. Dia seolah tidak peduli dengan ekspresi yang ditunjukkan Amora kepadanya.
Amora yang menatapnya dengan sorot dingin, kemudian dia mengingat kejadian tadi malam. Amora menggigit bibir bawahnya, rasa takut itu masih tersisa.
__ADS_1
"Amora, are you okay?" tanya Prince, dia memandang Amora dengan tatapan aneh.
Amora yang duduk di tepi ranjang, dia menoleh lagi ke arah Prince.
"Prince, bagaimana dengan pria yang kau tembak tadi malam?" ucap Amora.
Prince melirik Amora sekilas, "Maksudmu, Boris?" tebak Prince, dan dijawab Amora dengan anggukan kecil di kepala.
"Apa dia mati?" tanya Amora lagi.
Prince terkekeh menanggapi ucapan Amora, gadis itu terlihat polos dan lugu di matanya. Membuatnya ingin sekali memeluknya erat.
"Kau tidak perlu memikirkannya lagi, Amora. Aku sudah mengurusnya."
Amora menghela napas dengan lega, setidaknya ucapan Prince dapat membuat pikirannya sekarang menjadi tenang.
"Lebih baik kau pergi mandi saja, setelah ini kita akan ke kantor. Kau ingat, kan, kalau hari ini adalah hari pertamaku menjadi asisten pribadiku?" Saat ini Prince memasang ekspresi serius.
Amora menekan ludahnya yang terasa kelat, dia bahkan melupakan hal itu. Bergegas Amora beranjak dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Prince, dia memilih untuk memejamkan mata beberapa menit sambil menunggu Amora selesai mandi.
***
Sementara Prince, dia sudah duduk di balik meja makan.
Tak lama kemudian Amora sudah kembali dari dapur dengan membawa teko yang berisi kopi panas—yang baru saja dibuatnya tadi.
Di meja makan, Prince tidak sendirian, dia sedang menikmati sarapan bersama dengan Kakek Liu.
"Kakek, apa Kakek ingin minum kopi?" Tak lupa Amora juga menawarkan kopi untuk pria tua yang duduk di seberang Prince.
"Tidak," jawab Kakek Liu.
"Amora, apa kau sudah menyiapkan dokumen yang akan kubawa ke kantor?" Prince bertanya, setelah dia menyesap kopi buatan Amora.
"Ya, aku sudah menyiapkan semuanya," kemudian Amora ikut bergabung bersama mereka, dia duduk di sebelah Prince.
Kakek Liu yang melihatnya, dia senang melihat kedekatan Prince dan Amora pagi ini, berharap akan ada cinta yang tumbuh di antara keduanya.
***
__ADS_1
Prince dan Amora akhirnya tiba di kantor perusahaan. Namun, mereka melihat beberapa karyawan yang baru datang, tampak berhamburan keluar dari gedung perkantoran.
Prince juga melihat beberapa pria berpakaian urak-urakan sedang mengobrak-abrik lobi kantor. Dia dan Amora yang baru turun dari mobil, kemudian gegas memasuki lobi.
"Bren$sek! Siapa kalian?"
Prince menerjang beberapa preman yang merusak properti kantor. Security yang tadinya kewalahan meladeni preman-preman itu, mereka merasa tertolong saat Prince sudah datang.
Prince menghajar preman-preman itu tanpa ampun, dia sangat murka karena ada yang sudah berani membuat kekacauan di perusahaannya.
Sementara Amora yang ketakutan, dia berlari dan bersembunyi di balik meja resepsionis. Di sana juga ada beberapa karyawan yang ikut sembunyi.
"Heh, kenapa kau ada di sini?" Amora menatap salah satu karyawan laki-laki yang memiliki tubuh sedikit berisi dan berotot.
"Eh, s-saya takut, Nona," ucap karyawan itu sembari tersenyum kikuk.
Amora mendengkus, "Cih! Badannya aja yang besar, tapi nyalinya kecil," gumam Amora. "Aduh, semoga saja Prince bisa mengusir preman-preman itu."
Saat Amora mencoba untuk mengintip, alangkah terkejutnya dia. Prince melempar tubuh salah satu preman itu ke meja resepsionis. Membuat Amora menjadi histeris.
"Huaaaa ...."
Amora kembali berjongkok di tempat persembunyian. Sedangkan karyawan pria yang diledeknya tadi terkekeh melihat wajah Amora yang pucat pasi.
'Tadi bilangnya aku penakut, dia sendiri penakut,' gumam pria itu, bersorak di dalam hati.
Benar saja, doa Amora terkabul. Dalam beberapa menit, Prince sudah berhasil menghalau para preman itu.
Prince terlihat sangat macho dengan kemeja yang dikenakannya dan jas yang ada di pundaknya. Dia membetulkan kerah kemejanya dan menyugar rambutnya.
Amora yang melihat Prince, dia menekan ludahnya dengan sangat susah payah.
'Haiss ... Amora, apa yang sedang kau pikirkan?' Amora menepuk pipinya, berusaha untuk menyadarkannya yang tengah memandang kagum ke arah Prince.
Amora melihat Prince berjalan menuju ke arahnya, dan entah kenapa itu justru membuatnya gugup.
"Amora, ikut ke ruangan!" ucap Prince, saat dia sudah berdiri di depan Amora.
Amora terpesona akan garis wajah Prince yang begitu sempurna, sampai-sampai dia sendiri tidak mendengar ucapan pria itu.
"Amora! Kau dengar tidak?" bentak Prince, dia kesal karena wanita itu tidak menanggapi ucapannya.
__ADS_1
"Hah? I-iya ...." Amora merutuki kebodohannya sendiri, lalu dia pun mengikuti Prince dengan berjalan di belakang pria itu.