Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab.9 Terpaksa Menikah


__ADS_3

Tengah malam Amora membuka mata dan mendapati Prince sedang mengerjakan pekerjaannya di sofa dalam kamar itu. Dia hanya memakai celana pendek kolor, tanpa baju atasan sama sekali. Memperlihatkan dadanya yang berbentuk dan sedikit berambut. Pria itu nampak serius menatap layar laptop.


"Kau sudah bangun," tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya pada layar.


"Jangan memandangiku begitu lama, jika tidak kupastikan kau akan jatuh cinta lagi padaku." Wajah Amora memerah karena ketahuan menatap Prince.


Pria itu memang tampan dan sangat rupawan. Wajahnya seperti diukir dan dipahat dengan sempurna oleh para Dewa yang agung. Tidak ada cacat atau kekurangan sama sekali.


Tubuhnya pun sangat atletis dan berotot, bagian depannya terdapat dua tatto dan belakang tubuhnya terdapat tatto ular naga yang meliuk dengan cantik. Sebagian tangannya penuh dengan tatto.


Amora tidak terlalu suka dengan orang yang rela melukai dirinya untuk sesuatu hal yang tidak ada gunanya. Namun, dia mengakui jika semua gambar ditubuh Prince itu sangat cantik dan bermakna dan pas di tubuhnya.


"Kenapa aku tidak kau pindahkan di kamar tamu saja?" tanya Amora bangkit. Pertama yang dia lakukan menatap pakaian yang dia kenakan. Itu adalah baju tidur sutra berwarna silver yang halus. Siapakah yang mengganti? Mungkin pelayan, tidak mungkin Prince yang melakukannya sendiri.


"Agar aku bisa mengawasimu," ujar Prince bangkit dan menutup laptopnya


Seketika tenggorokannya terasa kering. Dia melihat ke sekeliling. Melihat air minum di salah satu meja kecil dekat dengan tembok.


Prince melihat arah tatapan Amora. Lantas menuangkan segelas air putih untuk Amora dan memberikan pada gadis itu.


"Terimakasih." Amora langsung menghabiskan minuman itu sekali teguk.


"Berapa lama aku tidur?" Amora melihat semua tirai tertutup rapat dan ruangan itu hanya dengan pencahayaan yang minim.


"Satu hari, satu malam." Prince duduk di sebelah Amora.


"Akh, selalu seperti itu," rutuknya. Obat yang Prince efeknya memang seperti obat tidur yang bisa membuat terlelap dalam waktu lama.


"Kau memerlukan banyak istirahat untuk menaikkan lagi imun dalam tubuhmu agar bisa melawan racun yang masih tersisa. Jadi kandungan obat tidur dalam obat itu tinggi," jelas Prince.


"Aku lelah dengan penyakit ini," ujar Amora.


"Tapi kau harus bertahan."


"Untuk apa, aku tidak punya harapan apapun tentang hidup ini."


"Untuk memberikan aku satu putra, setelah itu jika kau mau mati silahkan," ujar Prince blak-blakan. Hati Amora mendesir sakit.


"Kau sangat jujur sekali."

__ADS_1


"Lebih baik jujur dari awal daripada berkhianat di belakang."


"Kenapa aku harus mengandung anakmu. Bukankah kau juga hendak mempunyai anak dari Luna."


"Karena dia penerus keluarga Liu dan Chandra. Lebih tepatnya penerus tahta Mountain yang paling kuat."


"Beberapa hari ini aku sudah memikirkan semuanya dan tidak menemukan jawaban akan sebuah pertanyaan. Namun, kini sudah terjawab semuanya. Semua yang kau katakan padaku dan ayah dulu itu hanya sebuah kebohongan semata. Kau hanya berambisi pada Mountain grup."


Prince memegang dagu Amora dengan kuat sambil menatapnya kuat.


"Aku yang turut andil besar untuk kemajuan perusahaan ini, lalu haruskah aku memberikannya pada yang lain? Walau itu adalah saudaraku?"


"Lalu adil kah bagiku mendapatkan penghinaan dan perlakuan seperti ini darimu?" balas Amora menatapnya dengan sendu. Sesaat mereka saling menatap.


Prince melepaskan pegangannya di dagu Amora dengan kasar. Dia lantas bangkit mengambil piyamanya dan pergi dari kamar itu.


"Pukul tiga sore kita akan menikahi di hotel Mountain. Semua sudah disiapkan jadi jangan berusaha untuk kabur lagi! Seperti janjiku kau akan kubayar satu juta dolar untuk menikah denganku!"


