Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 35


__ADS_3

Akhirnya, Prince mengajak Amora pergi ke suatu tempat. Perkataan Amora yang seperti tidak percaya dengan apa yang dia lakukan membuat dia harus melakukan ini.


Amora memakai pakaian yang disarankan oleh Prince, celana panjang ketat, dengan kaos yang dipadukan oleh jaket kulit. Tidak lupa sepatu bot. Prince sendiri hanya memakai celana kulit biasa serta kemeja hitam namun aura angker sudah terlihat di wajahnya.


Mereka menaiki mobil tanpa sopir. Mobil edisi khusus karena anti peluru. Mobil yang akan Prince gunakan ketika sedang melakukan kegiatan malam yang berbahaya.


"Kita akan ke klub malam lagi kah?" tanya Amora dengan wajah innocentnya.


Prince memutar bola matanya malas. Pertama kali membawa Amora sudah membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Di harus menembak kliennya karena Amora. Padahal kliennya itu adalah kakak dari Luna yang berakibat buruk pada hubungan Luna dengan kakaknya kini.


Mobil memasuki sebuah gedung perkantoran yang tidak terpakai. Nyali Amora yang besar kini menciut.


"Kau tidak salah masuk kan?" tanyanya sambil melirik ke arah Prince.


"Kenapa takut?" Amora menatap ke arah gedung gelap yang tidak berpenghuni itu. Hanya ada tumbuhan yang tidak terawat dan tembok penuh lumut.


Satu-satunya cahaya ditempat itu hanya lampu mobil Prince. Mobil mulai masuk ke basemen lantai bawah tempat parkir berada. Bulu kuduk Amora langsung naik semuanya.


Ingin menjerit takut, tapi malu karena perkataannya yang tidak percaya pada Prince membuat pria itu mengajaknya ikut serta.


"Kau mau bekerja atau ekspedisi berburu hantu. Kalau kau mau melakukan itu jangan ajak aku. Aku benci dengan hantu."


"Kau tidak takut mati tapi takut hantu?" kata Prince tertawa sambil menghentikan kendaraannya di sebuah tempat parkir.


"Ayo turun," ajak Prince.


"Aku tidak mau turun, aku lebih suka di mobil ini saja. Lebih aman." Amora mengira jika Prince sedang mengerjainya. Mana ada kerjaan di gedung tua tidak berpenghuni. Apalagi semak belukar sampai menutup jalan yang mereka lalui.


Prince turun. Dia membuka pintu mobil milik Amora. Seketika Amora berubah menjadi panik. Pikiran aneh mulai melingkupi diri Amora. Khawatir jika Prince akan menculiknya atas perintah dari Luna.


"Apa kau akan membunuhku di sini?" tanyanya.


Bukannya menjawab Prince malah tertawa keras. "Seburuk itu pikiranmu padaku?" baliknya.


Dia lalu menggendong paksa Amora. Hal itu semakin membuat Amora waspada karena was-was.


"Tidak, turunkan aku!" berontak Amora. Prince hanya memukul keras pantat Amora sambil membawanya ke dalam. Melewati lorong panjang yang gelap. Prince hanya memakai penerang dari senter yang dia pegang.


Seorang pria tinggi besar dengan kulit hitam ada didepan pintu ruangan yang besar. Pria itu membuka sebuah ruangan yang penuh dengan cahaya.


"Selamat malam Tuan, Tuan Alfred sudah datang dan ada di dalam," kata pria itu. Prince hanya mengangguk.


Sesampainya di dalam, kedatangan mereka di sapa oleh sebuah teriakan.


Amora sendiri melihat ruangan besar yang bersih dan dengan peralatan canggih yang ada di sana. Dengan posisi terbalik dia terpana.


'Ruangan apa ini?'

__ADS_1


"Siapa yang kau culik itu, Prince?" tanya Alfred.


"Kakak Ipar," jawab seorang wanita.


Prince menurunkan Amora. Amora tertegun menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan bingung. "Ini ruangan apa?"


Ada delapan ruangan di ruangan itu, belum termasuk dia dan Prince. Dua orang berada di depan monitor besar, dua orang lain mengecek senjata yang ada di sebuah meja besar dan seorang duduk berhadapan. Dan satu orang wanita lainnya sedang membawakan sebaki penuh cangkir berisi kopi. Semua berdiri mendekati Amora.


