Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
akhirnya...


__ADS_3

Konser itu usai, bunga dan kado yang telah di persiapkan Hugo masih tergeletak di samping piano miliknya. Ia membiarkan semua itu disana dan pergi dengan langkah kecewa. Ia tidak peduli pada teriakan Vino yang bertanya mau di apakan bunga itu.


"Apa bapak tidak menjemput Mey kerumah?" tanya Hugo marah pada sopir yang di suruhnya menjemput Mey saat baru saja tiba di parkiran.


"Maaf tuan, sudah berjam- jam saya di sana tapi nyonya gak pulang-pulang juga"


"Gak pulang? jadi Mey gak ada di rumah?"


"Begitulah tuan"


Hari sudah malam kemana Mey dan Hugo?


Hati Hugo meradang karena terlalu kecewa akhirnya timbullah marah di hatinya. Ia langsung pulang malam itu juga. Setiba di rumah ia menemukan Mey menyambutnya dengan wajah dingin tidak seperti biasanya. Baju yang di siapkannya untuk Mey masih berada di atas meja.


"Mama benar Mey, sampai kapanpun sikap kampungan kamu itu tidak akan bisa berubah, kamu tetaplah perempuan yang terbelakang yang tidak bisa menghargai apapun"


Hugo langsung melampiaskan kekecewaannya pada Mey tanpa bertanya apa alasan Mey tidak pergi ke acara konsernya. Mey yang juga kesal pada Hugo karena tidak mengangkat panggilannya saat Alfian di rumah sakit.


"Ya mas, aku memang orang kampung tidak bisa mengimbangi kehidupan di kota ini, aku memang perempuan bodoh yang sering di bohongi hingga berkali- kali, kau menikahiku hanya untuk menutup aib mu yang telah melecehkan aku saat itu"


"Kau yang datang padaku di saat aku sedang tidak sadarkan diri, jangan- jangan kamu yang memamfaatkan aku?"


"Aku? mas tidak sadar? aku tidak suka padamu meskipun kau di puja banyak wanita tapi bagiku kamu adalah pria bajingan"


Mey lepas kendali begitu juga dengan Hugo. Malam itu mereka bertengkar hebat saling menyebut kekurangan masing- masing. Mulai saat mereka bertemu di kecelakaan itu sampai detik dimana mereka saling membutuhkan satu sama lain.


Hugo dan Mey lupa bahwa Alfi adalah dosa terindah mereka dan saat ini berada di lantai atas terbaring karena kecelakaan tadi siang.


" Aku kecewa sama kamu Mey, sangat kecewa ! aku mengorbankan segalanya demi kamu tapi lihatlah!"

__ADS_1


"Aku yang lebih banyak kecewa sama kamu, dimana kamu saat aku dan Alfi butuh kamu?"


"Aku ini artis, kamu tau itu!"


"Aku tau tapi dimana tanggung jawab kamu?"


"Apakah semua ini tidak cukup? aku bertanggung jawab atas kamu dan Alfi kalau tidak untuk apa aku menikahi kamu yang hanya seorang perempuan bodoh" Hugo berteriak di depan wajah Mey.


"Yang lebih bodoh itu kamu! sudah tau aku bodoh malah dinikahi"


"Aku akan cari perempuan yang lebih cantik dan pintar dari pada kamu"


Mey menangis sedih Hugo tidak tau bagaimana perasaannya. Ia tidak tau kalau Hugo menyuruhnya untuk pergi. Padahal ia pulang kerumah dari rumah sakit hampir berbarengan dengan Hugo.


"Aku capek, aku gak akan kesini lagi"


"Mas!!" dengan cepat Mey berlari memegang tangan Hugo.


"Terserah aku mau kemana, urus saja urusan kamu"


"Mas gak boleh pergi!" tangis Mey makin pecah.


"Gak baik pergi dalam keadaan marah mas"


"Bagaimana aku tidak marah?! kamu tidak menuruti perkataan aku!" bentak Hugo kasar.


"Kasihan Alfi mas jangan teriak"


"oh ya, selama ini kamu keberatan dengan anakku kan?" otak Hugo error karena marah dengan langkah cepat Hugo pergi ke lantai atas ke kamar Alfi. Mey tidak mau ketinggalan ia pun cepat menyusul.

__ADS_1


"Jangan kamu bawa Alfi!!!"


"Pada akhirnya dia akan bersama aku Mey, memangnya kamu bisa memenangkan Alfi di pengadilan?"


"Mas mau menceraikan aku?"


"Jika itu yang aku mau!!"


"Mey gak mau cerai! ingat Alfi"


"Alfi akan jadi tanggung jawab aku!"


"Jangan pisahkan aku dan Alfi, siapa yang akan menjaganya?" Mey menarik baju Hugo di tiba pintu kamar Alfi.


" Banyak perempuan yang mau menggantikan posisi kamu Mey, kamu lupa?"


Hati Mey teriris pedih. Hugo benar banyak perempuan yang mau jadi istri Hugo. Tapi Ia tidak mau anaknya di asuh oleh perempuan lain selain dirinya.


"Alfi baru saja kecelakaan!"


Hugo membeku dan segera memeriksa tubuh anaknya yang terbaring tidur. Tubuh anaknya luka sana- sini dan kepalanya di perban. Darah Hugo seakan berhenti mengalir seketika "kamu tidak menjaga Alfi dengan baik? kamu keterlaluan Mey"


Dengan cepat Hugo menggendong Alfi dan melepaskan cekalan tangan Mey dengan kasar. Bocah itu terbangun dan menangis karena mendengar suara ribut.


"Siapkan mobil pak Rudi!" teriak Hugo.


Pria empat puluh lima tahun itu dengan cepat melaksanakan perintah Hugo.


"Mas, jangan bawa Alfi...!" Mey berteriak histeris. Ia mengejar Alfi sampai ke halaman namun Hugo tidak peduli.

__ADS_1


Akhirnya mobil itu bergerak menjauh meninggalkan Mey yang menangis keras.


__ADS_2