
"Aku pulang." Amora baru saja masuk ke dalam kamar. Wanita itu membuka sepatu dan jam tangan. Kemudian menaruhnya di tempat biasa. Akan tetapi Amora tiba-tiba dikejutkan oleh panggilan Prince yang cukup mengejutkannya.
"Amora! Amora! Amora!" Suara Prince menggelegar memenuhi sudut-sudut kamar. Membuat Amora mengusap dadanya lantaran jantungnya berdegup kencang.
"Astaga, kau mengagetkanku, Prince. Apa kau pikir rumah ini hutang? Sehingga kau pulang-pulang berteriak seperti tarzan begitu?" Kedua mata Amora melotot.
Wanita itu cukup kesal karena Prince memanggilnya sesuka hati. Padahal laki-laki itu bisa menunggu untuk sampai di kamar sehingga tidak perlu berteriak keras. Amora hanya tidak enak dengan Kakek Liu. Bisa saja Kakek Liu mendengar teriakan Prince yang terus memanggil namanya dengan keras. Pastinya Kakek Liu berpikir kalau dia Amora dan Prince bertengkar.
Akan tetapi, Amora mendadak menyurutkan emosinya. Sebab Prince tiba-tiba mencium pipi Amora. Dari pipi ciuman itu berpindah di bibir Amora. Membuat Amora sedikit kaget. Bahkan Prince entah sejak kapan sudah memeluk pinggangnya. Mengunci Amora sehingga membuat wanita itu tidak bisa bergerak bebas.
"Prince, lepas!" Amora berusaha menjauhkan tubuh Prince yang menempel di tubuhnya.
Akan tetapi tenaga Amora dan Prince sangat berbeda jauh. Membuat usaha Amora terus saja gagal. Tak hanya itu, Amora juga sesekali memberikan cubitan kecil di lengan Prince agar Prince bersedia melepaskannya.
"Prince, lepas! Kau tahu aku baru saja pulang. Aku bau keringat, Prince!" Amora masih tidak menyerah. Ia mengerahkan semua tenaga yang ia miliki untuk melepaskan Prince dari tubuhnya.
"Tidak ada bau laki-laki lain. Tidak mungkin aku melewatkan sesuatu. Kalau Amora berpelukan dengan laki-laki lain pasti aku bisa mencium baunya. Tapi, aku tidak menemukan bau lainnya selain parfum. Atau hanya aku saja yang curiga?" Prince membatin bingung. Sebab ia tidak menemukan bau laki-laki yang ada di perumahan daerah Bintaro tadi.
"Sebenarnya ada apa dengan laki-laki ini? Mengapa sampai seperti ini? Ah, aku malu sekali karena pasti tubuhku bau keringat. Kenapa laki-laki mesum ini menjadi tidak sabaran begini? Tidak biasanya Prince bersikap seperti ini," batin Amora dalam hati. Wanita itu masih terus berusaha untuk melepaskan Prince yang terlalu menempel padanya.
"Prince, lepas! Biarkan aku mandi dulu! Aku masih bau keringat!" Amora terus mendorong tubuh Prince untuk lepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Akan tetapi karena perbedaan tenaga yang besar membuat usaha Amora sia-sia. Justru kini tubuh Amora malah terlempar ke atas ranjang. Tampak Prince bersiap melepaskan pakaiannya satu persatu. Membuat Amora sedikit kesal.
"Prince, apa kau tahu kalau aku belum mandi?" tanya Amora.
"Aku tahu." Prince menjawab singkat. Ia tidak berubah pikiran. Melihat hal itu, Amora melebarkan kedua matanya.
Terbukti sekarang Prince sudah tak mengenakan apapun. Dengan cepat Amora mengalihkan pandangan dari tubuh Prince yang polos. Tak lama kemudian, Prince sudah menyerang Amora yang sama sekali tidak siap.
Meski begitu Amora yang tadinya kesal pada Prince perlahan-lahan mulai menikmatinya. Mereka berdua menciptakan alunan suara yang merdu dan saling bersahutan. Suara-suara itu terus bergema memenuhi seisi kamar.
Beruntung kamar tersebut dilengkapi dengan peredam suara. Yang mana siapapun di luar sana tidak akan mendengar peperangan yang terjadi di antara Prince dan Amora. Keduanya pun mengakhiri olahraga tersebut dengan lengkingan yang dalam. Terakhir, Prince mendaratkan kecupan di kening Amora sebagai tanda terima kasih.
