Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 55


__ADS_3

Amora terbangun ketika merasakan sentuhan lembut di pipinya. Dia membuka mata dan langsung melihat senyum cerah di wajah Cinta yang ada di hadapannya.


"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya Amora. Suara recolan Cinta mulai terdengar lucu, seperti menjawab pertanyaan Amora. Kakinya bergerak-gerak ke atas, tangannya yang mungil seperti ingin menggapai tubuh Amora.


Wajah Cinta sangat mirip Prince, mungkin karena ingin diakui jika itu memang anaknya bukan anak pria lain. Tanpa melakukan tes DNA semua bisa melihat wajah Cinta sebagai bukti bahwa dia putri Prince.


Tangan Amora memeriksa suhu tubuh Cinta. "Kau sudah sehat sekarang, mungkin karena tidurmu nyenyak," kata Amora. Dia menggerakkan kepalanya dan baru sadar jika Prince ada di depannya ikut tertidur pulas juga.


Jika Cinta adalah anak kandungnya maka semua akan lebih indah dan terasa sempurna. Amora hendak bangkit dan membawa Cinta pergi ketika tangan Prince meraih tangannya.


"Selamat pagi, Cantik," sapa Prince sambil tersenyum lebar. Ini adalah pagi terindah bagi Prince selama hidupnya, melihat anak dan istrinya satu ranjang dengannya.


"Prince, kau harus membawa Cinta pergi dari sini. Kau lihat popoknya sudah penuh. Kau tidak menyuruhku juga untuk menjadi baby sitter bayi ini kan?" seloroh Amora di pagi hari.


Tangan Prince memegang popok Amora. Ya, terlihat besar dan menggembung.


"Hey, Baby Cinta. Bagaimana kabarmu, kabarmu pasti bagus terlihat kau nampak ceria sekali pagi ini. Kau masih ingin berada di sini bersama dengan ibumu? Sayangnya dia ingin kau membersihkan diri dulu. Baru setelah itu, kita ajak ibumu main lagi."


Amora meninggalkan keduanya dan pergi ke kamar mandi. Prince sendiri menarik nafas panjang. Dia kira setelah ini, dia bisa meruntuhkan dinding es antara keduanya. Nyatanya itu hanya simpati sesaat dari Amora.


Prince nampak kecewa tapi tidak bisa mengatakan apapun karena dia tidak ada hak untuk meminta Amora mencintai putrinya dengan Luna. Amora pun tidak berkewajiban untuk bisa menyayangi Cinta atau sedikit memberi perhatian.


Harapannya belum pupus, masih ada hari esok lagi. Semoga hari Amora segera bisa luluh melihat Cinta.


"Sepertinya kau harus pandai merayu ibumu agar menyayangimu. Kau tidak boleh patah semangat ya Sayang," bisik Prince di telinga Cinta, sewaktu mengajak anak itu keluar dari kamar.


Semenjak itu, setiap kali melihat Amora, baby Cinta berusaha untuk meraih Amora dan tersenyum atau tertawa. Namun, Amora tetap tidak memperdulikannya.


Dia berpikir mengapa Prince tidak menyerahkan anak itu pada ibunya saja?

__ADS_1


***


Amora yang sedang berjalan melewati kamar Baby Cinta terkejut, melihat Baby Cinta berada di pinggir tempat tidur, hendak jatuh ke lantai.


Naluri keibuannya langsung muncul, dia berlari dan meraih tubuh Cinta yang sudah jatuh melayang. Untung saja tubuh kecil itu bisa diraihnya.


Baby Cinta yang terkejut menangis keras. Hal itu dilihat oleh Prince dari luar tanpa sengaja. Pria itu langsung bersembunyi di belakang pintu. Di saat yang sama baby sister yang dipekerjakan berlari dari lantai bawah ke atas. Prince langsung menyuruh baby sister itu kembali ke bawah dengan bahasa isyarat.


Dia memang sengaja pulang sebentar untuk melihat keadaan Baby Cinta dan Amora. Entah mengapa pikirannya di kantor tidak tenang memikirkan mereka.


Setelah itu dia kembali mengintip apa yang akan Amora lakukan untuk menenangkan putri kecilnya.


