Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 21 Sikap Prince yang Mengecewakan


__ADS_3

Prince yang merasa bahwa Luna sudah terlihat tenang, dia lantas mengambil jarak dengan perempuan itu.


"Prince, kenapa kau harus menembak Boris? Semua keluargaku khawatir saat mengetahui hal itu." Luna membuka perbincangan.


Prince menatap lurus ke depan, "Dia mengganggu Amora, dan aku tidak bisa diam saja melihatnya," jawab Prince.


Luna mendengkus, mendengar Prince melukai Boris karena demi Amora, membuat hatinya mendidih.


"Kau melakukannya karena membela Amora? Prince, katakan padaku. Apa gadis itu sangat berarti di matamu dibanding aku?" Luna tiba-tiba saja mengatakan hal itu.


Prince mengernyit, dia tidak mengerti dengan ucapan Luna barusan. "Kau bicara apa, Luna? Aku melakukan yang seharusnya kulakukan, bagaimanapun juga ... Amora adalah istriku, dia tanggung jawabku."


"Dia istri keduamu, Prince. Akulah istri pertamaku. Apakah kau mulai menaruh hati padanya?" Luna menatap Prince dengan mata memicing.


Prince terdiam, dia mencerna ucapan Luna. "Luna, dengar ... aku menikah dengan Amora karena kesepakatan keluarga kami. Apa kau meragukanku? Aku hanya mencintaimu, Luna."


Luna terdiam, dia tidak ingin memancing keributan dengan Prince. "Maafkan aku, Prince. A-aku hanya takut saja. Setelah kejadian kemarin, bagaimana dengan hubungan kita, Prince?" Luna menundukkan wajah, jarinya saling bertaut.


"Aku akan menjelaskan semuanya pada keluargamu, Luna."


"Bagaimana kalau mereka benar-benar menentang hubungan kita, Prince? Aku tidak mau berpisah darimu." Luna kembali terisak, dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


Prince merangkul pundaknya, mencoba untuk menenangkan.


"Itu tidak akan terjadi, Luna. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja," ucap Prince, dia mengusap pucuk kepala Luna dengan begitu lembut. Prince memperlakukan Luna seperti bayi, membuat Luna yang menangkup wajahnya, dia tersenyum di balik sana.


Di saat bersamaan, Amora masuk ke ruangan dan melihat Prince yang merangkul bahu Luna. Amora mendesis, rasanya cangkir yang berisi teh hangat ini ingin sekali dia lemparkan begitu saja ke arah dua orang itu.


Luna yang melihat kehadiran Amora, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat wanita itu cemburu. Luna segera menghambur ke dada bidang Prince dan menangis di sana.


"Apa kau yakin semuanya akan baik-baik saja?" ucap Luna, dia bersikap manja pada Prince, dan itu membuat Amora muak melihatnya.


Prince yang ingin menjawab perkataan Luna, sekilas dia melihat tatapan nyalang dari gadis yang mulai melangkah mendekatinya.

__ADS_1


"Ya, aku berjanji, bahwa hubungan kita akan baik-baik saja ... Luna."


Mendengar Prince mengatakan itu, hati Amora bagaikan tersengat listrik. Dia benci pada pria itu, Amora semakin memegang erat cangkir di tangannya.


Luna yang melihat Amora sudah datang, dia pura-pura baru menyadari.


"Amora, maaf ... aku tidak tahu kalau kau ada di sini. Apa kau membawakan teh untukku?"


Amora dapat melihat jika Luna berbicara sambil tersenyum menyeringai ke arahnya. Namun, Amora tidak akan terpancing oleh sikap palsu itu. Amora tetap bersikap tenang, seolah apa yang dilakukan Prince dan Luna tidak membuatnya cemburu sama sekali.


"Ya, ini minuman buatmu, Luna. Aku juga membawakan minuman untukmu, Prince." Amora meletakkan cangkir milik Prince terlebih dahulu. Kemudian, Amora mendekati Luna, saat dia hendak meletakkan cangkir berisi teh panas itu, tiba-tiba saja Amora berpura-pura kakinya tersandung oleh heelsnya sendiri. Sehingga salah satu cangkir yang dipegangnya tumpah.


