Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 58


__ADS_3

Satu jam kemudian, Amora sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya.


"Prince panggilkan Dokter. Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Amora dengan nafas terengah-engah.


Prince langsung memanggil perawat dan dokter yang berjaga. Sepuluh menit kemudian mereka sedang melakukan proses persalinan. Prince berdiri dibelakang Amora menemaninya.


"Prince ... ," panggil Amora dengan suara yang bergetar.


"Kau pasti bisa melalui ini," bisik Prince memberikan dukungan pada istrinya. Dia sendiri sebenarnya merasa takut hanya saja dia menyembunyikan.


Prince ikut meringis ketika Amora mulai mengejan.


"Sekarang dorong yang keras ya Bu, tinggal sedikit lagi," perintah dokter itu. Amora mulai menarik nafas dan mulai mengejan kuat, tangannya berpegangan kuat pada Prince yang ada di belakangnya.


Prince yang baru melihat proses melahirkan secara normal merasa takut dan pucat pasi. Dia mengusap kening Amora yang penuh peluh, dengan tangannya sendiri.


"Ayo semangati istrinya, Pak," kata Dokter itu.


" Amora kau pasti bisa melakukannya," bisik Prince. "Tarik nafas dan dorong di daerah perut," ujarnya sambil ikut mengeden bersama dengan Amora.


Perawat gadis yang melihat ikut menahan tawa melihat tampilan garang Prince berbeda ketika menemani istrinya melahirkan.


"Bagus … bagus … terus, yaps kepalanya sudah keluar," seru dokter itu.


"Tunggu tahan! Ada usus yang melingkar di lehernya," kata Dokter. Dokter itu melakukan tindakan cepat dengan menggunting usus yang melingkar di leher bayi


"Satu dorongan kuat," perintahnya lagi.


Bayi dengan jenis kelamin lelaki keluar dengan sehat dan selamat tanpa kurang sesuatu apapun. Anak itu diangkat oleh Dokter.


"Lho kok tidak menangis," ucap Dokter itu membuat Prince khawatir. Dokter itu memukul pelan pantat si jabang bayi.


Terdengar tangisan kuat suara bayi. Amora dan Prince tersenyum melihat bayinya. Prince bahkan sampai menitikkan air matanya.


Prince tertawa senang melihat bayinya dan seperti melihat suatu keajaiban ada di depannya. Begitu sulit ternyata untuk menjadi seorang ibu, pikir Prince. Dia harus mengapresiasi perjuangan Amora yang mau melahirkan secara normal untuk anaknya.


"Kau lihat kau berhasil melakukan ini semua," ucap Prince mencium kening Amora. "Terimakasih banyak karena memberi hadiah yang indah untuk hidupku."


Setelah melakukan inisiasi dini, ibu dan bayinya dibersihkan oleh perawat. Dengan bangga Prince membawa putranya yang masih kecil dan dengan kulit yang berwarna kemerahan.


Bik Yani dan Kakek Liu langsung bangkit melihat putra kecil Prince. Mereka tertawa senang mendekat.


"Hei dia sangat mirip dengan ibunya," celetuk Bik Yani. Menyentuh pipi bayi itu dengan pelan.

__ADS_1


"Oh, tidak lihat hidungnya yang mancung dan alisnya yang tebal mirip cucuku," ujar Kakek Liu tidak mau kalah.


Prince yang menyaksikan perdebatan itu hanya tertawa. Bik Yani ingin mencoba menggendong putra Prince itu.


"Dimana ibunya?" tanya Bik Yani seraya menimang anak Prince.


"Itu sedang dipakaikan baju," ujar Prince menunjuk ke dalam.


"Apakah ibunya sehat?" tanya Kakek Liu khawatir. Prince menganggukkan kepala.


"Syukurlah."


"Lihat mulut kecilnya bergerak-gerak sepertinya mencari susu," ujar Kakek Liu.


Prince menerangkan jika si kecil baru saja di beri susu oleh ibunya sebelum dibersihkan dan dibawa keluar olehnya.


"Cinta pasti senang melihat adiknya. Dia jadi punya teman bermain nantinya," kata Kakek Liu.


Prince menarik nafas dalam. Dia berharap setelah anak ini lahir, perlakuan Amora kepada Cinta tidak berubah serta tidak membedakan keduanya.


Perawat keluar dengan mendorong Amora yang duduk di kursi roda. Wajah Amora masih terlihat lelah dan pucat setelah melahirkan. Namun, senyumnya terlihat lebar.


