
Hugo gelisah dalam lift dan mondar-mandir di sana karena lift itu sangat lamban untuk sampai di lantai dimana Mey berada.
Lima menit di lift rasanya sudah berabad berlari menyurusi lorong kakinya bagai tidak lagi memijak dilantai setiba di depan pintu hotel ia mengambil nafas sejenak dengan dada turun naik. Sambil memejamkan mata ia memutar handle pintu.
"Mey!"
Hugo menuju ranjang ia terbelalak dan nafasnya seakan terhenti melihat tempat tidur itu kosong.
"Mey, kamu dimana Mey?" teriak Hugo seraya memeriksa ruangan. Tidak ada jejak mey disana tempat itu rapi bahkan pakaian Mey yang tadi berserakan di lantai entah kemana. Apa dokter Surya membawa Mey kabur bersamanya? dan Mey memakai pakaian tak berbentuk itu.
"Aaaah Mey!!!"
Bodohnya dia harusnya tadi pintu di kunci saja agar Mey tidak kemana-mana atau perempuan itu diikat saja.
Dada Hugo rasanya sangat hangus seperti terbakar tapi entah karena api apa. Mungkin karena marah ia kan gampang emosi apalagi jika berurusan dengan Mey yang banyak salah di matanya.
"Aku akan bunuh dokter itu Mey, kau lihat saja! aku akan bunuh dia!!!" teriak Hugo marah sambil mengepalkan tinju ke udara seperti orang yang siap perang.
"Mas kenapa?"
Hugo kaget dan menoleh ke arah pintu kamar mandi. Mey keluar dari sana memakai kimono yang disediakan hotel. Sepertinya ia baru habis mandi rambutnya tertutupi handuk. Tangan Hugo yang mengacung tinggi diudara perlahan turun kebawah.
Dada Hugo yang tadinya hangus tiba-tiba saja terasa plong dan nafasnya yang tadi bengek menjadi lancar. Itu berarti teman perempuan yang di maksud dokter Surya tadi bukanlah Mey.
"Kamu kemana saja sih?" tanya Hugo keki sembari menghampiri Mey. Perempuan itu memundurkan langkah melihat Hugo awas.
"Gak kemana-mana, memangnya mau kemana lagi? orang gak punya baju juga" sungut Mey sambil terus mundur.
"Ya baguslah itu berarti kamu gak bisa kemana-mana"
"Mas tega sama Mey" air mata Mey hampir tumpah hatinya sakit mengingat kekasaran Hugo padanya.
"Siapa suruh jadi jalang"
Mey mentok kedinding, Hugo terus memburunya dan berhenti di depan wajah Mey. Tangannya hendak memeluk Mey dengan erat mengurangi kecemasan yang ada namun terhenti di begitu saja. Perlahan ia menarik tangannya ke belakang.
"Mas yang memperlakukan Mey kayak jalang" ujar Mey. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Hugo bisa melihat dengan jelas bibir yang basah itu bergerak lambat dimatanya.
"Karena itu pantas" hembusan nafas Hugo terasa hangat di wajah Mey. Tatapan itu tajam dan membius, dada mereka sama-sama dirasuki getaran aneh. Rasanya sangat dalam dan damai. Putaran waktu pun bagai berhenti sejenak.
"Mas gak pernah peduli dengan hati Mey" suara Mey berbisik.
"Apa kamu peduli dengan aku?"
"Tentu saja, mas papanya Alfi"
"Hanya itu?"
Mey mengangguk. Hugo mundur dengan wajah kesal entah apa yang di tuntutnya pada Mey. Pengakuan itu tidak menggembirakan hatinya sama sekali.
Ponsel Hugo bergetar dengan cepat ia mengangkat panggilan itu "ada apa pa?"
"Alfi sudah di bawa pulang oleh Vino, kamu juga harus bawa istri kamu pulang kerumah malam ini juga, ini perintah kakek"
__ADS_1
Panggilan di seberang sana di putuskan jika mendengar kata kakek sudah pasti Hugo tidak akan berani melanggar.
"Kita pulang!"
"Pulang kerumah dekat rumah dokter Surya?"
"Tidak" jawab hugo kesal.
"Gas mulu, perasaan Mey pria itu gak pernah datang bulan"
"Itu karena kamu ngeselin"
"Iya tau, mas Hugo baik kok gak ngeselin" balas Mey jutek "sekarang saja pulangnya pake handuk"
Hugo hampir lupa ia mengecek ponselnya harusnya pesanannya sudah datang.
"Tunggu sebentar"
Tidak lama kemudian pintu di ketuk dari luar. Hugo bergegas membuka pintu. Seorang kurir datang mengantar paket.
"Dengan pak Hugo?"
"Ya saya sendiri"
"Paketnya" ujar kurir tersebut sambil mengasihkan sebuah kotak pada Hugo.
"Terima kasih" Hugo mengambil kotak tersebut dan membawanya kedalam "nih pakaian kamu"
"Mas dapat dimana?"
'Iya, mas yang beli?" mata Mey berbinar seolah tidak percaya Hugo melakukan itu untuknya. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah baju kaos dan celana panjang. Lumayan dari pada pulang bawa handuk hotel. Dengan cepat Mey ganti pakaian ke kamar mandi.
Pintu kembali di ketuk Hugo kembali membukanya ia mengira itu pasti adalah pekerja hotel yang memeriksa para tamu hotel yang di undang ke pesta. Malam ini seluruh tamu boleh menginap disana memilih kamar sendiri karena semua pintu tidak dikunci dan fasilitasnya juga dilayani secara gratis.