"Aaaakhh ...."


Luna menjerit saat tumpahan air panas itu mengenai kakinya yang mulus. Dia beranjak dan melompat-lompat menahan rasa perih akibat terkena air panas.


"Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar, dasar bodoh!" Luna bahkan tidak menyadari bahwa dia baru saja memaki Amora.


Prince yang mendengarnya, dia mengerutkan kening. "Luna, tenanglah ... aku akan mengambilkan obat untukmu." Dia berusaha untuk menenangkan, dan Amora justru meninggikan satu alisnya.


"Maafkan aku, Luna. Aku tidak sengaja," kata Amora, dia juga bisa berakting seperti Luna barusan.


"Brengsek!" desis Luna lagi.


Luna yang terus saja mencaci Amora, dia tidak sadar kalau Prince terkejut melihat sikapnya yang tidak pernah dia ketahui.


Sedangkan Amora, dia tersenyum bangga karena bisa menunjukkan pada Prince, siapa Luna sebenarnya.


Melihat Luna yang masih melompat-lompat di depannya. Prince menghentikan wanita itu.


"Luna, cukup! Kau jangan terlalu banyak bergerak, kau sedang hamil. Kau juga tidak seharusnya mencecar Amora, kan? Dia tidak sengaja," ucap Prince.


Luna yang mendengar ucapan Prince, tubuhnya membeku di tempat. Luna melirik ke arah Amora, gadis itu memasang ekspresi sedih dengan wajah sedikit tertunduk.

__ADS_1


"Luna, aku minta maaf. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Kakiku tersandung oleh sepatuku sendiri," ucap Amora.


"Kau lihat, kan? Amora tidak sengaja melakukannya," ucap Prince, pria itu seolah membela Amora dari pada Luna.


Luna mengetatkan rahangnya, dia menatap Prince. "Prince, di sini aku yang terluka, kenapa kau justru membela Amora? Kau tidak perhatian padaku lagi, Prince." Luna membuang muka.


Prince yang tersadar akan ucapannya barusan, dia mengusap wajahnya. "Itu karena kau berkata kasar pada Amora, aku tidak menyukainya."


Seketika itu pula, Luna terdiam. Dia baru sadar bahwa tadi dia sempat mengumpat di depan Prince. Luna merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.


"Prince, a-aku hanya kesal, itu saja. Aku tidak berniat membentak Amora tadi. A-aku ...."


Luna seperti kehabisan kata-kata, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kebodohannya tadi.


Prince yang masih berdiri di depannya, pria itu bahkan tidak peduli dengan kaki Luna yang tersiram air panas.


Luna yang mulai menyadari tatapan Prince menjadi dingin ke arahnya, tiba-tiba saja dia memegangi perutnya.


"Aduh, Prince ... perutku keram," ucap Luna, dia meringis seperti menahan sakit di perut bagian bawah.


Amora dan Prince yang melihat Luna berjongkok sembari memegangi perut langsung mendekat.


"Luna, kandunganmu. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang."


Prince yang tidak mau membuang waktu lagi, dia langsung menggendong Luna gaya bridal. Di depan Amora, Prince membawa Luna ke luar.


Amora terdiam di tempat, sekilas dia melihat Luna yang menampakkan wajahnya, wanita itu tersenyum menyeringai ke arahnya.


Amora yang tidak mau termakan oleh ejekan itu, dia membalas senyuman Luna. Seolah apa yang dilakukan Luna tidak berarti apa-apa baginya.


Bahkan Prince melupakan Amora, pria itu pergi begitu saja bersama Luna.


Amora mendudukkan tubuhnya di sofa, dia menangkup wajah dengan kedua tangan. Kejadian hari ini benar-benar membuat kepalanya serasa ingin pecah.

__ADS_1


“Aku harus pergi dari sini!” Amora beranjak dan mengambil tas jinjingnya, dia meninggalkan kantor dan menuju ke suatu tempat untuk menenangkan pikirannya.


__ADS_2