Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 29


__ADS_3

Pagi hari ketika Amora bangun dia melihat Prince sudah rapih dengan pakaian jasnya. Dia menyematkan jam di tangannya.


Amora menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Namun, Prince nampak tidak perduli.


"Sshh ...." desis Amora. Dia bangkit sambil menahan sakit yang menyerang sekujur tubuhnya.


Prince melirik untuk sesaat. Dia lantas mengambilkan segelas air dan obat yang diberikan pada Amora.


"Ini untuk meredakan sakitmu," katanya dingin.


Amora mengabaikannya. Dia memilih bangkit untuk membersihkan diri. Selimut dia gunakan untuk menutupi tubuhnya dan tarik hingga memasuki kamar mandi. Melewati Prince yang nampak tidak perduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Amora.


Lama Amora di kamar mandi, menatap tubuhnya yang penuh dengan tanda kemerahan yang Prince ciptakan. Seharusnya itu menjadi malam yang indah, namun menjadi saat paling kelam bagi hidupnya. Bahkan itu lebih sakit dari penyakit yang dia derita.


"Kau akan menyesalinya Prince, namaku bukan Queen Amora Chandra jika tidak bisa membuatmu bersujud dan meminta maaf padaku. Luna, kehancuranmu hanya menunggu waktu."


"Kita mulai permainan kini." Amora tersenyum sinis menatap ke cermin. Dia bukan wanita lemah yang hanya bisa menatap sedih dan merenungi nasibnya. Hidupnya mungkin tidak akan panjang dan dia tidak ingin menghabiskannya hanya dengan menangisi nasibnya.


Amora keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja. Dia lantas berjalan di depan Prince dengan percaya diri. Seolah malam tadi tidak berarti apapun baginya.


Prince yang sedang menunggunya turun ke bawah melirik. Saat itu dengan santainya Amora melepaskan handuk dan memakai pakaian di depan pria itu tanpa canggung.


Prince menelan salivanya. Walau dia tidak mencintai wanita itu, namun dia pria normal yang akan menegang bila melihat keindahan dari wanita.


Prince bersikap seolah tidak perduli. Namun, celananya mulai terasa sesak. Amora lantas berhias untuk bersiap pergi ke kantor bersama suaminya.


"Jika kau merasa lelah dan tidak enak badan kau bisa istirahat di kamar dalam ruangan ku," ujar Prince.


Perkataan Prince tidak digubris sama sekali oleh Amora. Wanita itu asik mengoleskan warna di bibirnya yang kecil namun berisi. Lalu memainkan bibirnya.


Prince teringat dengan kemurnian bibir Amora tadi malam. Rasanya manis dan lembut. Kepalanya digelengkan seketika. Ini gila.


"Aku dengar kau butuh uang untuk Essa. Kenapa kau tidak memintanya padaku?" tanya Prince lagi. Dia tahu Amora masih marah dan mungkin benci padanya. Namun, dia tidak perduli dengan itu.


"Itu urusan keluargaku," jawab Amora.

__ADS_1


"Kau juga dengan pandainya membuat Pamanmu membayar hutangnya padamu," ujar Prince.


Amora tersenyum licik terlihat jahat, hal itu bisa Prince lihat dari pantulan cermin.


"Aku bisa menghancurkan siapapun yang mencoba bermain denganku."


Entah mengapa perkataan Amora itu membuat bulu kuduk Prince merinding. Namun, pria itu tertawa untuk mengatasi rasa gugupnya.


"Aku tidak menyangka kau sepandai itu."


Amora menoleh ke arah Prince dan tersenyum. "Terimakasih atas pujianmu. Melawan orang licik harus dengan licik pula. Pakai otak bukan otot. Yang harus kau ingat adalah wanita ahlinya dalam memanipulasi situasi."


Prince terdiam sejenak, tahu dengan sindiran Amora yang tajam dan ditujukan padanya.


"Aku mau tanya, kau masih butuh uang tambahan lagi tidak. Aku yakin, jika uang dari Joko belum cukup untuk Essa."


Amora menghentikan kegiatannya.


"Tadinya, aku tidak mau menggunakan uang sejuta dolar yang kau berikan untuk bisa menikahiku. Aku akan mengembalikannya ketika kita berpisah nanti. Itu jika kau tidak menyentuhku. Namun, sekarang aku akan mengambilnya sebagai kompensasi rasa sakit yang kau berikan."


