
"Aku bawa Alfi pulang ke desa ya?" tanya Mey setelah Hugo duduk tenang di kursinya.
"Kamu mau pulang?"
Mey mengangguk.
"Kenapa harus pulang? kamu di sini saja" Hugo memelas "masa kamu mau ninggalin aku sih?"
"Kamu lupa? kita sudah pisah, mana bisa aku disini"
"Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok, aku gak akan buat kamu marah lagi, janji!"
"Kamu gak bisa di percaya"
"Ayolah Mey, jangan pergi"
"Aku harus menemui bapak dan mak sebelum mereka datang kesini dan mengira aku jadi menikah dengan dokter Surya"
"Kalau begitu aku ikut kamu"
"Kamu lagi sakit"
"Udah sehat kok"
"Sehat dari mana?"
"Kalau ada kamu hati aku sehat dan jantung aku juga berdetak lebih kencang"
Hugo keras kepala ingin ikut Mey pulang kedesanya. ia juga tidak mau membawa siapapun termasuk Vino selain hanya seorang sopir yang akan mengantar mereka. Katanya sangat menganggu karena pasti ia akan di layani seperti seorang pesakitan yang lemah. Baginya Mey saja cukup.
Vino menjadi sangat sibuk menyiapkan segala sesuatu keperluan Hugo dengan waktu singkat. Menyiapkan pakaian dan obat-obatan dan membawanya ke mobil serta konsultasi ke dokter untuk kemanan selama perjalanan.
Sore itu juga mereka berangkat bersama Alfi. Bocah kecil yang sudah lama tidak ada di antara mereka sekarang dia duduk di antara Mey dan Hugo. Keceriaan wajahnya berbeda berada di antara kedua orang tuanya. Ia bersandar ke Mey kadang ke Hugo. Begini saja rasanya sangat bahagia. Ada Mey dan anaknya.
"Apa kamu ingin tidur? perjalanan ini sangat jauh" tawar Mey pada Hugo. Di bangku belakang sudah di sulap Vino dan beberapa orang pekerja mansion menjadi tempat yang nyaman untuk istirahat.
__ADS_1
"Gak Mey, ini gak jauh kok! waktu kamu ninggalin aku, aku tiap hari menempuh jalan ini"
"Kamu aneh"
"Gak aneh Mey, namanya juga cinta"
"Kalau cinta ngapain kamu menceraikan aku"
"Siapa yang gak panik melihat seorang perempuan pendarahan karena ulah aku, mana dia ngaku itu anak aku lagi, takutnya aku melukai kamu dengan kehadirannya"
"Siapa tau sih, waktu itu kan berdua dengannya di kamar"
"Mengapa kamu tidak memanggil aku, padahal aku sedang berusaha lepas darinya"
"Aku liat, kamu yang nafsuan"
"Apa yang dilihat belum tentu itu faktanya Mey padahal aku udah rindu bangat waktu itu mana baru pulang di sekap lagi, udah sakit merindukan istri eh dianya malah lari ke pangkuan laki-laki lain, nyesek tau gak?"
"Biasanya juga banyak cewek ke pelukan kamu, kamu gak butuh aku"
"Gak lagi Mey, aku kapok! aku maunya sama kamu saja, aku benci saat ada orang lain memanggil kamu honey rasanya ingin aku makan saja tuh orang"
"Iya ya Mey, mulai sekarang kita gak usah bahas mantan lagi, semoga dia juga memaafkan aku yang telah membocorkan ban motornya waktu itu"
"Jadi kamu biangnya ya?"
"Habis kamunya santai mulu sama dia, kenapa gak sekalian saja dia terjun ke bendungan itu?"
"Kamu mengikuti aku sampai kesana? kamu mantan kayak cctv"
Hugo tertawa semua langkah Mey tidak luput dari perhatiannya. Mey benar dia adalah mantan suami kayak cctv"
"Bapak bilang, kepala kamu di getok bapak sebelum aku datang, apa kamu kesana pagi itu?"
"Iya, aku menemani kamu pulang kok di kereta"
__ADS_1
"Ih, kamu ini nyebelin bangat sih" Mey tidak tahan untuk mencubit lengan Hugo karena kesal. Pria itu tidak bisa untuk mengelak karena Alfi tertidur di pangkuannya.
"Bapak sopir angkotnya juga gak macam-macam sama kamu kan?"
Mey tidak tau harus ngapain ternyata semua itu dalam pengawasan Hugo termasuk angkot yang mengantar Mey kedesa. Pantas saja sopir angkot itu mau mengantarnya dan Alfi dan gak mau menerima ongkos.
Mey menjadi terharu.
"Aku hanya ingin kamu baik-baik saja, kalau aku antar kamu waktu itu kita pasti bertengkar, aku tidak punya banyak tenaga untuk bertengkar sama kamu Mey tapi kalau banyak cinta aku mau"
Mey rasanya ingin menangis, cinta Hugo sangat tulus tapi kadang tidak tau menempatkan dimana hingga terjadi salah paham. Semoga untuk kedepannya hubungan mereka makin membaik. Karena hubungan itu tidak cukup hanya sekedar cinta tapi juga kejujuran dan perhatian.
Hugo meraih tangan Mey dan menggenggamnya erat. Debar di dadanya meletup hebat padahal hanya pegangan tangan saja.
"Alfi ketiduran di pangkuan kamu, aku pindahkan dulu"
"Biarkan saja Mey"
"Kaki kamu sakit"
"Sakit sedikit tidak apa sayang , biarkan saja"
Tangan Mey yang di pegang Hugo seperti di aliri listrik ratusan watt. Ia bisa pingsan karena Hugo memanggilnya 'sayang' Mengapa sekarang letupan itu terasa makin hebat.
Hugo menyibakkan rambut Alfi ke belakang sehingga wajah anaknya terlihat tenang dalam lelapnya. Hampir saja ia kehilangan moment-moment seperti ini bersama Alfi dan Mey yang sekarang menjadi sumber kekuatannya. Setelah itu ia bersandar ke jok mobil tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Mey dan tidak lama kemudian ia tertidur.
Mey diam-diam melihat wajah itu tanpa puas, Hugo sangat tampan dan kelewat tampan malah. Mengapa baru sekarang ia meyadari Hugo itu sangat sempurna. Apa mungkin karena cinta?.
Mereka sampai di desa waktu larut malam. Hugo di bantu oleh Mey menyeberangi pematang sawah sedangkan Alfi, mereka minta tolong sama sopir untuk mengendong sampai kerumah. Sesampai dirumah mereka di sambut bapak dan mak Mey. Awalnya mereka menyambut Alfi lalu kemudian di susul Mey dan Hugo di belakang.
Baru saja sampai di pintu bapak Mey langsung menceletuk.
"Kamu bawa siapa sih Mey, kenapa kamu membawa laki-laki modelan begini kerumah?"
Hugo menahan tawa tanpa merasa tersinggung. Bapak mertua masih marah padanya apalagi yang datang adalah dirinya bukan dokter itu, menantu idamannya.
__ADS_1
"Bapak mertua, ini aku yang datang!"
"Kamu kenapa kesini lagi sih?"