"Paket!'
Dahi Hugo berkerut perasaannya ia memesan hanya sekali.
"Salah orang kali"
"Atas nama Mey kamar 0**" kurir itu mengasihkan paket itu pada Hugo.
"Pesanan kamu datang Mey" beritahu Hugo sembari membawa kotak itu kedalam dan mengasihkan kotak itu pada Mey.
"Mey gak pesan apa-apa" Ia mengambil kotak itu dan memeriksanya "ini benar nama Mey,mas'
"Kamu pesan lewat apa?"
Mey menggeleng "mas kan tau Mey gak punya ponsel! baru tadi mas pecahin, mas lupa?"
Mey membuka kotak ditangannya dan mengeluarkan sebuah gaun berwarna biru jika dilihat pakaian itu sangatlah bagus dan belinya juga pasti tidak murah.
"Buang mey"
__ADS_1
Mey menggeleng "gak ah mas, sayang ini kan pakaianya sopan, mas gak boleh marah"
Perempuan itu jalan duluan keluar dari sana diikuti Hugo kali ini Mey mengamankan pakaian itu di dadanya sambil memeluk erat. Dalam hati ia mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membelikan pakaian itu untuknya. Bukan karena senang tapi lebih karena menghargai karena telah peduli padanya.
Hugo mengikuti langkah Mey curiga siapa yang membelikan pakaian itu untuk Mey? karena tidak mungkin Mey yang memesan pakaian itu. Ia ingin melempar pakaian itu kembali tapi malam ini sudah banyak barang-barang Mey yang berakhir di tangannya jika ia membuang benda terakhir itu takutnya Mey murka.
Setiba di parkiran Hugo mengira semua orang sudah istirahat atau pulang karena hari sudah memasuki dini hari. Perkiraan Hugo salah ternyata disana banyak para wartawan yang masih stand by, wartawan seleb dan wartawan mengejar berita. Saat hugo datang mereka semua memburu Hugo. Dengan cepat hugo meraih Mey yang berjalan di depannya dan mengamankan dalam pelukan setelah itu ia membuka toksedo menutup kepala Mey dengan itu.
"Diam saja jangan bicara" ujar hugo.
Mey mengangguk meski nafas Mey sesak jalan pun tidak kelihatan karena matanya tertutup.
"Siapa yang ada dalam dekapan anda Hugo?"
"Apa anda akan mengambil alih salah satu perusahaan Adyatama?"
"Apa benar Alfi adalah putra anda, jika iya siapa ibunya? apa dari kalangan artis juga? apa kalian mempunyai anak di luar nikah?"
Hugo tersenyum menanggapi semua pertanyaan itu "aku akan jawab semua pertanyaan itu dengan singkat karena hari sudah hampir pagi istri aku butuh istirahat"
'Jadi dia adalah istri anda Hugo? kenapa anda tidak mengenalkannya pada publik?"
"Apa anda akan menjadi pimpinan stars hotel ataukah stars entertainment?"
Nafas Mey sudah sangat sesak tambah lagi dengan kehadiran orang-orang di sekelilingnya membuat kepalanya makin pusing. Kalau penutup kepalanya dibuka sedikit gak apa-apa kali ya? ia butuh udara. Mey menyibakkan sedikit toksedo yang menutupi wajahnya dan mengintip keluar.. Rupanya Hugo mengetahui hal itu dan ia menarik Mey makin kuat kepangkuannya.
"Hugo!!"
Siapa lagi itu? tanya Mey dalam hati.
Kikan muncul menerobos padatnya wartawan. Para wartawan yang menyorot Hugo mengarahkan kamera pada kikan. Gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan semua itu ia hendak mengamit tangan Hugo dan membawanya pergi namun tangannya terhenti saat melihat seseorang dalam dekapan Hugo.
"Bukannya tadi anda dekat sama Kikan ya? tapi tadi dimana istri anda?" seorang wartawan mendekatkan mik ke Hugo.
"Istri?" tanya Kikan membeku. Jadi yang ada dalam dekapan Hugo itu adalah istrinya.
"Hugo dan kikan pernah menjalin hubungan lima tahun lalu, apa kalian belum move on bukankah Hugo sudah menikah?"
"Pernikahan Hugo dan istrinya mencurigakan apa kalian menikah karena insiden?"
Berbagai pertanyaan di lontarkan para wartawan itu. Langkah Hugo, Mey dan kikan melambat. Apalagi Mey yang tidak bisa melihat jalan sama sekali. Ia sudah tidak tahan dengan situasi yang panas luar dalam tambah lagi nafasnya sudah satu-satu karena pasokan oksigennya menipis. Ia melepaskan rangkulan Hugo dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Blitz kamera langsung menghujan, mata Mey terbelalak semua orang menyorot wajahnya. Hugo pun tidak bisa lagi menyelamatkan wajah Mey.
"Sepertinya perempuan ini tadi datang bersama seseorang, bukan bersama Hugo, apa benar dia adalah istri anda ? atau jangan-jangan dia adalah selingkuhan anda , bukankah anda suka bergonta-ganti pasangan?"
"Sebutkan nama anda nona?" ujar seorang wartawan pada Mey.
"Nama saya,...Mey" jawab Mey shock.
"Mey?"
Nama yang sederhana, Kikan yang ada di sebelah Hugo melihat ke Mey dan tak kalah kagetnya.
__ADS_1
Bukankah itu perempuan yang tadi bersama dokter Surya?