Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 39


__ADS_3

Essa termangu mendengar pengakuan Amora. Dia memahami keputusan adiknya itu. Hanya saja jika Kakek Liu dan Prince tahu hal ini apakah tidak akan menjadi buruk nantinya?


"Baiklah, aku mengerti dengan keputusanmu."


Amora menganggukkan kepalanya.


"Kak, kau jadi pergi ke perlombaan itu?" tanya Amora.


"Ya, aku mau mengikutinya. Aku harus memenangkannya agar bisa mendapatkan banyak uang untuk modal usahaku ke depannya."


"Jika kau memang ingin menjualnya, aku tidak akan menahan hal itu. Hanya saja tawarkan dulu pada Kakek Liu," ujar Amora.


"Kita bicarakan ini nanti karena ada suatu yang ingin kusampaikan," ungkap Essa dengan wajah serius dan tegang.


"Apa Kak, kau membuatku takut saja."


"Kau kemarin memintaku untuk mencari tahu apapun tentang Luna dan mencari kelemahannya."


Amora menganggukkan kepalanya. Menunggu berita dari kakaknya dengan hati yang berdebar.


"Aku tidak tahu berita ini benar atau tidak. Namun, menurut sumber terpercaya katanya Luna ada menjalin hubungan cinta dengan seorang artis terkenal yang juga sempat sekolah di London," terang Essa. Dia memberikan handphonenya pada Amora. Di handphone itu terdapat sebuah foto Luna dengan seorang pria tampan yang seumuran.


"Bukankah waktu itu terjadi, Luna sudah bersama dengan Prince, rasanya tidak mungkin karena mereka terlihat saling mencintai satu sama lainnya. Lagipula mungkin foto ini berbohong."


"Kau itu terlalu lugu atau bagaimana? Ini informasi bagus dan seharusnya kau mencari tahu kebenarannya. Siapa tahu Luna adalah Player yang berpengalaman dengan banyak pria.


"Lagipula untuk apa aku menyelidikinya karena aku sudah enggan bersama dengan Prince."


"Amora jangan keras kepala. Jika kau bisa membuka hubungan antara Luna dan Prince maka hubunganmu dan Prince akan lebih baik lagi."


"Aku sudah enggan berharap Kakak. Aku hanya ingin hidup tenang sekarang." Amora bangkit. "Kupikir lebih baik meninggalkan Prince sekarang sebelum rasa sakit ini bertambah banyak."


"Aku harap kau dan Prince saling yakin jika kalian berdua tercipta untuk satu."


Amora menatap malas kakaknya. Essa malah lebih senang membela Prince daripada dirinya.


Amora meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamatnya

__ADS_1


Sepeninggal Amora, Essa terlihat terkejut ketika mendengar suara mobil berdecut keras.


Dia hendak bangkit tapi Prince masuk tanpa permisi.


"Dimana, Amora?"


"Dia tidak ada di sini!"


"Jangan menutupinya jika tidak ingin membuat masalah denganku!" ujar Prince setengah mengancam


"Jangan mengancam! Jika ingin menemui Amora kau bisa diantar oleh seorang pelayan kami."


Prince mengikuti pelayan milik keluarga Chandra itu menuju ke kamar Amora.


Mereka lantas terdiam dalam beberapa saat. Amora meminta pelayan untuk membuatkannya jus jeruk kesukaannya.


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawa baki berisi Jus. Amora menerima dan meminumnya habis.


Amora yang lelah langsung berbaring di kamarnya. Tiba-tiba, tubuhnya merasa sangat capai dan pegal semuanya. Dia memejamkan mata untuk sesaat. Setengah jam kemudian dia merasakan tulang punggungnya seperti tertusuk beribu jarum. Nyeri.


Dia mulai mengaduh kesakitan. Dia mulai memanggil kakaknya lirih dan lemah. Akh, apakah rasa sakit ini dia rasakan lagi karena dia mengatakan siap mati?


Rasa sesak mulai menghinggapi dadanya seperti mulai membeku karena rasa dingin yang menerjang tubuhnya. Nafasnya mulai terengah-engah.


