Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab.8 Obatmu adalah aku


__ADS_3

Tiga hari Amora tinggal di villa milik keluarganya. Dia menemukan ketenangan di sana dan dia bisa berpikir apa yang terbaik untuknya ke depan.


Dia sadar jika Prince bukanlah hidupnya dan dia juga tidak bisa dikatakan jatuh cinta sepenuhnya pada pria itu. Bahkan kini dia sangat membencinya.


Mendadak rasa sakit menyerang tulang punggungnya bagai tertusuk benda tajam.


"Akh," pekiknya kesakitan terdengar keras.


Gangguan pernapasan mulai menyerangnya sambil batuk kecil dan rasa sesak di bagian dada. Lalu keluar banyak keringat dingin sebesar biji jagung, dia mulai merasakan sulit bernapas, hingga kulit membiru. 


"Amora, apa yang terjadi padamu," tanya Essa khawatir. Bik Yuni lantas masuk belakangan.


"Nona," teriak Bik Yuni panik. Dia langsung mencari tas Amora tempat dia menyimpan obat.


Amora menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya yang sakit. Matanya memerah dan berair.


"Ya Tuhan, obatnya Nona?"


"Hilang ... entah dimana ... aku sudah mencarinya tapi ... tidak ada," ujar Amora tersendat-sendat, kesulitan berbicara.


"Dia kenapa?" tanya Essa tidak mengerti.


"Kita bawa saja ke rumah sakit," ujar Essa khawatir memeluk adiknya yang sudah lemas.


"Tidak bisa. Rumah sakit hanya bisa mengurangi rasa sakitnya tapi tidak bisa mengobati. Hanya Tuan Prince yang mempunyai obat itu."


"Apakah dia sakit karena racun yang dulu pernah menyerangnya, bukankah dia seharusnya sudah sembuh."


"Belum sepenuhnya, Tuan muda. Nona tidak pernah sakit lagi setelah rajin minum suplemen yang Tuan Prince berikan. Namun, karena mereka bertengkar jadi Tuan Prince tidak memberikan suplemen itu lagi."


Essa meninju tembok dengan keras. Dia ingin Amora selamat tapi dia tidak rela jika Prince yang akan menolongnya. Pria itu pasti ingin agar Amora menjadi istrinya sebagai bayaran.


"Biarkan aku mati saja daripada harus meminta bantuannya," ujar Amora yang sakit hati pada Prince yang telah ingkar dengan janjinya.


"Tidak Amora," ujar Essa dilema. Hanya Amora satu-satunya keluarga yang dia miliki.


Setengah jam kemudian Essa menggendong Amora masuk ke Mansion Paradise milik keluarga Liu.


"Prince, dimana kau!" teriak Essa dengan wajah panik dan frustasi.

__ADS_1


Kakek Liu terlihat datang terlebih dahulu. "Nak Essa, apa yang terjadi. Oh, Amora, dia sakit?"


"Penyakitnya kambuh lagi dan hanya Prince yang punya obat itu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak melihat keadaan adik yang dia sayangi seperti ini.


"Letakkan di sini," ujar Kakek Liu. Dia lantas melihat ke arah pelayan. "Panggil Prince di atas."


"Aku disini Kakek," ujar Prince berjalan dengan tenang.


"Prince tolong adikku, dia ...," Essa mengusap pipinya yang basah.


"Bukankah katamu kau tidak butuh aku dan ingin membatalkan perjanjian kita, jadi untuk apa aku membantumu," ujar Prince.


"Prince, kau tidak bisa berbuat begini pada Amora. Lihat kondisinya, tubuhnya mulai membiru."


"Dulu aku membantunya karena dia adalah calon istriku. Namun, kemarin dia memutuskan hubungan kami secara sepihak. Kakek melihatnya bukan?" ujar Prince tenang.


"Dasar, anak nakal. Tidak seharusnya kau berbuat seperti ini, sekarang yang penting adalah keselamatannya. Berikan obat itu pada Amora," perintah Kakek Liu.


Amora yang mulai tersadar mendengar perdebatan itu. Dengan berat, dia membuka matanya.


"Biarkan aku mati saja daripada menikah dengannya," ujarnya. Suasana menjadi tegang.


Essa yang melihat itu lantas menjadi putus asa. Dia melihat Prince yang nampak tidak perduli dengan keadaan Amora.


Dia lalu menekuk dua kakinya ke belakang sambil menunduk. "Kak Prince, kumohon tolong adikku. Aku berjanji setelah ini dia akan menikah denganmu."


