
"Prince, apa yang kau lakukan?" ucap Boris, saat dia melihat Prince menghalangi jalannya.
"Lepaskan gadis itu," perintah Prince pada Boris. Dia menatap nanar pada lelaki yang sudah bertindak kurang ajar terhadap Amora.
Boris lantas tersenyum sinis ke arah Prince, "Ada apa, Prince? Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak mengenalnya? Lalu kenapa kau melarangku untuk melepaskannya, hem?"
Amora yang mendengar ucapan Boris, dia menatap tak percaya pada Prince. Ada sejumput rasa kecewa yang hinggap di hati gadis itu.
Namun, Prince tidak memedulikan perkataan Boris barusan. Kedua tangannya mengepal karena Boris semakin mengeratkan pegangan di pergelangan tangan Amora.
"Kuperingati kau sekali lagi, Boris. Lepaskan gadis itu atau—"
"Atau apa, Prince? Kau sangat menginginkan gadis ini rupanya. Bukankah aku sudah banyak mendatangkan para ****** di tempat dudukmu? Ada apa ini? Kau yang terlihat tidak peduli dengannya, lalu kenapa tiba-tiba memintaku untuk melepaskannya?" ucap Boris panjang lebar.
Prince yang sudah tidak mau berdebat lagi dengan Boris, kemudian dia maju selangkah dan menarik Amora hingga terlepas dari genggaman Boris.
"Brengsek! Kau menantangku!" Boris mulai emosi karena Prince berani melawannya hanya gara-gara seorang wanita.
Amora terkejut saat Prince menarik tangannya, tubuhnya bahkan bertubrukan dengan dada bidang Prince. Orang-orang yang berada di sekeliling mereka mulai saling berbisik, memberi pendapat pada gadis yang tengah diperebutkan.
Amora segera berlindung di balik tubuh Prince yang kokoh. Ketika Boris akan mendekati Amora lagi. Refleks, Prince langsung mendorong kasar tubuhnya. Membuat Boris hampir terjengkang ke belakang.
"****! Kau sudah membangunkan singa tidur, Prince!"
Boris tidak terima akan tindakan Prince. Lalu dia berdiri tegap, Boris bersiap untuk memberi bogem ke arah Prince, namun pria itu dengan sigap mengelak dan menangkis serangan Boris.
"Sial!" umpat Boris, sekali lagi. Dia kembali melayangkan pukulan, tapi dengan cepat tangannya ditangkap oleh Prince.
"Hanya segitu saja kemampuanmu?" ucap Prince, dia terlihat begitu tenang menghadapi Boris.
Prince menoleh ke samping, di mana Amora terlihat ketakutan. Tidak ingin membuang-buang waktu, Prince membalas serangan Boris. Tepat di wajah pria itu, Prince memberinya bogem mentah.
BRUK!
Boris tersungkur, tubuhnya menabrak meja bulat.
"BEDEBAH!"
Boris yang sudah tidak tahan menanggung malu, lantas dia memberi perintah pada anak buahnya untuk mengepung Prince.
__ADS_1
Mike yang tadinya masih di tempat bersama beberapa wanita, melihat Prince yang dikelilingi oleh musuh, dia melompat dari tempat duduknya.
Mike memberi perintah pada seluruh anak buah Prince untuk membantu bos mereka.
Kini seluruh ruangan klub malam telah diisi oleh dua anggota gangster. Prince menatap Boris dengan sorot tajam.
"Kau sudah memulainya, Prince! Gara-gara ****** sialan itu, kau berani melawanku!" Ucapan Boris yang menghina Amora, membuat Prince naik pitam.
"DIA BUKAN PEREMPUAN ******, SIAL!"
Prince berkata dengan ekspresi wajah menggelap.
Boris terkekeh mendengar ucapan Prince, yang seakan tidak terima dengan perkataannya.
"Kalau bukan ****** lalu siapa?" ucap Boris yang kemudian menatap Amora dengan penuh nafsu. "Kau tenang saja, Prince. Jika aku sudah menyicipi tubuhnya lebih dulu, maka kau juga boleh menyentuhnya," lanjutnya lagi.
Prince yang menyadari tatapan Boris pada Amora. Dia melepas jas yang dikenakannya, lalu dengan cepat Prince menutupi bagian tubuh Amora yang sejak tadi terekspose.
