
Prince mengikuti langkah Amora yang memasuki rumah. "Amora, sebaiknya kau tidak usah berteman dengan pria mana pun."
Mendengar perkataan Prince, Amora memutar tubuhnya. "Kau tidak berhak melarangku untuk dekat dengan siapa saja." Lalu Amora mendengkus kasar, "Aku bahkan tidak pernah menyinggung tentang Luna di antara kita," sambungnya lagi.
"Kau cemburu?" tebak Prince, dia tersenyum samar.
Amora melipat kedua tangan di dada, "Sudahlah ... aku lelah," saat Amora hendak melangkah, tiba-tiba saja dia tersandung oleh sepatunya sendiri. Sehingga membuat Amora kehilangan keseimbangan, Amora hampir saja terjatuh. Namun, tiba-tiba sebuah tangan kokoh menahan berat tubuhnya.
Prince dengan cepat menyambut tubuh Amora yang ingin terjatuh, hingga keduanya saling berpelukan. Mereka saling beradu pandang dalam waktu yang cukup lama.
Menatap kedua manik mata milik Amora, entah kenapa membuat jantung Prince berdebar tidak karuan.
"Eheem ...."
Prince dan Amora menoleh saat seseorang melihat keduanya yang masih dalam keadaan berpelukan.
"Kakek," ucap Amora. Gegas dia membetulkan posisinya dan mengambil jarak dari Prince.
Sedangkan Prince, pria itu terlihat bersikap biasa sembari membetulkan kerah kemejanya.
Kakek Liu yang melihat adegan tadi, dalam hati dia merasa bahagia karena akhirnya Prince bisa bersikap manis kepada Amora.
"Kenapa kalian pulang awal hari ini? Apa jam pulang kantor telah berubah?"
Mendengar ucapan Kakek Liu, Amora dan Prince mendadak kikuk.
***
Dua jam yang lalu, setelah mengantar Luna ke rumah sakit. Prince sudah kembali ke rumah sakit, namun dia tidak menemukan Amora di kantor. Prince mengira bahwa Amora cemburu dan pulang ke rumah. Prince mencoba menelepon Amora tapi gadis itu mengabaikan panggilan telepon dari Prince.
Selama dalam perjalanan, Prince menghubungi Amora beberapa kali. Hingga akhirnya Amora menjawab telepon darinya.
"Kau di mana sekarang?" ucap Prince melalui sambungan telepon.
"Aku di kafe, sedang makan siang. Ada apa?" sahut Amora.
Prince menekan keningnya, "Bodoh! Kupikir kau pulang ke rumah. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Kau ... pulang sekarang!"
Amora berdecak kesal di ujung telepon. "Kenapa aku harus pulang? Kau saja yang kembali ke kantor," jawabnya, sedangkan di depannya, Dave tersenyum kepadanya.
"Jangan membantah, Amora! Kalau kakek tahu kita tidak pulang sama-sama, maka kau tidak kuizinkan masuk ke rumah lagi."
__ADS_1
Amora melotot, dia memutus sambungan telepon.
"Sorry, Dave. Aku harus pulang sekarang," Amora beranjak dari tempatnya.
Namun, Dave ternyata menyusul Amora. "Amora, aku akan mengantarmu."
"Tidak usah, aku bisa pakai taksi," tolak Amora.
"Menunggu taksi akan memerlukan banyak waktu, ayolah ... anggap ini sebagai awal pertemanan kita," Dave membujuk.
Akhirnya Amora pun setuju untuk diantar Dave pulang ke rumah.
***
Amora tampak kebingungan saat menghadapi lelaki tua yang berdiri di depannya dengan sorot tajam.
"Ada berkas yang ketinggalan, jadi aku dan Amora ingin mengambilnya." Prince menyela, dia melirik sekilas ke arah Amora dan gadis itu mengangguk bimbang.
Kakek Liu menyipitkan matanya, "Kenapa kalian harus repot-repot mengambilnya berdua? Kau bahkan bisa mengirimkan staf untuk ke sini, Prince."
"Ya ... itu karena aku meletakkannya di tempat yang khusus, Kek." Prince berkilah.
Sementara Amora, dia rasanya ingin menertawakan tingkah konyol Prince saat ini.
"Kau tidak perlu membawa istrimu untuk mengambil dokumen itu, Prince."
