
Prince mengajak Amora pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, keduanya saling membisu. Tidak ada percakapan di antara Prince dan Amora.
Sesampainya di rumah, Prince menoleh ke arah Amora. Gadis itu masih terdiam dengan pandangan dialihkan ke arah jendela mobil.
"Kita sudah sampai, turunlah!" kata Prince, menginterupsi.
Namun, Amora masih bergeming. Seolah ucapan Prince diabaikannya.
Prince yang merasa kesal karena Amora diam saja, dia mendengkus.
"Amora! Kau mendengarku tidak!" bentak Prince, kesal.
Amora tersentak saat Prince membentaknya. Segera dia menoleh ke arah lelaki yang menatapnya dengan sorot dingin.
Bibir Amora berkedut, dan air mukanya berubah menjadi pucat.
"A-aku ...."
Amora merasa tenggorokannya tercekat, itu karena dia masih merasa ketakutan saat kejadian di klub malam tadi. Kedua tangannya saling bertaut.
"Prince ... aku takut, bagaimana jika Boris kembali untuk membalaskan dendamnya? Apa kau tidak lihat, dia tadi tertembak karenamu," ucap Amora. Suaranya terdengar serak.
Prince yang menyadari bahwa gadis itu masih dilanda ketakutan. Dia melepaskan safetybelt yang masih melingkar di tubuh Amora.
"Kau jangan memikirkan itu lagi, semua sudah berlalu," kata Prince. Dia lebih dulu turun dari mobil, lalu mengajak Amora untuk ikut turun.
"Sekarang kita sudah sampai di rumah, ayo turun. Aku lelah hari ini,' ucap Prince, dia membuka pintu untuk Amora.
Akan tetapi, Amora masih terdiam di sana, wajahnya terlihat pucat pias.
Prince yang sudah tidak sabar menunggu Amora turun, lantas dia pun menggendong wanita itu, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
Amora yang terkejut akan perlakuan manis Prince terhadapnya, dia pun melingkarkan kedua pergelangan tangannya ke leher Prince.
Tiba di kamar milik Amora, Prince merebahkan tubuh wanita itu dengan perlahan. Bahkan Prince juga menutup tubuh Amora dengan selimut yang tebal.
"Tidurlah, Amora ... semua akan baik-baik saja," ucap Prince.
__ADS_1
Namun, ketika Prince hendak beranjak, Amora justru memegang tangannya dengan begitu erat.
"Prince, bagaimana kalau Boris menyuruh anak buahnya untuk menyerang kita? A-aku takut sekali," ucap Amora, gugup. Ini adalah pertama kalinya Amora melihat seseorang mati di depan mata kepalanya sendiri. Melihat beberapa orang yang meregang nyawa di hadapannya, menimbulkan rasa trauma yang cukup dalam pada diri Amora.
Prince yang tadinya sudah ingin pergi, kemudian dia duduk di bibir ranjang, dengan tubuh dicondongkan ke arah Amora.
"Kau sendiri tahu kalau kejadian itu karena perbuatanmu, Amora. Lain kali berpikir dulu sebelum bertindak." Bukannya menenangkan Amora, Prince justru terlihat sedang memarahi Amora.
Amora bergeming, memori otaknya berputar mengingat tentang kejadian di mana banyak orang-orang yang kehilangan nyawa karena ulahnya. Bahkan Boris ditembak di depan mata kepalanya sendiri.
"Apa Boris sudah mati? Prince, kekacauan tadi, sungguh membuatku sangat takut. Kalau Boris menuntut balas bagaimana, Prince?" ucap Amora, lirih.
"Dia tidak akan berani menyerang rumahku, kau tidak perlu khawatir, Amora. Sekarang, tidurlah!" perintah Prince.
"Tapi, Prince."
"Kalau kau tidak mau tidur, aku akan melepas semua pakaianmu, apa kau mau?" Prince melirik tajam ke arah Amora, terlebih lagi dia melihat belahan dada Amora yang sejak tadi seakan mengundangnya untuk disentuh.
Kedua mata Amora membola saat Prince mengatakan sesuatu, yang membuatnya bergidik. Amora juga mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya.
"Kau lihat apa? Dasar mesum," dengkus Amora.