Pintu lantas di tutup. Suasana mendadak hening. Dada Amora terasa sesak oleh kemarahan dan kesedihan yang menerpa menjadi satu. Dia menangis kesal.


Setelah lelah, dia mengusap air matanya. "Amora, kau tidak boleh lemah."


Pernikahan akhirnya benar-benar berlangsung. Tidak ada kegembiraan di wajah Amora bahkan tidak seulas senyum pun terbit di sana.


Semua orang nampak terkejut dengan mahar satu juta dolar. Itu bukan hal aneh untuk dilakukan oleh keluarga Liu hanya saja itu jarang dilakukan oleh banyak orang.


"Kau seperti orang yang tersiksa di sini. Berikan senyum terbaikmu untuk foto pernikahan kita," bisik Prince dekat dengan Amora.


Amora tersenyum sinis. Dia lantas melirik ke arah Luna yang juga ikut hadir menyaksikan akad nikah pernikahan ini. Membalikkan tubuh berhadapan dengan Prince. Tangannya diletakkan di leher pria itu sambil menatapnya dalam sambil tersenyum tipis.


Prince terkejut melihat sikap Amora yang tiba-tiba. Dia lantas memegang pinggang kecil Amora yang seperti papa.


"Bagus sekali," seru seorang fotografer yang sedang mengambil foto mereka. "Tetap bertatapan seperti itu."


"Sekarang mempelai wanitanya berdiri di depan, kepalanya di sandarkan di dada mempelai pria."


Amora tersenyum penuh kemenangan pada Luna yang menatap tidak senang padanya.


"Nyatanya, dia tidak seikhlas itu untuk berbagi dirimu," kata Amora lirih yang hanya mereka berdua yang mendengar.

__ADS_1


Prince lantas melihat ke arah Luna yang langsung menampilkan senyum ketika Prince menatapnya.


"Dia sangat pandai bersandiwara," lanjut Amora.


"Apakah kau tidak?" kata Prince memutar tubuh Amora dan menciumnya tiba-tiba. Amora kembali terkejut, dia hendak mendorong tubuh. Namun, Prince mengeratkan pelukannya.


Bibir Amora terasa manis untuknya. Lembut dan masih murni. Membuatnya menikmati ciuman singkat itu.


"Apa kau ingin semuanya tahu?" bisiknya di telinga Amora.


"Breng$3k kau!" umpat Amora rendah.


Dia tersenyum pada yang lain sambil meredakan degub jantungnya yang berdetak lebih cepat.


Luna berjalan mendekat ke arah mempelai. Dia lalu memeluk Prince.


"Selamat, Sayang. Mimpi kita akan terwujud. Aku turut bahagia."


Amora melirik dengan sinis sambil menghela nafas. Dia sempat melihat wajah khawatir dari kakaknya yang ada di bawah podium. Amora menganggukkan kepala seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.


Luna mendekati Amora dan memeluknya. "Terima kasih Amora karena kau mau jadi istri kedua Prince. Sesuangguhnya kami sudah menikah secara agama, hanya saja untuk meresmikannya tidak bisa karena Kakek Liu hanya ingin kau yang menjadi cucu menantunya."


Netra Amora membelalak besar. Ternyata mereka sudah menikah sebelumnya. Pantas saja dari awal Prince akan menjadikannya istri kedua. Padahal dia yang lebih dahulu menikah dengan Prince. Dia menoleh kepada Prince meminta penjelasan.


Pria itu pura-pura melihat ke arah lain. Amora menenangkan dirinya sambil menelan saliva dengan sulit.


"Kau hanya istri tidak sahnya, yang orang tahu bahwa aku lah istrinya jadi aku yang punya power di sini. Kedudukanmu lemah."


"Setelah ini Prince akan menikahiku dengan resmi," ujar Luna percaya diri.


"Aku orang pertama yang akan memastikan kau tidak mendapatkan status itu, Luna."


"Kau! Prince...." rajuk Luna marah pada Amora.


Prince menatapnya Amora dengan tajam. Dia tidak suka dengan perkataan Amora yang seperti itu. Wanita itu seharusnya mudah dia kendalikan bukan malah terus melawannya.


"Prince hanya butuh anakku, bukan anak dalam kandunganmu, bukankah seperti itu yang kau katakan Prince?" balik Amora tersenyum penuh ejekan.


Luna menatap Prince penuh tanda tanya. Sedangkan Prince mencari jawaban yang tepat untuk Luna.

__ADS_1


__ADS_2