
Lima bulan kemudian.
Amora sedang menemani Cinta bermain. Anak itu, sudah mulai bisa berdiri dan merambat di tembok serta kursi dan meja.
Amora sudah merasakan perutnya tidak enak sedari kemarin hanya saja dia mengira jika itu hanya kontraksi kecil yang biasa ibu hamil alami ketika hamil besar.
"Cinta, kemari bersama dengan Ibu," perintah Amora mengulurkan tangannya pada Cinta.
"Bu … Bu … Bu," ulang Cinta. Di umur itu Cinta sudah mulai bisa melafalkan beberapa kata. Dia lantas berdiri sendiri lalu mencoba melangkah tanpa berpegangan.
Tapi baru mencoba melangkah dia terjatuh. Cinta mencoba bangkit dari duduknya untuk membantu Cinta tapi perutnya terasa mulas.
"Sshhh," desis Cinta memegang perutnya.
Cinta yang hendak menangis terdiam ketika melihat ibunya seperti menahan sakit. Dia dengan cepat merangkak mendekati Cinta.
"Bu, atit?" tanyanya.
Amora tersenyum, terharu melihat perhatian Cinta. Dia menggelengkan kepala sambil menahan rasa nyeri yang melilit perutnya.
"Ibu kenapa?" tanya seorang pelayan yang sedang membawakan potongan buah untuknya.
"Entahlah, perutku rasanya tidak karuan," terang Amora.
Cinta yang melihat ekspresi kesakitan ibunya langsung memeluk dan menangis.
"Bu, atit," ucapnya.
"Ibu baik-baik saja," ujar Amora tertawa.
"Non Cinta dengan Mbak aja ya," kata pelayan itu.
Cinta menolaknya. Masih tetap memegangi Amora seraya menangis.
"Ada apa ini?" tanya Kakek Liu yang kebetulan lewat. Pria itu melihat wajah Amora yang meringis kesakitan seraya memegang perutnya. Sedangkan Cinta malah memegangi Amora sambil menangis.
"Apakah kau mau melahirkan?" tanya Kakek Liu panik.
"Entahlah, Kakek, perutku terasa tidak enak."
"Lalu kenapa anak dengan anak ini?" tanya Kakek Liu membungkuk menyentuh Cinta.
"Bu, atit," ucapnya cedal, tidak jelas.
Kakek Liu tertawa keras. "Cinta bersama dengan Mba dulu, ya, biar Buyut bantu obati Ibu."
Cinta mencebik bibirnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ibu harus diobati dulu biar tidak sakit, Cinta sama Mba Lulu," ulang Amora. "Anak baik pasti menurut pada ibunya."
Netra Cinta melihat ke semua orang lantas merangkak mendekati Mba yang sering menjaganya.
"Pelayan, ambilkan tas yang sudah Nyonya kalian siapkan itu ke mobil."
"Tapi, Tuan, sopir kita baru saja pergi mengambil galon," ujar pelayan.
"Apakah kita harus menunggunya?" tanya Amora sambil mengambil nafas panjang dan menghembuskannya.
Kakek Liu menggelengkan kepalanya.
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit dengan mobil yang dikemudikan oleh Kakek Liu.
Mereka mengira sang Kakek akan mengemudikan mobil dengan pelan. Nyatanya Kakek Liu mengendarai kendaraannya dengan cepat sehingga membuat Amora dan satu pelayan yang menemaninya di belakang duduk dengan tegang.
Rasa sakit bercampur dengan sedikit ketegangan yang mereka rasakan selama menjadi penumpang mobil itu.
"Kakek, bisakah lebih pelan sedikit," pinta Amora dengan wajah pucat.
"Iya, kakek membuat jantung kami seperti kau keluar," seru Bik Yani, pelayan Amora dari rumah lamanya.
"Kakek hanya tidak ingin kau melahirkan di mobil. Itu rumah sakitnya sudah dekat," ujar Kakek Liu.
Sedangkan Prince langsung meninggalkan rapatnya ketika mendengar jika Amora dibawa ke rumah sakit. Dia menunggu kedatangan Amora dengan cemas di pintu masuk UGD.
Prince mengenali mobil itu. Matanya terbelalak lebar. Mobil itu lantas masuk ke dalam kawasan rumah sakit dan di sambut oleh Prince.