"Kenapa memangnya? Bukankah kita saat ini sudah menjadi suami istri? Tidak ada salahnya, kan, jika seorang suami melihat bagian sensitif istrinya?" bisik Prince, tepat di depan wajah Amora.
Seketika itu wajah Amora berubah kemerahan seperti kepiting rebus, bahkan jantungnya saat ini berdetak dengan sangat cepat.
Prince menjauhkan wajahnya dari Amora, "Sekarang tidurlah. Jangan memikirkan yang aneh-aneh lagi," ucap Prince.
Amora akhirnya mengangguk patuh, dia pun memaksa kedua matanya untuk terpejam.
Melihat Amora yang sudah terlelap, Prince beranjak dan meninggalkannya di kamar sendirian.
Saat keluar dari kamar Amora, Prince dihampiri oleh pria tua yang mengetahui bahwa cucunya baru saja pulang.
"Prince, ikut kakek sebentar," ucap pria tua itu, yang bernama Kakek Liu.
Prince yang mengerti apa yang ingin dibicarakan oleh Kakek Liu, dia pun mengekor lelaki tua itu.
__ADS_1
Kini keduanya berada di ruang kerja yang ada di mansion. Kakek Liu duduk di sofa, dia meminta Prince untuk ikut duduk. Prince pun mengikutinya.
"Kenapa kau membuat kekacauan, Prince?"
Prince yang sudah tidak terkejut dengan ucapan Kakek Liu, dia memandang ke arah lain.
"Dia hampir saja melecehkan Amora, aku tidak bisa diam saja melihatnya," jawab Prince, acuh tak acuh.
Kakek Liu terdiam, dia mencerna ucapan cucunya itu.
"Apa tidak bisa menyelesaikannya tanpa harus dengan kekerasan?" sanggah Kakek Liu.
"Kalau berita ini menyebar, Kakek tidak mau mendengar jika bisnis kita terendus oleh pihak berwajib. Camkan itu!" ancam Kakek Liu.
"Maafkan aku, Kakek. Aku akan mengatasi kekacauan yang kubuat," Prince berjanji.
"Kau tidak akan bisa mengatasinya sendiri!" sembur Kakek Liu.
Prince menundukkan wajah.
"Kakek akan meminta bantuan pada teman Kakek agar berita ini tidak menyebar. Dan kau, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Ingat itu, Prince." Kemudian Kakek Liu beranjak dan meninggalkan Prince sendirian di ruangan itu.
Prince duduk termenung, bukan mencerna ucapan Kakek Liu barusan. Melainkan dia memikirkan tentang keadaan Boris saat ini. Mengingat bahwa pria yang ditembaknya tadi adalah adiknya Luna—istri pertamanya.
"Luna pasti tahu tentang masalah ini! Astaga ... kenapa pikiranku tidak tenang?" gumam Prince. Memikirkan masalah tadi, membuat kepala Prince rasanya ingin meledak.
Prince beranjak dari ruang kerja Kakek Liu, dia berjalan dengan langkah gontai. Tepat di depan pintu kamar Amora, Prince menghentikan langkahnya.
Entah kenapa, malam ini dia tidak ingin tidur sendirian. Kemudian Prince masuk ke kamar Amora, dilihatnya sang istri sudah hanyut memintal mimpi. Prince duduk di tepi ranjang sembari memandangi wajah Amora yang terlelap.
Kening Amora mengernyit, Prince tahu jika wanita itu bermimpi buruk.
"Ti-dak, jangan!" ucap Amora, dengan suara lirih.
Prince membawa tangannya ke wajah Amora, membelai pipi wanita itu. "Tenanglah, Amora. Aku di sini," ucap Prince.
Amora meraih tangan Prince lalu membawanya ke pelukan, seketika itu juga, sebuah senyum terbit di wajah cantik Amora. Saat melihat senyuman itu, entah kenapa Prince merasakan gelenyar aneh yang menelusup di dada.
__ADS_1
Prince terpesona akan wajah Amora yang sedang tidur saat ini. Hingga dia pun ikut merebahkan badannya di samping Amora. Terdengar suara Amora yang mengigau, membuat Prince terpaksa memeluk gadis itu dari belakang. Membuat Prince akhirnya tertidur di ranjang yang sama dengan Amora.