Prince menghentikan langkahnya.


"Walau dia akan menderita bersamamu, setidaknya dia hidup dan aku masih bisa melihatnya. Namun, jika dia sudah tidak ada, aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini," lanjut Essa pasrah. "Dia hanya ingin menjadi satu-satunya istrimu."


Prince membalikkan tubuhnya. Dia mendekat ke arah Amora yang lemah dengan wajah membiru karena pasokan oksigen ke paru-parunya mulai berkurang.


"Bukankah dulu sudah pernah kukatakan, jika hidupmu itu menjadi milikku. Kau tidak akan pernah bisa pergi jauh dariku," ujar Prince memasukkan obat ke mulut Amora. Namun, wanita itu menolak membuka mulutnya.


"Ck, kau memilih mati daripada menikah denganku," ujar Prince lagi sakit hati karena penolakan Amora.


Dia meminta segelas air dari pelayan. Lantas meminum obatnya dan diberikan pada Amora melalui sebuah ciuman.


Semua orang memalingkan wajah melihat adegan itu. Amora membelalakkan matanya dengan lebar. Ini ciuman pertamanya dan dilakukan dengan seperti ini. Sungguh tidak elegan dan romantis seperti yang dia pikirkan.

__ADS_1


Amora terbatuk setelahnya dan Prince menatapnya dalam.


"Keras kepala."


"Biarkan Amora berada di sini dan kau boleh pulang. Besok kau boleh kembali melihatnya," ujar Prince menggendong tubuh kurus Amora yang lemah. Meninggalkan Essa dan Kakeknya di ruangan itu.


"Kakek Liu," panggil Essa.


"Amora akan aman di sini," ujar Kakek Liu. "Aku tidak akan membiarkan Prince melukainya. Relakan mereka bersama karena sejatinya mereka telah berjodoh dari dulu."


Essa menganggukkan kepala. "Hanya saja .... Anda tahu sendiri masalahnya."


"Aku juga tidak terlalu suka dengan Luna. Namun, aku tidak bisa mencegah jika Prince mencintai Luna bukan Amora. Namun, aku hanya ingin Amora menikah dengan Prince dan aku yakin gadis itu bisa menangani Prince dengan baik. Hanya butuh waktu dan kebersamaan saja secara intens."


Essa tertegun. Tadinya dia sangat tidak suka ketika harus memberikan Amora pada Prince. Dia juga marah pada Keluarga Liu yang malah menyarankan agar Prince menikah dengan dua wanita sekaligus. Namun, mendengar pernyataan Kakek Liu membuatnya sadar bahwa Amora akan dihargai di sini karena Kakek Liu menyayanginya.


"Prince pria dewasa yang telah matang secara psikis dan Amora masih gadis muda dengan pemikiran yang belum dewasa dan tahu apa yang baik dan tidak untuknya. Jadi akan sulit untuk menyatukan mereka. Namun, aku berharap suatu hari nanti mereka akan menemukan kecocokan dalam kebersamaan mereka."


"Walau keduanya menikah dengan terpaksa tapi jika cinta datang maka keterpaksaan itu akan pudar dengan sendirinya. Prince hanya belum sadar betapa istimewanya Amora dibanding dengan wanita lain."


"Saya sekarang mengerti maksud Kakek."


"Pernikahan tetap akan dilakukan dua hari lagi. Kau harus bersiap untuk itu."


"Baik Kakek," ujar Essa.


Sedangkan Prince meletakkan Amora di kamarnya dengan lembut.


"Kenapa kau tidak biarkan aku mati saja sehingga bisa menikahi Luna dengan bebas."


"Akan lebih menyenangkan jika menyiksamu lebih lama dan membiarkan kau melihatku menikahi kau dan Luna dalam waktu bersamaan."


"Iblis!" umpat Amora kesal.


"Terserah apa yang akan kau katakan. Hanya saja kau harus selalu ingat jika yang menentukan kau hidup atau mati itu aku Amora. Kau ada dalam genggamanku dan bergerak sesuai dengan perintahku."


"Aku tidak akan pernah menjadi bonekamu. Namun, jika kau tetap akan membuat aku menjadi istrimu maka akan kupastikan kita hidup dalam neraka bersama karena aku juga tidak akan membiarkan kau hidup bahagia dengan Luna diatas penderitaan dan rasa sakitku."


"Aku akan menunggunya, calon istri kecilku."

__ADS_1


__ADS_2