Prince bahkan mengabaikan ledekan yang dilontarkan oleh Kakek Liu. Sedangkan wajah Amora berubah merah padam karena merasa malu mendengar ucapan pria tua yang dilaluinya.
"Prince! Kau sungguh keterlaluan!" Saat keduanya tiba di kamar, Amora menyentak pergelangan tangannya dari Prince.
Prince menoleh dan menatap tajam ke arah Amora, "Keterlaluan? Kau sendiri kenapa pergi dari kantor tanpa seizinku?" Prince mendekati Amora dan gadis itu berjalan mundur ke belakang. Hingga tubuhnya menubruk dinding, tapi Prince dengan cepat meletakkan tangannya di balik kepala Amora agar kepala Amora tidak membentur tembok dengan keras.
Pandangan mereka saling mengunci dengan jarak yang begitu dekat. Amora dapat merasakan deru napas Prince menyapu wajahnya.
Tiba-tiba saja Prince semakin mendekatkan wajahnya, dan itu membuat Amora menahan napasnya sendiri.
"Prince! Kau mau apa!?" Amora mendorong dada bidang Prince, berusaha menjauhkan wajah pria itu darinya.
Prince terkekeh kecil saat melihat wajah Amora berubah kemerahan dan itu sangat menggemaskan baginya.
"Amora, apa kau tidak menyukaiku?"
__ADS_1
Amora memicingkan matanya, dia menipiskan bibir lalu mencebik. "Aku tidak tertarik dengan pria yang memiliki istri lebih dari satu!" ucapnya dengan nada ketus.
"Kenapa kau harus kembali? Lebih baik kau temani saja Luna di rumah sakit. Saat ini dia pasti sedang membutuhkanmu." Amora membuang pandangan ke arah lain.
Dapat Prince lihat bahwa gadis yang ada di depannya memanyunkan bibir. "Kau cemburu?" ucap Prince, dia menyentuh dagu Amora dan mendongakkan wajah gadis itu.
"Jauhkan tanganmu dariku, Prince! Aku tidak cemburu!" Amora menyentak tangan Prince hingga terlepas dari wajahnya.
Prince mengembuskan napas kasar, "Baiklah, kita kembali ke kantor." Prince memutar tubuh dan keluar dari kamar.
Amora yang melihat punggung pria itu, dia mengembuskan napas lega. Kemudian memegang dadanya sebelah kiri.
"****! Ada apa dengan jantungku?"
"Kau mengatakan sesuatu?" Amora terhenyak saat Prince memutar tubuh dan menatap heran ke arahnya.
"Tidak ada!" jawab Amora, dia pun segera menyusul Prince.
Mereka kembali ke kantor, dan Amora melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Mulai dari menyiapkan berkas, membuatkan kopi untuk Prince, membereskan meja kerja serta mendampingi Prince saat melakukan meeting. Amora juga mengemukakan pendapatnya mengenai proyek yang sedang dikerjakan.
Entah kenapa, melihat Amora yang sangat disiplin dalam bekerja, membuat Prince kagum terhadapnya.
Hingga jam kerja pun berakhir. Keduanya kembali ke rumah dengan tubuh yang sangat lelah.
Di malam harinya,
Prince yang sedang duduk bersandar di atas ranjang, melihat Amora yang baru saja keluar dari walk in closet. Amora terlihat sangat cantik dengan gaun tidur yang dikenakannya. Prince sangat menyukai parfum yang dipakai Amora. Aromanya sangat lembut dan membuatnya ingin terus berada di sisi gadis itu.
Amora kemudian beranjak ke tempat tidur. Seperti biasa, dia selalu membuat batas dengan meletakkan bantal guling di tengah-tengah.
Prince kemudian meraih guling itu dan melemparnya ke lantai.
“Prince, apa yang“
“Amora, kenapa kita tidak buat anak saja malam ini?” tiba-tiba saja Prince menarik Amora ke dalam pelukan.
“Hah? Apa!?”
Tanpa Amora duga, Prince mendaratkan ciuman ke kening Amora, dia juga mengusap puncak kepala Amora dan membelai surai yang panjang.
“Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri? Jadi, kau harus melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri, Amora.”
__ADS_1
Mendengar perkataan Prince, Amora terdiam membisu.