Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
air dan api


__ADS_3

Jantung Mey berdetak tidak karuan melihat wajah dengan senyum penuh arti didepannya. tidak ada cacat di wajah itu semuanya sangat sempurna dan terlalu tampan malah. Jika sekali kedip saja bisa membuat perempuan jatuh cinta lalu bagaimana dengan senyuman dan tatapan itu?


Perempuan bisa jatuh berkali-kali. Aura di ruangan itu berubah dan suhunya juga berubah tidak menentu membuat tubuh Mey panas dingin. Ia menepis kelancangan pikirannya yang mulai mengarah pada dua satu plus.


Jiwa Mey berperang hebat menepis rasa rindu dengan bayangan Hugo tidur bersama Kikan, bermesraan pada para perempuan dan masih banyak lagi yang membuat dirinya kecewa.


Hugo berdiri membelakangi pintu sambil tersenyum pada Mey. Sekarang hanya mereka berdua di dalam itu. Ketika orang yang di rindukan ada didepan mata dengan jarak yang begitu dekat tidak peduli benci orangnya benci sekalipun tapi kitanya tetap sayang. Seperti Mey dan Hugo yang sekarang bagai air dan api. Mey apinya dan Hugo airnya. Tapi api Mey sangatlah besar karena tersiram luka.


Hugo rasa ingin memeluknya tapi rasa ingin membunuhnya.


"Buka pintunya! lepaskan aku!" Mey merebut kunci dari Hugo dan pria itu meninggikan dengan tangannya ke udara. Mey yang pendek kesusahan menjangkau kunci itu.


"Ambil saja kalau bisa"Hugo memasukkan kunci itu kesaku celananya setelah itu tersenyum penuh kemenangan pada Mey.


"Kamu jahat bangat sih, bohongin aku" Mey memukul Hugo tapi pria itu malah menyambut tangan Mey dan memeluknya.


"Ih lepaskan"


"Sebentar saja Mey, rindu bangat tau"


"Ini salah, kita bukan suami istri lagi"


"Ini salah aku Mey karena melepaskan kamu, kalau aku tau mencintai sangat sulit maka pasti aku tidak akan melepaskan kamu" Hugo memeluk Mey erat. Cukup begini saja rasanya hati Hugo sangat damai.


Mey melepaskan pelukan Hugo dengan wajah memerah dan jantung yang berdegub kencang. Perempuan itu mundur bukan karena takut, tapi karena tidak mau terjatuh lagi, jatuh pada pesona Hugo.


Jantung Mey makin tidak karuan, apakah ini adalah sebuah halusinasi. Harusnya Hugo tidak begini melemahkan pertahanannya. Ingat honey mu Mey!.


"Aku rindu bangat Mey, kamu gak rindu sama aku?"


"Gak"


"Ya sudah deh aku saja yang rindu, sini aku peluk"


"ish, ngeselin bangat sih"

__ADS_1


"Tapi sayang kan"


"Sayang kalau di pungut kembali"


"Jangan gitulah Mey ntar adik Alfi nongol sebelum rujuk"


"Hugo!!!!"


"Apa sayang"


"Kamu bikin aku emosi"


"Tapi kalau aku tambah cinta deh kayaknya"


'Aku aduin bapak"


"Gak apa-apa namanya mertua, kalau kita punya anak perempuan aku juga bakal kayak gitu"


"Mimpi sana"


"Sekarang? ayo"


"Kamu belum makan kan, kita makan yuk!" Hugo meraih tangan Mey dan mengajaknya ke meja pantry. Mey menepis tangan Hugo. Pria itu melihat ke Mey sambil sedikit mengancam "aku bisa apa saja Mey"


Mey jadi gugup, Hugo kan separuh iblis. Ia terpaksa mengikuti Hugo duduk di kursi.


"Kamu jangan begini Hugo, sebentar lagi aku akan punya suami, aku gak mau pernikahan aku rusak"


Hugo menghempaskan gelas di meja "bisa tidak kamu jangan bahas itu lagi, kamu tidak akan aku biarkan menikah dengan siapapun"


"Kamu jangan egois Hugo"


"Karena aku peduli dengan hatiku, aku hanya ingin kamu untukku" Hugo meraih dagu Mey dan menatap mata perempuan itu dalam.


"Kamu hanya boleh denganku" Hugo mencuri kecupan di bibir Mey setelah itu ia duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu mirip psikopat"


"Bisa jadi seperti itu Mey, aku gak rela kamu di sentuh orang lain selain aku"


Mey gak mau melawan, dirinya berada dalam zona tidak aman. Hugo bisa saja nekat berbuat apasaja.


"Apartement siapa sih?"


"Papa mertua"


"Ingat ya.."


"Apa yang harus dingat? makan gih, aku lapar" Hugo membuka kotak makanan yang sudah ia pesan karena semuanya telah terencana di otaknya. Padahal tadi Mey ingin bilang, ingat ya kita bukan suami istri lagi. Perempuan itu melihat ke Hugo dengan kedongkolan yang di tahan.


"Makan Mey! atau aku suapin?'


"Kamu kenapa gini sih, apa gak cukup hanya Kikan, kasihan dia sedang hamil anak kamu"


"Anak aku Alfi, kamu lupa?'


"Kamu itu laki-laki macam apa sih?"


"Lha kamu kan tau aku laki-laki seperti apa, hanya kamu yang tau"


Wajah Mey berubah merah padam. Kenapa arah pembicaraan Hugo terus kearah sana sih.


Hugo makan dengan lahap setelah beberapa bulan belakangan makan dan tidurnya tidak teratur karena kepikiran Mey terus. Sekarang ada Mey di depannya dan semuanya merasa sangat cukup. Ini belum terlambat untuk kembali bersama karena kebahagiaannya ada bersama Mey.


Malam itu Mey selalu jaga jarak dengan Hugo tapi pria itu terus mendekati dan membawa ke dekapannya. Mey terus menghindar ke segala sudut ruangan tapi tangan kokoh itu terus berhasil menjangkau. Hampir saja rindu dan nafsu itu jadi satu karena Hugo tidak mau melepaskan kungkungan Mey sepanjang malam.


***


Hugo terbangun dan mengusap matanya sebelah tangannya menjulur memeriksa tempat di sebelahnya mencari sosok Mey tapi tempat itu kosong. Dengan cepat ia bangkit dan melihat kesekitar. Pintu kamar terbuka lebar. Apa mungkin Mey di kamar mandi? Ia berlari kesana memeriksa tempat itu, dan kosong.


"Mey!!!"

__ADS_1


Ia berlari ke pintu dan ketika di putar pintu itu terbuka ternyata pintu sudah tidak terkunci lagi. Dengan cepat Hugo memeriksa saku nya, semua kosong. Kunci dan ponsel Mey yang semalam di umpetkan disana sudah tidak ada lagi.


Hugo berlari ke kamar mandi, cuci muka setelah itu menyambar kunci mobil dan buru-buru pergi.


__ADS_2