Bik Yani langsung membuka mobil dan muntah. Prince yang melihat langsung berlari ke arah pintu satunya dan membukanya. Amora nampak duduk membeku dengan wajah pucat.
"Amora kau baik-baik saja?" tanya Prince mendekati Amora dan menggendongnya.
"Dia hanya sedikit terkejut aku bisa cepat datang ke rumah sakit ini."
Sebuah brangkar mendekat ke arah mereka.
"Kakek mengendarai mobil dengan gila, untung saja kami tidak mati," ucap Bik Yani kesal.
"Kau tidak perlu meragukan kemampuanku," lanjut Kakek Liu.
"Apakah anakku sudah lahir?" tanya Amora.
Prince bingung lalu menggelengkan kepala tidak mengerti.
"Aku kira sewaktu diperjalanan anakku lahir tanpa terasa," ujar Amora membuat Bik Yani tertawa keras.
Amora lantas dibawa ke ruang persalinan. Dokter memeriksanya.
__ADS_1
"Baru bukaan 4 jadi pasien harap sabar menunggu prosesnya," terang Dokter.
"Apanya yang bukaan empat?" tanya Prince tidak mengerti karena setahunya, Luna melahirkan dengan cepat karena melalui proses operasi. Tidak ada bukaan seperti itu.
"Bukaan jalan lahir itu sampai tingkat sepuluh, Pak. Jika sudah sepuluh baru anak bisa lahir normal jika tidak ada halangan," terang Dokter itu.
"Tapi istri saya sudah kesakitan seperti ini?"
Amora memegang tangan Prince. "Kita tunggu sampai waktunya, Sayang."
Prince mendengus tidak senang. Sebenarnya bukan dia tidak percaya pada Dokter hanya saja dia tidak tega melihat Amora kesakitan.
Kakek Liu tersenyum melihat sikap panik Prince. Terlihat jelas bagaimana anak sombong dan angkuh itu berubah ketika bersama dengan Amora. Dia menjadi perhatian sekali.
Amora merasakan kontraksi lagi, dia memegang tangan Prince kuat hingga rasa sakit itu berkurang. Kukunya yang tajam masuk ke dalam kulit Prince dan membekas. Namun, itu tidak Prince rasakan. Dia lebih khawatir dengan keadaan Amora.
Sesekali dia menyeka keringat yang keluar di wajah Amora. Mengambilkan minum atau menyuapinya makan. Sayangnya Amora merasa tidak tertarik dengan semua makanan itu. Dia hanya merasa haus.
Dokter lalu masuk lagi memeriksa keadaan Amora.
"Bagaimana Dokter?" tanya Prince dengan cemas. Dia menunggu dokter itu mengecek bagian bawah Amora. Jika saja Dokter itu bukan wanita maka Prince sudah pasti akan memukulnya karena berkali-kali di tengok dan disentuh.
"Baru bukaan enam," jawab Dokter itu.
"Baru enam? Padahal istri saya sudah kesakitan sedari tadi. Bisa-bisa tenaganya habis karena menahan rasa sakit."
"Tegang Pak, ini hal biasa yang semua ibu hamil alami ketika hendak melahirkan dengan normal."
"Kalau begitu saya mau dilakukan operasi sesar untuk istri saya," pinta Prince dengan tidak sabar.
"Untuk menuju ke bukaan sepuluh dari bukaan enam itu tidak lama, Pak, tidak sampai tiga jam jika tidak ada kendala," terang Dokter itu dengan tenang.
"Apakah ini anak pertama kalian?"
"Sebenarnya ini anak keduanya dan anak pertama saya," jawab Amora.
"Jika seperti itu seharusnya Bapak mengerti prosesnnya."
"Anak pertama saya melalui proses sesar jadi tidak mengalami ini," terang Prince.
Dokter itu lalu menerangkan jika proses normal berbeda dengan proses sesar walau begitu seluruh dokter akan mengusulkan kelahiran proses normal jika memungkinkan. Semua tergantung dengan kondisi ibu dan anak.
Prince mengangguk.
Kakek Liu yang melihat perdebatan itu merasa senang karena pada akhirnya Prince bisa menerima pernikahannya dengan Amora dan bisa mencintainya. Tidak seperti yang dia takutkan sebelumnya.
Setidaknya wasiat kedua orang tua mereka bisa dia laksanakan dengan baik. Dia berharap kehidupan Prince dan Amora setelah ini menemukan kebahagiaan yang sejati.
__ADS_1