"Dia milikku! Dan tidak ada yang boleh menyentuh wanitaku! Berhentilah memandanginya, Bodoh!" Prince mendekati Boris, lalu dia kembali melayangkan bogem ke arah pria itu. Prince membenci pria yang memandang Amora dengan penuh nafsu.
"Singkirkan pandanganmu dari tubuhnya, Brengsek!" ucap Prince yang masih terus menghajar Boris.
Mike yang menyadari hal itu, dia tidak tinggal diam saja dan langsung memerintahkan anak buah Prince untuk melindungi Prince, juga Amora.
Peperangan pun terjadi di dalam klub malam, suara tembakan beberapa kali terdengar. Membuat orang-orang bertaburan menyelamatkan diri masing-masing.
Hampir satu jam, hingga akhirnya kemenangan diraih oleh anak buah Prince yang jumlahnya lebih banyak dari anak buah Boris.
"Kau sudah kalah, Boris! Menyerahlah!" ucap Prince dengan tersenyum jumawa.
Boris yang tidak terima, dia mengeluarkan pistol glock dari saku jasnya dan menodongkan senjata miliknya ke arah Prince.
"Tapi setidaknya, aku harus membuatmu mati lebih dulu!" ucap Boris dengan tersenyum lebar.
Prince menarik salah satu sudut bibirnya, sebelum Boris menarik pelatuk, dengan cepat Prince mengeluarkan senjata andalannya dari balik kemejanya.
DOR!
Prince melepaskan peluru dari sebuah revolver miliknya, dan peluru itu tepat mengenai kening Boris. Boris tersungkur dengan cairan kental yang mulai menggenangi lantai.
__ADS_1
"Aaaaaaaa ...."
Amora yang melihat kejadian tersebut, seketika dia menjerit ketakutan. Prince yang baru menyadari adanya Amora di dekatnya, dia bergegas membawa Amora pergi meninggalkan klub itu.
"Bukankah sudah kubilang, kau duduk saja di tempatmu dan jangan membuat masalah. Kalau bukan karena kau, mungkin semua ini tidak akan terjadi!"
Akan tetapi, saat keduanya sudah keluar dari klub tersebut, Prince justru memarahi Amora.
Amora terdiam, dia tidak menggubris Prince yang tengah memarahinya. Kedua jemari gadis itu saling bertaut, pikirannya kacau. Sebab teringat bagaimana Boris tertembak di depan matanya tadi.
"Heh, kau dengar tidak?" Prince yang kesal karena ucapannya tidak ditanggapi oleh Amora, kemudian dia menoleh ke samping. Wajah gadis itu tertunduk dalam dengan jemari saling meremas.
Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk pulang.
Prince yang menyadari bahwa Amora sedang gugup karena takut, kemudian dia meraih jemari lentik Amora dan menggenggamnya dengan erat.
"Sudahlah, lupakan saja. Selama ada aku di sampingmu, tidak akan ada yang bisa menyakitimu, paham?"
Amora mendongak, dia menatap sepasang mata milik Prince, yang tadinya terlihat dingin menusuk. Kini tatapan itu berubah menjadi teduh.
Tiba-tiba saja Amora menangis sejadi-jadinya, dia menghambur ke dalam pelukan Prince untuk menumpahkan airmata di sana.
"Maafkan aku, Prince. Maafkan aku ... aku tidak mendengarmu, kau boleh menghukumku." Amora masih terisak di dalam pelukan Prince.
Pria itu menghela napas panjang, lalu tangannya mulai mengusap surai panjang Amora. "Seharusnya aku yang minta maaf, karna sudah mengabaikanmu," ucap Prince, yang menyesali sikapnya pada Amora.
Amora kembali membenamkan wajahnya ke dada bidang Prince. "Aku janji, Prince. Lain kali aku akan menuruti perkataanmu," ucap Amora.
Prince mengukir senyum di wajahnya, dia mengurai pelukan. "Baiklah, permintaan maaf darimu aku terima. Sekarang kita akan pulang, dan hapus airmatamu," kata Prince.
***
Sementara di dalam klub yang sekarang terlihat seperti kapal pecah.
Seorang pria rupanya sejak tadi duduk di balik meja bar, ia bahkan enggan beranjak dari tempatnya setelah kejadian baku tembak itu terjadi di depan matanya.
Sebuah senyum misterius terbit di wajahnya. Dia adalah Dave, pria yang bertemu dengan Amora beberapa waktu yang lalu.
"Menarik," ucap Dave.
__ADS_1