
Mobil memasuki rumah keluarga Liu. Mobil itu adalah mobil yang dinaiki oleh Amora dan Prince. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah keluarga Liu.
Pintu terbuka dan Kakek Liu terlihat berjalan keluar dengan bantuan tongkatnya. Dia tersenyum lega setelah melihat Prince membawa Amora kembali.
Prince keluar terlebih dahulu. Seseorang hendak membukakan pintu untuk Amora tapi Prince melarangnya. Dia yang membuka sendiri pintu mobil untuk Amora.
Amora keluar dari mobil sambil melepaskan kacamata miliknya. Bik Yani pengasuh yang dulu merawat Amora di rumah juga ada di rumah ini membuat Amora terkejut.
"Bibik ada di sini?" tanya Amora memeluk wanita paruh baya itu.
"Aku yang membawanya kemari agar kau tidak kesepian berada di rumah ini. Dia akan membantu menyiapkan semua kebutuhanmu," terang Prince.
"Non, Amora, saya senang melihat Anda lagi."
"Tidak usah sungkan seperti itu padaku , Bik. Seperti biasanya saja," ujar Amora senang. Bik Tinah menganggukkan kepalanya.
"Amora, aku senang sekali melihatmu lagi." sapa Kakek Liu. Amora membalas pelukan Kakek Prince itu.
"Aku juga merindukan Kakek.
"Anak nakal, pergi tidak pamitan dulu pada Kakek tua ini. Kau tidak tahu jika kelakuanmu ini bisa membuat ku mati berdiri karena jantungan."
"Jangan mengatakan itu, Kek. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi," ujar Amora.
Prince mendekati Amora dan memeluk pinggangnya. "Ayo masuk, kau pasti sangat lelah."
Amora mengikuti arahan Prince.
Bik Yani menatap khawatir pada Amora. Dia takut Amora tidak bisa menerima sesuatu yang ada di dalam sana. Dia dan Kakek Liu saling menatap. Mereka berdua lantas masuk ke dalam rumah.
"Duduklah," ucap Prince tenang. Dia menyerahkan segelas air minum yang dibawakan oleh seorang pelayan.
"Minum ini dulu," kata Prince. Amora merasa aneh dengan perhatian berlebih dari Prince. Namun, dia menyukainya. Mungkin Prince lakukan karena ingin menjaga kehamilannya.
Amora menarik nafas sambil tersenyum. Kakek Liu duduk di kursi kebesarannya sambil menatap ke arah Amora.
"Bagaimana perjalananmu Amora?"
__ADS_1
"Baik, sangat baik dan lancar karena kami memakai pesawat jet," jawab Amora. Kakek Liu menganggukkan kepalanya.
Mendadak terdengar suara tangis bayi. Amora mengernyitkan dahinya. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh rumah ini. Indera pendengarannya dia tajamkan.
Matanya melebar ketika melihat seorang berpakaian pink berjalan menggendong seorang anak. Dia menoleh ke arah Prince tanpa mengatakan apapun.
Prince menarik nafas panjang dan menunduk. Sedangkan wajah tegang terlihat di raut muka Bik Yani.
"Ada apa ini? Apa yang kalian sembunyikan?" Tanya Amora.
"Aku tidak menyembunyikan apapun. Bik, bawa Cinta kemari."
Amora semakin tidak mengerti. Pikirannya kosong seketika. Dia takut menebak sesuatu hal. Pandangannya kini tertuju pada sosok kecil dibalik kain dalam gendongan orang yang dipanggil Bik oleh Prince.
Tenggorokannya terasa kering seketika. Dia menghabiskan minumannya dengan sekali teguk sambil menatap kosong ke arah lain.
"Amora, dia adakah Cinta anakku," jelas Prince.
Amora merentangkan tangannya ke depan Prince. Dia tidak ingin mendengar alasan apapun itu. Hatinya seketika merasakan sakit yang teramat sangat. Dulu ibunya yang merusak hubungan Amora dan Prince kini akan kah anaknya juga akan menjadi duri dalam pernikahannya? Jika tahu kejadiannya seperti ini, Amora tidak ingin kembali pada Prince.