"Bagaimana keadaanmu, Amora?" tanya Kakek Liu.


"Baik, Kakek," jawab Amora.


Amora menganggukkan kepalanya.


"Aku meminta Dokter untuk langsung membawa anak dan istriku pulang," kata Prince.


"Memang boleh?"


"Sebetulnya tidak, tapi Amora memaksa," terang Prince.


Mereka melihat ke arah Amora. Amora menarik nafasnya. "Cinta akan menangis bila tidur tanpaku, aku khawatir padanya."


Tiga orang didepan Amora saling menatap. Prince yang paling merasa lega dan bangga pada Amora. Dia masih sakit dan lelah setelah melalui proses persalinan yang sulit. Namun, masih saja mengkhawatirkan putrinya.


Ketakutannya tidak beralasan. Amora memang tulus menyayangi Cinta. Prince mendekat ke arah Amora dan mencium pucuk kepalanya.


"Yang penting kau sehat dulu, percayalah, Cinta akan baik-baik saja di rumah," ujar Prince.


"Namun, aku ingin pulang," pinta Amora memelas yang memang tidak suka dengan suasana rumah sakit selain juga karena mengkhawatirkan Cinta.

__ADS_1


Oleh karena desakan dari Amora, Prince memaksa pihak rumah sakit untuk membolehkan Amora pulang.


Sesampainya di rumah, Amora langsung digendong oleh Prince ke kamarnya sedangkan si kecil digendong oleh Bik Yani masuk ke dalam rumah. Semua warga rumah menyambut kedatangan si kecil dengan riang dan bahagia.


Bik Yani membawa si kecil ke kamar Amora setelah bertemu semua orang dirumah itu melihatnya.


Si Kecil diletakkan di dekat Amora yang sedang disuapi oleh Prince. Amora memang menolak makanan rumah sakit tadi.


Rupanya, dia punya trauma tinggal di rumah sakit karena dulu sewaktu kecil dia tinggal di sana selama berbulan-bulan setelah keracunan. Dia enggan untuk masuk ke sana lagi jika karena bukan ingin melahirkan anaknya.


Si kecil di letakkkan dekat dengan Amora agar Amora mudah untuk menyusuinya.


"Dimana Cinta?" tanya Amora yang tidak melihat keberadaan anak itu.


"Apakah dia menangis lama setelah kutinggalkan tadi?" tanyanya lagi, memperlihatkan rasa cemas dan kepeduliannya pada Cinta yang tidak dibuat-buat.


"Dia menangis sampai tertidur," jawab Mba Lulu yang membawa Cinta masuk ke dalam kamar.


Cinta yang baru bangun tidur tertegun melihat satu sosok kecil mungil di depannya.


"Lihat Cinta, ini adikmu," kata Bik Yani. Cinta melihat ke arah Amora. Amora melambaikan tangan agar Cinta mendekat.


Prince meletakkan piring di tangannya ke atas nakas dan memangku Cinta sehingga bisa berdekatan dengan Amora


"Bu, atit?" tanya Cinta yang ingat tadi Amora mengaduh kesakitan.


"Tidak Sayang, Ibu sudah sembuh hanya saja ibu masih sedikit terluka di perut. Ibu tidak bisa memangkumu," jawab Amora menyentuh dagu Cinta.


Cinta terlihat menekuk wajahnya sedih hendak menangis. Amora tertawa kecil.


"Tidak… Ibu tidak sakit hanya saja ibu belum bisa memangku atau menggendongmu. Kau jangan menangis seperti itu."


Di saat yang sama, si kecil menangis keras. Amora mengambilnya dan hendak menyusui. Semua yang ada di sana mulai beranjak pergi.


"Tunggu, kau namakan siapa anakmu Prince?" tanya Bik Yani.


"King Star, Liu King Star," jawab Prince bangga.


"Okey, aku akan memberi tahu Essa dan Kakekmu. Kakekmu terlihat lelah, dia langsung masuk ke kamarnya tadi."


Prince menganggukkan kepala. Tinggal mereka berempat dalam ruangan itu. Amora menyusui Star. Sedangkan Cinta diam, fokus melihat adiknya.


"Cinta, kau tidak ingin mencium dan berkenalan dengan adikmu?" tanya Amora.

__ADS_1


Cinta melihat ayah dan ibunya. Prince sendiri langsung mendekatkan Cinta pada Star.


Cinta mencium Star yang sedang meminum susu dengan lahap.


__ADS_2