"Berapa yang Essa butuhkan?"


"Dua juta dolar, Satu setengah juta dolar sudah kumiliki tinggal setengah juta dolar lagi."


"Aku akan memberikan uang yang kau butuhkan saja. Biarkan uang yang kuberikan sebagai mahar itu menjadi milikmu," ujar Prince.


"Tidak, aku bisa memperolehnya sendiri dengan jerih payahku."


"Anggap saja aku membayar pelayananmu tadi malam," balik Prince. Dia bangkit mendekati Amora dan mengulurkan tangan.


"Kurang ajar kau," maki Amora kesal.


Prince mengungkung dan menatapnya dalam. "Selama kau menjadi istriku, kau adalah tanggung jawabku. Kesulitanmu sebisa mungkin aku atasi, tanpa kau minta."


"Kalau begitu, bisakah kau lepaskan Luna karena dia adalah kesulitan ku untuk memperoleh kebahagiaan," ungkap Amora balik menatap Prince berani. Untuk sejenak mereka beradu tatap hingga Prince yang memutuskannya.

__ADS_1


"Sudah kukatakan jika aku bukan kebahagiaanmu Amora. Cinta itu tidak bisa dipaksakan jadi untuk apa kita memaksakan diri untuk bahagia padahal tidak."


"Prince kau baru mengenal Luna, belum mengenalku dengan baik. Selama ini kau hanya melihatku sebagai gadis cilik. Nyatanya, aku sudah berubah menjadi dewasa. Aku tidak akan memaksa dirimu untuk bisa mencintaiku karena aku yakin kau tetap akan memilihku dibanding Luna suatu saat nanti," kata Amora percaya diri.


"Kenapa kau sangat percaya diri?" tanya Prince.


Jari telunjuk Amora mulai menyelusuri leher keras milik Prince.


"Karena aku tahu kemampuanku dan aku tidak pernah kalah dan mengalah dari siapapun."


"Aku suka itu," kata Prince tertawa jahat.


"Kata orang, pria baik akan bertemu dengan wanita baik pula. Aku merasa kau itu pria jahat jadi aku akan menjadi jahat untuk bisa bersamamu." Amora menarik kerah leher Prince dan mulai menciumnya. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


Ciuman itu terasa kaku membuat Prince tidak sabar. Dia lantas ******* bibir Amora rakus hingga wanita itu gelagapan dan kehabisan nafas.


Prince melepaskan tautan bibir itu dan tersenyum penuh kemenangan. "Jangan menggodaku Amora," ujarnya. Dia lalu pergi meninggalkan Amora sendiri di kamar itu.


"Kau salah jika mau membuangku demi wanita murahan itu, Prince. Aku yang akan menyadarkanmu dengan caraku sendiri."


***


Sepanjang hari mereka bersama di kantor Prince tidak lepas dari menatap Amora. Wanita itu memang cerdas. Bisa langsung masuk dan berbaur dengan yang lain. Dia juga menjadi asisten yang cekatan bagi Prince. Bahkan dia menyelesaikan satu laporan yang tadi sempat salah dikerjakan oleh sekretarisnya dan menerangkan isinya di depan para tamu dari perusahaan lain yang akan bekerjasama dengannya.


Semua orang menatapnya kagum. Bahkan Prince sangat tidak suka ketika seseorang memandangi tubuh Amora dengan liar. Dia pria, tentu tahu pikiran pria lainnya.


"Amora, duduklah di sini, biar urusan keuangan yang akan menjelaskannya."


"Tapi?" Prince menatapnya tajam.


"Baik, Pak." Amora duduk di sebelah Prince. Tangannya dia letakkan di belakang tubuh Amora memberi tanda jika Amora itu adalah istrinya.


"Besok jangan pakaian ketat seperti itu dan pakai celana panjang. Kau itu sedang bekerja bukan memamerkan tubuhmu pada semua orang!" bisik Prince, meletakkan sebuah map di atas paha Amora yang sebagian terlihat karena rok yang dia pakai itu bermodel span pendek.


Amora bingung dengan reaksi Prince itu.

__ADS_1


__ADS_2