"Kau baru bangun tidur?" Amora nampak tenang meletakkan Baby Cinta di tempat tidur. Baby Cinta masih terisak tapi tidak begitu keras.


"Apakah baju ini tidak membuatmu nyaman? terlalu banyak rumbainya. Seharusnya tidak dipakai ketika cuaca panas begini. Walau ini cantik tapi tetap saja tidak enak dipakai."


Baby Cinta menanggapi dengan suaranya yang lucu. Tangisnya hilang. Dia membiarkan wanita dewasa yang ada di depannya berbuat apapun pada tubuhnya.


"Okey, sekarang lebih baik kan?" tanya Amora. Dia lantas membuatkan susu untuk Baby Cinta.


"Ayahmu itu sangat keras kepala sekali. Sudah kukatakan jika pengasuh mu itu tidak benar dalam bekerja masih saja menyerahkanmu padanya."


Amora sudah beberapa kali melihat pengasuh Cinta malah sibuk bermain handphone daripada merawat Cinta.


Baby Cinta meminum susu itu dengan lahap. Sepertinya dia memang lapar dan kehausan. "Kau lapar, Sayang. Minum yang banyak. Nanti kalau habis biar aku buatkan lagi," kata Amora.


Dia dengan sabar menunggu Baby Cinta menghabiskan air susunya. Berpikir bahwa nasib anaknya jika menjadi Baby Cinta. Dipisahkan darinya sejak bayi. Tangan Amora mengusap pipi Baby Cinta. Mendadak dia merasa kasihan dengan nasib anak ini.


Mungkin jika dia tidak masuk ke dalam hidup Prince, anak ini bisa hidup bahagia dengan ibunya. Nyatanya, dia yang membuat Baby Cinta berpisah dengan ibu kandungnya.

__ADS_1


Sebuah tangan mengusap kepala Amora dengan lembut lalu mencium pucuk kepalanya dalam. Amora melihat ke atas.


"Terimakasih, Amora karena mau merawatnya. Kau lihat dia sangat senang jika kau yang ada di dekatnya."


"Dia senang jika ada yang menemani, bukan aku saja," jawab ketus dan dingin Amora.


Prince lalu duduk bersimpuh di depan Amora. Memegang kedua tangannya.


"Apakah kemarahanmu padaku belum juga padam? Sampai berapa lama lagi aku menunggu kau kembali tersenyum padaku?"


Amora hendak melepaskan tangannya dari tangan Prince dan bangkit, tapi Prince menahannya.


"Maaf kan aku Amora. Kumohon."


Mendadak netra Amora memanas. Dia melihat ke atas dan berkedip dengan cepat agar tidak menangis.


"Kau tahu mengapa dia kuberi nama Cinta? Karena aku selalu teringat akan dirimu. Namamu kuambil karena aku ingin dia menjadi wanita sepertimu yang kuat dan cerdik serta penuh cinta. Aku ingin Cinta bisa menjadikanmu panutannya."


"Prince aku tidak sebaik itu, aku bahkan telah memisahkannya dari ibu kandungnya," ucap Amora serak.


Prince tersenyum sedih. Dia memegang wajah Amora dan memasukkannya dalam dadanya.


"Hanya kau yang cocok menjadi ibu dari anak-anakku."


Tidak ada kata yang keluar dari keduanya. Keduanya diam tapi tahu jika perasaan mereka masih tetap sama saling mencintai dan membutuhkan.


"Jangan pergi lagi, kembalilah menjadi Amora yang dulu. Aku rindu dengan kecerewetanmu."


"Aku tidak cerewet," ujar Amora. Jujur dia merindukan saat seperti ini. Rasa nyaman dalam pelukan Prince.

__ADS_1


Prince merenggangkan pelukannya agar bisa melihat wajah Amora. Aku tidak tahu kapan jatuh cinta padamu, tapi aku sadar kalau mencintaimu ketika kau pergi meninggalkan aku."


"Aku mengejarmu yang keluar dari ruangan waktu itu hanya saja, Luna memegangi tubuhku. Aku menyingkirnya dan dia terjatuh ke lantai, aku tidak melihatnya karena fokusku pada dirimu. Aku berlari tapi Luna menjerit kesakitan. Aku berbalik dan mendapati dia mengalami pendarahan."


__ADS_2