
"Amora, bangun. Bukankah kau kemarin sudah bolos kerja? Kenapa sekarang kau masih tidur? Ini hampir saja terlambat. Bangunlah, aku sudah membuatkan sarapan untukmu." Essa menggoyangkan tubuh adiknya yang masih terbungkus oleh selimut.
Ia menarik napas. Sebab Amora masih saja tidak mau bangun. Tubuh itu terus saja menggeliat dan akhirnya kembali hening. Essa menggelengkan kepala melihat adiknya yang bagai orang mati ketika tidur.
"Amora, ini sudah siang. Apa kau mau tidur terus? Kau tidak bekerja?" Essa tidak menyerah.
Ia beralih pada kaki Amora yang tidak terbungkus selimut. Menggelitikinya pelan hingga Amora kesal dan memposisikan diri untuk duduk di ranjang. Wanita itu mengusap matanya. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kedua matanya masih belum terbuka lebar.
"Hei! Kenapa malah diam? Apa kau tidak bekerja? Ayolah, buka lebar kedua matamu, Ra," kesal Essa.
"Apaan sih, Kak? Ck! Aku hanya izin dua hari tidak bekerja. Kenapa kau cerewet sekali? Sebentar lagi saudaraku akan pergi jauh dariku untuk mengejar mimpinya. Mungkin saja kami berdua akan bertemu lagi entah kapan. Bagaimana bisa aku tega membiarkannya pergi tanpa menghabiskan waktu bersama terlebih dahulu? Aish, Kakak tidak seru!" Amora menggerutu.
Wanita itu mau tak mau akhirnya turun dari ranjang. Ia menuju ke kamar mandi. Meninggalkan Essa yang termenung di tempatnya. Essa bagai tertampar kenyataan. Sebab memang sudah dua hari ini Amora tidur di rumahnya.
"Kak? Apa kau baik-baik saja?" Entah sudah berapa lama Amora mandi. Namun Essa tetap berada di kamar Amora. Essa tersenyum.
"Maaf. Kakak tidak sadar kalau hari ini kakak akan meninggalkanmu," kata Essa.
Amora sejenak terdiam. Tak lama kemudian ia duduk di samping Essa. "Amora akan baik-baik saja di sini. Kakak seharusnya tidak perlu khawatir. Akan lebih baik kalau Kakak bisa mempersiapkan diri dengan baik karena sebentar lagi akan pergi ke Qatar. Ingat, Kakak ke sana untuk mengikuti lomba balap motor. Amora tidak ingin membuat Kak Essa merasa terbebani. Jangan, lebih baik Kak Essa fokus pada karir Kakak."
__ADS_1
"Kau pikir kakak bisa tenang? Kau hidup bersama laki-laki yang memiliki istri lain. Dan wanita itu lebih dicintai oleh suamimu. Bagaimana kakak tidak ikut sakit hati, Amora? Katakan kepada kakak, apakah kau bahagia dengan pernikahan itu?" Essa menyentuh kedua bahu Amora. Tampak Amora bimbang dan bingung hendak menjawab apa.
Amora tahu, bahwa Essa sangat menyayanginya. Namun, Amora juga tak mampu untuk meyakinkan Essa bahwa sejauh ini ia baik-baik saja. Meskipun Amora belum memiliki perasaan apapun pada Prince, tapi Amora terkadang juga merasakan sakit hati lantaran Luna terus memprovokasinya.
"Aku tidak bisa melihat masa depan, Kak. Tapi aku yakin, kalau sejauh ini aku masih baik-baik saja. Entah itu kapan, aku pasti akan bahagia dengan jalan yang telah ku pilih. Ayolah, Kak. Amora bukan anak kecil lagi. Dan juga jangan kasihan padaku. Astaga." Amora berusaha menenangkan sang kakak.
Sebab Essa sebentar lagi akan terbang ke negara Qatar. Amora tidak ingin Essa terlalu khawatir padanya. Itu akan mengganggu perjalanan panjang Essa terbang ke negeri tetangga. Amora mencoba untuk tersenyum.
