Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
siapa dia?


__ADS_3

Mey tidak tidur semalaman ia terus menangis dan menghubungi Hugo lewat ponsel. Pria itu tidak menjawab sama sekali panggilannya. Kemana ia harus mencari Hugo?


Paginya sekali dengan mata sembab ia pergi dengan ojol kerumah mertuanya yang belum pernah jadi injaknya lima tahun lalu tapi disana tidak ada orang. Kata satpam penjaga mama majikan pergi liburan ke Bali.


Ia bertanya pada satpam itu alamat Hugo. Dahi pria berjanggut lebat dan bertubuh gempal itu mengerenyit "mbak, gak bisa sembarangan datang ke rumah artis, bahaya mbak! aku tau mbak adalah fans fanatiknya mas Hugo tapi jangan nekatlah"


"Aku bukan fans nya, aku istrinya!"


Satpam itu menilik pakaian dan penampilan Mey lalu geleng kepala menyilangkan jari di keningnya, menganggap Mey gila. Setelah itu ia tidak menghiraukan Mey lagi.


"Maaf mbak, bapak itu benar! mbak gak usah membuang waktu buat ketemu artis, ntar aja kalau dia manggung mbak ikut nonton" ujar tukang ojol yang mengantar Mey sambil menghidupkan mesin motornya.


"Kalau jadi fans itu biasa- biasa aja mbak gak usah fanatik, kasihankan artisnya di kejar- kejar kayak gini"


"Aku gak mau ketemu Hugo, aku hanya ingin anakku di kembalikan!"


Pria ojol itu melongo " maksud mbak, Hugo jadi penculik anak gitu?"


"Bukan, dia membawa anakku"


"Hugo jadi baby sister?!!!"


"Bukan pak"


"Aku mau saja mengantar ibu pergi tapi ini bayarkan?" tukang ojol itu mulai ragu pada Mey yang di anggapnya kurang waras.


"Bayar kok, tapi bapak tau dimana apartement Hugo kan?"


"Tidak! saran aku, lebih ibu pulang saja"


"Ya sudah deh pak aku sampai disini saja" Mey membayar ongkos dan melanjutkan dengan jalan kaki. Mey kira bertanya di perkotaan sama kayak didesa bisa bertanya alamat sembarangan di tengah lautan penduduk yang sangat padat itu. Mey, meski sudah lama tinggal di kota tapi masih seperti katak dalam tempurung. Ia sangat bodoh dalam segala hal.


"Mey, hey!" sebuah mobil berhenti dekat Mey. Mey menoleh, dokter Surya.


"Kemana? ayo naik!"


"Aku mencari apartement Hugo"


Dahi Dokter Surya mengerenyit. Setaunya Hugo itu adalah seorang artis. Untuk apa Mey mencarinya?.


"Nanti saja ceritanya, ayolah"


Akhirnya Mey menurut ternyata Dokter Surya bersama Rhea. Anak perempuan itu bermain boneka duduk di sebelah dokter Surya.


"Bagaimana keadaan Alfi? maaf ya aku tidak sempat melihatnya tadi ,aku kira kalian masih tidur, pintu rumah kalian tertutup rapat"


"Alfi di bawa papanya semalam, aku gak tau bagaimana keadaannya sekarang"


Rumah dokter Surya memang tidak jauh dari rumah Mey tapi ia tidak pernah lihat suami Mey kayak apa. Selain karena ia orang sibuk, suami Mey pasti juga orang sibuk, begitu pikirnya.

__ADS_1


"Apa Alfi mengalami demam dan di bawa lagi kerumah sakit?"


"Bukan dok, aku dan papanya...."Mey menggigit bibir tidak mau menceritakan rumah tangganya pada orang yang baru dikenalnya.


"Biasa aja Mey, tidak semua hal baik untuk di sembunyikan kadangkala kita perlu tempat untuk berbagi agar tidak stress"


Ucapan dokter Surya benar juga sekarang ia tidak tau harus berbagi cerita sama siapa.


"Kadang orang lain bisa menyarankan solusi pada masalah kita Mey"


Mey diam ia memperhatikan Rhea sedang main dengan tenang kadang bocah itu mengambil jajanannya dan mengunyahnya. Ia tidak rewel.


"Mama Rhea mana dok? kok tidak pernah kelihatan?"


"Kisahnya panjang Mey, aku pasti akan berbagi cerita padamu, bagaimana kalau kita makan siang dulu?"


Mey memang belum makan dari kemaren tapi ia tidak ada seleranya untuk makan. Kepergian Alfi dan bayang- bayang perceraiannya dengan Hugo menguncang bathinnya.