Amora menekan kedua matanya dengan tangan kuat. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Prince, tapi setelah hamil dirinya menjadi sensitif dan mudah menangis.
"Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku lelah mau istirahat dulu," ujar Amora langsung berjalan melewati Cinta yang sedang menangis. Dia sama sekali tidak melirik apalagi melihat pada anak itu.
Prince meminta baby sister Cinta untuk menenangkannya. Bik Yani menggendong Cinta untuk menenangkannya.
"Temui Amora dan jelaskan padanya.
Prince mengangguk lantas pergi menemui Amora. Sejenak dia berdiri di depan kamar mengatur emosinya. Setelah tenang dia baru masuk ke dalam dengan membuka pelan pintu.
"Amora, kau baik-baik saja?" tanya Prince melihat Amora yang berdiri diam di depan balkon kamar.
Prince mendekati Amora.
"Maaf jika aku tidak menceritakan ini terlebih dahulu padamu. Aku takut kau akan menolak ajakan ku jika tahu, ada Cinta di sini."
Terang Prince sekali lagi.
__ADS_1
"Aku sudah berpisah dengan Luna ketika terakhir kali kita ... kau tahu."
"Hanya saja, aku tidak bisa mengabaikan Cinta karena dia memang anakku, Amora. Aku mohon kau bisa mengerti. Bila sekarang tidak bisa, aku akan menunggu kau menerima ku dan Cinta."
Prince mengusap wajahnya kasar. "Akh, aku tidak tahu mana yang baik dan benar. Yang kutahu adalah aku mencintaimu dan tidak ingin berpisah denganmu," terang Prince.
Amora hanya terdiam. Tidak memberikan respon sama sekali. Dia teringat kata-kata Prince pada Luna yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai Luna. Apakah karena itu, dia ingin membawa anaknya kemari, untuk mengenang cinta Luna.
Ini menyakitkan untuk Amora, terasa tidak adil. Seharusnya dia bisa bahagia, tapi kenyataannya kebahagiaannya selalu tersandung masalah yang membuat kedekatan dia dan Prince menjadi semakin jauh.
Luna adalah Cintanya dan Anak itu adalah bukti cinta mereka. Lalu apa Amora bagi Prince? Pikir Amora.
Pria selalu berbohong dengan mengatakan cinta pada seorang wanita. Nyatanya, mereka hanya membual.saja tidak benar-benar bisa mencintai dengan penuh.
Baru tiga bulan Prince mencarinya? Kenapa butuh waktu selama itu? Apakah dia perlu menimbang untuk kembali pada Luna atau Amora? Kenapa semakin memikirkannya membuat Amora merasa semakin gelap.
Prince memberanikan diri maju agar dia bisa lebih dekat dengan Amora
Dia sudah merasa ini pasti akan terjadi. Baru saja mereka bahkan kini mulai lagi timbul perang antara mereka.
"Amora aku mohon katakan sesuatu, kau membuatku takut dengan kediamanmu ini," cetus Prince.
Amora menarik nafasnya dan membalikkan tubuh. Dia mencoba tersenyum tapi yang terlihat malah menakutkan untuk Prince.
"Ini rumahmu, kau bebas membawa siapapun dari manapun untuk masuk ke rumah ini. Bahkan jika kau membawa seratus wanita pun tidak akan masalah. Aku tidak punya hak untuk mengatakan tidak atau apapun."
"Amora."
Amora menggelengkan kepalanya.
"Jangan katakan apapun Prince karena kata-katamu hanya akan membuat ku sakit."
"Berikan aku waktu untuk berpikir, jangan meminta apapun padaku, Yakinlah, aku tidak akan sanggup memenuhi permintaanmu itu."
Prince ingin memegang tangan Amora namun wanita itu menyingkir, menjauh dari Prince.
"Jangan sentuh aku sebelum aku memperbolehkannya. Jika kau masih memaksa maka aku akan mengajukan perceraian kita ke pengadilan. Entah kau akan menerima atau tidak, aku tidak peduli!''
__ADS_1