"Sebenarnya aku sedang kesal pada Prince. Laki-laki mesum itu setelah bermain denganku dia pergi ke tempat Luna. Apa dia tidak puas jika dalam semalam hanya bermain bersamaku? Awas saja! Aku akan membalas dendam. Pokoknya, hati Prince harus jatuh ke tanganku!" Amora bertekad dalam hati.
Essa menatap adiknya dengan lekat. Amora sudah jauh lebih dewasa. Hanya saja pilihan hidupnya, membuat Essa sedikit tidak rela. Bahwasanya Amora harus hidup berbagi suami. Essa khawatir bila adiknya itu akan kecewa karena Prince mengabaikannya.
"Mungkinkah dia kesal sebab Amora memilih menginap di rumahku? Itu salahnya. Mengapa harus menjadikan Amora sebagai madu dalam rumah tangganya? Setiap kali aku melihatnya aku selalu saja kesal." Essa terus membatin kesal.
Meskipun Prince datang dengan senyuman di bibirnya, tapi Essa cukup peka. Essa tahu kalau Prince kesal sebab Amora menginap di rumahnya. Amora berdehem untuk mengakhiri tatapan mata antara Essa dan Prince. Dua laki-laki itu pun dengan cepat menoleh kepadanya.
"Amora!" Prince tersenyum canggung saat ia baru mengetahui jika Essa berada di dalam kamar Amora.
"Halo, Kak Essa!" Prince menyapa Essa terlebih dahulu.
__ADS_1
Laki-laki itu mencoba bersikap ramah. Essa menjawab dengan anggukan kepala. Ia malas bila harus menanggapi Prince. Laki-laki yang berstatus suami dari adiknya dan juga ia telah menduakan adiknya.
"Kak Essa, kau belum menjawab tawaran yang tempo hari kita bahas. Tentang pinjaman uang 30 milyar untuk proyek usaha yang akan Kakak Ipar kerjakan," ucap Prince.
"Aku tidak menerima tawaran pinjaman yang kau berikan. Mengapa kau masih saja bersikeras?" ketus Essa.
"Kenapa Kak Essa menolak? Bukankah ini tawaran yang bagus?" tanya Prince.
Essa terkekeh. Membuat dahi Prince mengerut. "Aku lebih baik menolak bantuanmu. Pinjaman yang kau tawarkan bernilai fantastis. Aku memang membutuhkan dana untuk modal. Tapi maaf. Aku juga tidak ingin membuat Amora menjadi jaminan. Amora adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Bagiku kebahagiaan Amora adalah prioritasku sekarang."
"Tapi, apa kau tidak tahu kalau bukan hanya Amora saja yang sakit hati karena kau menduakannya? Aku sebagai kakaknya merasakan sakit hati yang luar biasa. Adik kesayanganku harus menjadi madu walaupun statusnya sebagai istri sahmu. Jangan kira aku tidak tahu hal besar apa yang kalian berdua sembunyikan ini, Prince," tandas Essa.
"Dari mana Essa tahu kalau aku menduakan Amora? Apa Amora yang mengatakannya? Itu mustahil." Prince membatin bingung. Meski begitu ia mencoba untuk tetap tenang.
"Kak Essa, aku sungguh serius dengan Amora. Aku tidak akan menyakitinya, aku janji!" Prince mencoba meyakinkan Essa bahwa ia tidak akan menyakiti Amora.
"Memangnya siapa yang tahu? Tanpa kau sadari kau sudah menyakiti Amora. Prince, apa aku boleh meminta sesuatu darimu?" Tiba-tiba nada suara Essa berubah lembut. Prince sedikit curiga. Namun, ia masih bersikap biasa-biasa saja.
"Aku minta tolong padamu. Tolong ceraikan Amora kalau kau tidak serius mencintainya. Biarkan dia bahagia dengan laki-laki lain dan menjadi satu-satunya cinta dalam bahtera rumah tangga mereka. Bukan seperti yang sekarang ini. Adikku lebih pantas untuk bahagia bersama laki-laki lain." Essa pun menangkupkan kedua tangannya ke depan dada bidangnya seperti memohon pada Prince.
__ADS_1
Amora hanya diam menatap kedua orang itu. Ia sendiri bingung bagaimana ia harus menghentikan perdebatan tersebut. Terlebih sang kakak sangat membenci Prince.