"Ini tempat kerjaku," terang Prince.


"Hallo Kakak ipar, kita pernah bertemu di acara pernikahanmu hanya saja mungkin kau tidak faham terhadap kami," sapa Celine mengulurkan tangan. Amora menerima uluran tangan itu. "Celine."


"Amora," jawab Amora. Dia melirik ke arah Prince.


"Key."


"Andi."


"Pras."


"Bastian."


"Robby."


"Rizal."


"Sam."


Semua memperkenalkan diri pada Amora dengan gaya khas mereka.


Satu orang yang memanggil mereka hendak bangkit dan mengulurkan tangan, tapi Prince malah menepisnya.


"Kalian tidak perlu berkenalan, dia banyak virusnya."


"Kau keterlaluan, aku juga ingin berkenalan dengan kakak ipar yang cantik ini." Alfred maju ke depan.


Namun, Prince menghalanginya. "No, no ...."


"Sepertinya Kak Prince sudah bucin denganmu," bisik Celine pada Amora. Amora melirik pada Prince dan tersenyum.


"Celine!"


"Aku tak mengatakan apapun, lagipula jika kau bucin dengannya tidak masalah kan?" ujar yang lain.


Celine mendapatkan tatapan tajam dari Prince.


"Sorry, Kak," katanya sambil tertawa dan pergi ke arah Sam yang sedang mengoperasikan laptop.

__ADS_1


Julian mendekat ke arah meja menjejerkan berderet senjata. Menelitinya. Alfred mendekat.


"Apakah sesuai dengan apa yang kau pesan?" tanya Alfred.


"Hmmm." Prince memasukkan isi pistol. Lalu mengarahkan tembakan pada Amora membuat wanita itu terkejut lalu pelatuk di tarik. Amora memejamkan mata karena terkejut.


Kakinya terasa lemas seketika. Jantung dan nafasnya berhenti seketika. Pasrah dengan keadaan. Prince memang ingin membunuhnya. Sedetik kemudian tidak ada rasa sakit yang dirasakan. Pelan-pelan dia membuka matanya.


Semua menatap ke arah lain. Tepat ke belakang tubuhnya. Amora menoleh dan melihat seekor ular berwarna hitam teronggok tidak berdaya dan berlumpuran darah di lantai. Bagian kepalanya pecah.


"Tarikan pistolnya kurang mantap, aku kurang menyukainya," kata Prince santai. Hal itu seperti biasa baginya.


Amora menutup mulutnya sambil mundur. Dia mendekat ke arah Prince dan memeluknya erat.


"Untung kau melihatnya jika tidak!" ujar Alfred


"Sk Parjo mengapa dia lalai menjaga tempat ini! Mana itu awaknya," seru Robby dengan logat Melayunya yang kental.


Prince mengusap punggung Amora lembut. Wanita itu masih merasa lemas karena terkejut. Rasanya tidak karuan, antara tegang dan terharu tadi bercampur aduk menjadi satu.


"Terimakasih," kata Amora lirih.


"Bukankah sudah kukatakan jika aku akan selalu melindungimu."


Amora tersenyum. Sedangkan yang lain saling bertatapan dan tersenyum memberi tanda dengan menggerakkan alis.


"Kau duduk dulu di sini dengan tenang. Jangan berbuat ulah. Aku akan selesaikan ini cepat setelah itu kita pulang," kata Prince lembut.


"Ekhm, tumben lembut, biasanya saja ...," ledek Alfred.


Prince memukul punggung Alfred ketika melewatinya. "Aww."


"Kau lihat kan Kakak Ipar, dia itu monster jangan dekat-dekat dengannya," kata Alfred.


"Kakak ipar mau minum apa? Biar aku ambilkan."


"Kopi latte, aku menyukainya."


"Ambilkan susu saja atau sari kacang hijau," ujar Prince tetap sambil memperhatikan senjata yang dia pegang.


Celine meringis. "Susu? Mana ada di sini," gumamnya.


Amora hendak mengatakan tidak usah tapi Prince menyelanya.


"Kau keluar dulu belikan itu," suruh Prince. Celine menggelengkan kepala.


"Ada sari buah, jika kakak ipar mau."

__ADS_1


"Hmm, itu juga boleh."


__ADS_2