Amora memasang wajah cemberut ketika makan malam. Tubuhnya terasa sakit semua. Tidak peduli waktu saat malam, di kantor atau kini pulang kerja pun dirinya masih dihajar oleh Prince. Wanita itu terus menatap Prince penuh kekesalan.
"Aku pikir kau memiliki otak yang berfungsi untuk berpikir. Bukankah seharusnya kau bisa berpikir?" balas Amora dengan telak.
Namun, bukannya marah ataupun kesal Prince malah bersiul. Menandakan bahwa suasana hatinya sedang cerah. Secerah masa depannya. Tak lama kemudian Kakek Liu pun datang bergabung dengan Prince dan juga Amora.
"Selamat malam, Kek," sapa Amora.
"Selamat malam juga untukmu, Amora. Hmm? Amora, ada apa dengan suamimu?" Kakek Liu menunjuk Prince yang masih santai.
__ADS_1
Tentu saja sikap Prince sedikit membuat Kakek Liu bingung. Sebab sangat jarang dapat melihat Prince dalam suasana hati yang bagus. Amora melirik Prince. Lalu wanita itu tersenyum canggung pada Kakek Liu.
"Abaikan saja, Kek. Belakangan ini Prince memang sedikit aneh. Ayo, Kek kita makan." Amora mengalihkan topik pembicaraan. Wanita itu cukup malu dengan sikap Prince.
"Ayo. Makan yang banyak, Amora. Kakek tidak ingin kau sampai jatuh sakit." Kakek Liu mulai mengambil makanan.
"Tenang saja, Kek! Jangan khawatir!" Amora menepuk dadanya.
"Lihat dia. Bagaimana bisa dia tidak menyapa kakek? Lihat, Amora. Anak begundal ini membuat kakek sedih." Kakek Liu memasang wajah memelas. Ia ingin mendapatkan simpati dari Amora.
"Sudahlah, Kek. Anggap saja malam ini hanya ada kita berdua. Ayo, Kek kita makan." Amora mulai mengambil setiap lauk yang ada.
Ia memang berniat untuk makan malam dengan porsi sedikit lebih banyak dari biasanya. Sebab suaminya bisa kapan saja membanting tubuhnya di atas ranjang dan minta jatah kapanpun itu. Di samping itu nafsu makan Amora bertambah sebab ia sudah kelaparan. Selain itu, Amora juga ingin mengimbangi Prince.
Prince yang melihat Amora menempatkan banyak makanan di piringnya pun tersenyum menyeringai. Ia mendekat pada Amora. Lalu mengambil beberapa makanan dan menaruhnya di piring Amora. Laki-laki itu berbisik. "Kau harus makan banyak. Tubuhmu memerlukan banyak tenaga untuk bermain di ranjang bersamaku.. Ayo, makan yang banyak. Supaya kau memiliki tenaga untuk bermain ronde berikutnya nanti malam. Jadi, siapkan tenaga lebih dari sekarang."
Amora mendadak kesal. Akan tetapi dia memang harus makan banyak. Wanita Itu teringat betapa susahnya mendapatkan cinta dari Prince. Jika bukan karena taruhan itu Amora tidak akan mau repot-repot melakukan itu.
"Huh! Kalau saja bukan karena taruhan itu, aku tidak mungkin mau. Lihat saja. Kau yang akan menyatakan cinta terlebih dulu pada Amora. Bukan Amora yang akan duluan menyatakan cinta. Enak saja! Harga diri!" batin Amora. Wanita itu telah membulatkan tekad akan membuat Prince yang menyatakan cinta terlebih dahulu padanya.
Tanpa mereka berdua sadari, Kakek Liu senang melihat sikap Prince yang terlihat lebih hangat pada Amora. Berharap setelah ini ada cinta di antara mereka. Kakek Liu sangat menyukai Amora. Sebab Amora mampu membuat sikap Prince sedikit melunak.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Bolehkah aku berharap kalau mereka berdua akan saling jatuh cinta? Amora merupakan wanita yang tepat untuk mendampingi Prince di masa depan. Kalau aku sudah tiada, setidaknya akan ada wanita baik-baik yang akan membawa bahagia pada Prince. Sekarang, aku hanya bisa berharap Tuhan mengabulkan keinginanku ini." Kakek Liu berdo'a dalam hati. Senyuman bahagia tersemat di bibirnya.