"Aku turun di saja dok, aku harus mencari Alfi, aku mencemaskan keadaannya"


"Memangnya kamu tau suami kamu tinggal dimana?"


"Kalau gak salah di apartement X" ujar Mey waktu itu tidak salah Hugo pernah memberi tahunya.


"Baiklah aku antar kamu kesana"


"Jadi merepotkan dokter, makan siang dokter dan Rhea jadi tertunda"


Dokter Surya memutar mobilnya menuju kawasan apartement itu.


"Papa..papa, Lhe pengen main diluar" Rhea mulai merengek.


"Rhe sayang ntar ya, kita belum sampai"


"Gak Le maunya cekalang!"


Ternyata kalau Rhea sudah mengamuk membuat dokter Surya kewalahan. Ia tidak mau di bujuk sedikitpun.


" Rhe, kok anak pintar nangis sih? di luar lagi panas, kalau Rhe panas- panasan nati Rhe jadi sakit" Mey ikut membujuk Rhea. Bukannya diam malah Rhea makin kejer.


"Kita beli es krim ya" bujuk dokter Surya.


"Gak mau Rhe pengen main diluar di temani papa"


"Coba deh Rhe liat keluar, di sini gak kayak taman rumah kita Rhe, di sini banyak mobil, kabut asap..." Mey menunjuk keluar.


"Rhe capek sejak tadi di mobil" Rhe makin kejang- kejang


"Kalau Rhe capek kita nyanyi aja ya.."

__ADS_1


Mey ingat dengan lagu kesukaan Alfi ada lagu doraemon yang sering di tontonnya di televisi saat Mey lagi beres- beres.


...aku ingin begini


aku ingin begitu..


ingin ini, ingin itu banyak sekali...


Semua, semua, semua


Dapat dikabulkan


dapat di kabulkan dengan kantong ajaib...


Suara Mey lumayan sih apalagi diringi tepukan tangan. Rhea yang mendengar lagu itu jadi terdiam rupanya bocah itu juga penggemar kucing berwarna biru itu. Mata Rhea mengerjap "lagi tante"


'Rhea maunya lagu apa?"


"Dora"


Mey menghembuskan nafas untung kesukaan Rhea dan Alfi sama jadi ia tidak terlalu pusing membantu dokter Surya mendiamkan Rhea.


"Itu apartementnya Mey"


Mey melihat hamparan gedung di depannya, sangat tinggi dan terlihat mewah. Di belakang bangunan itu ada lapangan golf dan lapangan olah raga lainnya. Di sebelah nya lagi ada wahana air dan bagian depan ada area taman yang sangat luas.


Ia seakan tidak percaya kalau Hugo tinggal disana. Dengan langkah berat Mey turun dari mobil Dokter Surya.


"Mey aku dan Rhea menunggu disana" Dokter Surya menunjuk taman. Mey mengangguk.


Semua yang ada disana adalah kaum elite bahkan ternyata di bangunan itu dilengkapi dengan restaurant dan mall.


"Aku ingin ke tempatnya Hugo, dia ada lantai berapa?" tanya Mey pada resepsionis. Dahi perempuan resepsinis mengerut.


"Maaf mbak, anda siapanya Hugo?"


"Aku istrinya"


"Mbak fans fanatik ya? maaf mbak, sebelum anda di usir satpam lebih baik anda pergi"


'Aku gak bohong mbak, aku kesini cuma pengen ambil anak saya"


Pegawai resepsionis itu memanggil satpam di depan. Dua orang pria mendatangi Mey dengan wajah innocent karena bagimana pun sederhananya Mey perempuan itu cantik kok, sayangnya tidak pandai saja merawat diri. Hanya mata pria yang suka kesederhanaanlah yang bisa melihat Mey.


"Ada apa?" tanya seorang satpam pada resepsinost cantik itu sambil melihat Mey.


"Dia mengaku istrinya Hugo" jawab resepsionis tadi. Dua orang pria itu tertawa "kalau menghayal jangan ketinggian mbak, mana kami yakin mbak adalah istrinya Hugo, dia belum pernah menikah dan seleranya juga tinggi, maaf mbak memang cantik tapi gaya mbak tidak meyakinkan"


Mey menghembuskan nafas ini akan sangat susah jika ia berurusan dengan pihak berwajib "baiklah , aku bisa pergi sendiri "jangan sentuh saya!" ujar Mey pada dua orang satpam didepannya.

__ADS_1


Semua yang ada di sana tertawa hingga seorang teman resepsionist datang dan bertanya "siapa dia?"


"Perempuan gila"


__ADS_2