Untuk sesaat dia melihat sebuah cahaya ada di depannya. Kenapa malah jadi sosok Prince yang ada di sana? Apakah malaikat itu setampan Prince? Jika begitu dia tidak mau meninggal karena akan melihat banyak Prince.


Prince sendiri baru masuk ke kamar Amora untuk mengajaknya pulang, dia panik melihat Amora yang mulai tidak sadarkan diri.


Prince langsung meraih tubuh Amora. Dia memeriksanya.


Dia lantas berteriak pada memanggil Essa. Sambil netranya yang tajam mencari sesuatu di seluruh kamar ini, namun tidak dia temukan.


Essa yang baru masuk dibuat terkejut dengan kondisi Amora.


"Apa yang terjadi?'' tanyanya ketakutan. Ya, dia tahu penyakit Amora kambuh lagi. Namun, tadi dia baik-baik saja. Mengapa jadi seperti ini?


"Essa, dimana tas Amora?" tanya Prince.

__ADS_1


"Tas ... tas ...," ulang Essa menyapukan tatapan ke sekeliling ruangan. Dia mulai teringat.


"Di ruang keluarga," seru Essa. Dia langsung berlari ke ruang keluarga yang ada di lantai bawah.


Setelah mendapatkannya, dia kembali dengan cepat.


"Ini, tasnya," serah Essa pada Prince. Prince langsung menuangnya ke lantai sehingga isi di dalamnya berhamburan keluar.


Dia melihat botol wadah obat ramuan khusus yang Prince buatkan untuk Amora. Dia langsung meraihnya. Namun, kedua alisnya disatukan ketika melihat strip obat berwarna perak dan merah. Dia menyipitkan matanya.


Essa yang melihat itu menepuk jidatnya. Rahasia Amora kini telah terungkap. Batinnya. Ini masalah rumah tangga mereka berdua. Pikir Essa. Yang terdiam tidak menanggapi atau mencoba menutupi kesalahan adiknya.


Prince lantas memasukkan obat itu ke mulut Amora. Dia memberikan minum. Setelahnya, dia membenarkan letak tidur Amora dan menyelimutinya.


Essa yakin jika Prince memang menyayangi Amora, terlihat dari cara pria itu merawat Amora. Banyak perhatian yang Prince perlihatkan, meskipun mungkin belum ada cinta.


"Bisakah kau tinggalkan kami?" usir Prince tanpa melihat ke arah Essa. Dia sibuk mencari pakaian Amora di dalam lemari dalam kamar itu.


Walaupun Prince belum pernah masuk ke kamar ini, tapi dia seperti tahu apa yang harus dia lakukan.


"Jika kau butuh apapun, panggil saja aku. Aku ada di ruang tengah."


"Aku bisa melakukannya sendiri, kau jangan khawatir."


Essa mengangguk. Dia lantas keluar dari kamar itu. Sebelum menutup pintu kamar, dia melihat Prince dengan telaten merawat Amora. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya.


Kakek Liu memang benar. Mereka hanya butuh waktu untuk saling mengenal.


Tadinya dia tidak percaya alasan Kakek Liu yang memaksa Amora untuk tetap menikah dengan Prince. Pria tua itu mengatakan jika ramalan bintang mereka berdua akan bagus jika bersama. Maka dari itu sedari Amora bayi, keduanya memang sudah dijodohkan. Hanya saja peresmian perjodohan itu dilakukan ketika Amora berumur 18 tahun.


Semoga ramalan itu akan membuat adiknya bisa bertahan hidup lebih lama dan penyakitnya bisa hilang karena bantuan Prince. Pria itu sangat pandai dalam bidang apapun, dia pasti juga punya cara agar Amora bisa sembuh.


Setelah melepaskan baju Amora, Prince juga melepaskan bajunya sendiri dan masuk ke dalam selimut Amora. Memeluknya erat.


Dia tahu, tubuh Amora mulai merasa kedinginan jika penyakit ini muncul. Jadi dia harus memberikan kehangatan padanya.


Sejenak, dia mengambil obat yang tadi dia ambil di lantai. Pil KB yang hampir habis isinya. Prince menghela nafasnya panjang.

__ADS_1


"Dasar gadis nakal, kau mau bermain-main denganku?" bisiknya di telinga Amora dan menggigitnya kecil karena gemas.


__ADS_2