
"Nyonya, Tuan Besar menyuruh saya untuk membawakan ramuan ini untuk Anda," ucap salah seorang pelayan yang berdiri di depannya. Amora menghela nafas panjang.
Amora menatap ke arah mangkuk putih kecil dengan cairan berwarna coklat gelap. Mengatup mulutnya rapat sambil matanya bergerak berpikir.
"Aku akan meminumnya nanti," ucap Amora sambil tersenyum terpaksa. Dia mengambil mangkuk itu dan meletakkannya di atas meja.
"Saya diperintahkan untuk Anda meminumnya terlebih dahulu baru saya keluar."
Amora menundukkan kepalanya. Dia paling tidak bisa menolak Kakek Liu karena sedari ayahnya tiada, dia yang paling menolongnya ketika menemui kesulitan.
'Kau jangan takut dengan siapapun selama Kakek masih ada. Walau kita tidak punya ikatan darah, tapi Kakek akan terus menjagamu sampai kakek tiada.'
Bahkan ketika Nenek Tara meminta agar uang yang diterima dari saham orang tua Amora di perusahaan Mountain di urus olehnya. Kakek Liu yang dengan tegas melarang. Dia menyerahkan hak itu sepenuhnya pada Amora karena hanya dia yang perduli itu daripada Kakaknya, Essa.
Amora akhirnya minum itu dengan sekali teguk. Pelayan suruhan kakek Liu lantas pergi keluar kamar. Seketika Amora langsung ke kamar mandi dan mengodek mulutnya, berusaha memuntahkan cairan yang dia minum tadi.
Dia tidak akan membiarkan pria itu menyentuhnya selama ada wanita lain di antara mereka.
Setelah dirasa sudah memuntahkan semua isi perutnya, Amora masuk ke dalam kamar. Dia melihat Prince sedang memakai kemeja dan tengah bersiap akan pergi. Setelah di rasa rapi pria itu mengambil sesuatu dari dalam laci bawah nakas dekat dengan tempat tidur.
Sebuah pistol. Amora terkejut, memegang dadanya. Pria itu membidikkan senjata itu tepat ke dada Amora. Wajah Amora seketika memucat. Prince menarik pelatuk.
__ADS_1
Tidak terjadi apapun karena pistol itu kosong.
"Kau takut juga," ucapnya dingin lantas mengeluarkan wadah peluru dan mengisinya dengan yang baru.
Amora duduk dengan lemas.
"Aku mau pergi, ada pekerjaan penting," ungkap Prince memasukkan pistol yang di selipkan di celana belakangnya.
"Pergi lagi?" ulang Amora. "Bagaimana kalau Kakek marah?"
"Kau benar." Prince nampak berpikir sejenak.
"Kau ikut saja," lanjutnya.
"Kau akan tahu. Ramuan dari kakek sudah kau keluarkan kan? Aku tidak menyangka kau sangat pintar."
Prince tersenyum pada Amora. Dia lantas mengambil satu gaun malam panjang tanpa lengan dan dengan belahan rendah.
"Pakai ini!" lemparnya pada Amora.
Amora meringis melihat bagian dada yang rendah.
__ADS_1
"Kau yakin?" tanyanya ragu.
"Pakai itu atau kutinggal pergi!"
Amora menghela nafas. Kali ini dia harus mulai bermain cantik. Tidak ada yang boleh merendahkan keluarga Chandra atau bermain-main dengannya. Jika dia tidak bisa merebut Prince dari Luna, maka dia bukan keturunan Chandra.
Amora masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia keluar dengan tampilan baru.
Prince melongo melihatnya. Gaun panjang itu berubah menjadi pendek.
"Kau nakal!" ucap Prince dingin.
"Kau yang buatku nakal!" ujar Amora memakai sepatu hak tinggi untuk menyempurnakan penampilannya.
"Ayo...," ajak Amora hendak keluar kamar.
Prince tidak mengatakan apapun tapi mengambil jaket berbulu untuk menutupi bahu Amora yang terbuka.
Mereka lantas keluar kamar. Di lorong mereka sempat bertemu dengan Kakek Liu.
"Kalian mau kemana?'' tanya pria tua itu.
__ADS_1
"Aku akan mengajaknya ke hotel, sepertinya itu akan lebih nyaman jika dilakukan di sana," terang Prince.
"Baiklah kalau begitu. Selamat bersenang-senang."