
Taman belakang rumah sakit terasa sangat sunyi karena dua orang yang ada disana hanya diam dengan waktu yang cukup lama tapi detak jantung mereka tidak juga mereda. Mey takut memulai pembicaraan. Ia takut mendengar ucapan Hugo tadi. Ingin ia berada di atas tempat tidur dan terbangun lalu semuanya menjadi mimpi. Setidaknya mulai dari kejadian tadi sore dimana ia melihat Hugo dan Kikan di kamar mereka. Hingga ia tidak sanggup melihat itu semua dan pergi dari sana. Lagi-lagi dokter Surya yang mengulurkan tangan saat ia terluka.
"Mey" bibir Hugo bergetar hebat memulai untuk bicara tapi bagaimanapun ia harus mengungkapkan ini semua. Mey akan terluka jika terus bersamanya meskipun ia sudah berubah tapi apa yang sekarang ia jalani adalah karma.
"Ada apa mas?" suara Mey terdengar lemah semoga apa yang dikatakan Hugo tadi tidak benar. Ia hanya bercanda meskipun itu candaan mengerikan.
"Aku tidak bisa lagi hidup bersama kamu Mey, aku sudah ada Kikan, kamu hanya sebagai pameran pengganti pada akhirnya kamu harus mundur jika yang sesungguhnya sudah datang, kamu silahkan pergi kemana pun yang kamu mau"
Hugo ingin menampar mulutnya sendiri karena telah berkata demikian pada Mey. Bukan hanya bibir dirinya yang terkutuk inilah juga telah menyakiti Mey.
"Mas bicara apa?" tanya Mey dengan suara serak dan bergetar.
"Kamu tidak dengar? kamu boleh dengan siapa saja yang kau pilih untuk menemani hidup kamu" Hugo menaikkan nada suaranya tapi dalam hati tidak kalah hancurnya "kamu boleh bawa anak kamu kemana pun kamu pergi, aku tidak akan menghalangi, Aku akan menjalani hidupku bersama Kikan karena dia hamil"
Ucapan itu bagai halilintar di telinga Mey. Kikan hamil dan itu pasti anaknya Hugo makanya pria itu meminta dirinya untuk pergi agar kehidupan mereka tidak terganggu karena ada dirinya di antara mereka.
"Kikan hamil?" ulang Mey dengan suara serak. Hugo mengangguk.
"Maka dari itu aku ceraikan kamu, surat-suratnya akan menyusul"
Setelah itu Hugo langsung pergi tanpa menoleh lagi pada Mey ia membawa air matanya yang sudah berderai di pipi. Sedangkan Mey terduduk di kursi taman tidak berdaya lagi. Semua tenaga yang ia punya lenyap entah kemana. Ia menangis terisak-sak disana dengan waktu yang cukup lama. Setelah puas menangis ia meminta Vino untuk mengantar Alfi ketempat yang ia janjikan.
***
Malam itu juga Mey langsung pergi bersama Alfi dari kota itu dengan kereta api malam . Sepanjang perjalanan ia tidak hentinya menangis sambil memeluk Alfi yang tidur di pangkuannya. Rasanya sangat berbeda jika dulu ia pergi bersama Hugo dengan rasa benci tapi sekarang ia pulang dengan rasa sakit yang tidak terkira. Perjalanan panjang itu seperti baru kemaren di lewatinya dan tiba-tiba ia terdampar kembali ketempat semua dengan hati yang berat untuk pergi.
Tapi mau tidak mau dia harus pergi sebagai orang yang dibuang. Kembali ke desanya, kembali pada orang tuanya. Hugo benar ia hanya sebagai pameran pengganti. Kikanlah penyebab kehancuran Hugo dulunya dan sekarang mereka bersama pasti hidup Hugo akan bahagia. Mey tidak henti-hentinya menghapus air matanya.
__ADS_1
Bunyi roda kereta beradu dengan rel menciptakan bunyi yang sama sepanjang perjalanan merangkak menebus malam. Dan tiba di stasiun berikutnya Mey turun dan naik bus dari sana menuju kota kecamatan. Udara malam yang dingin menemani dirinya dan Alfi di dalam mini bus itu. Tidak ada penumpang disana selain mereka berdua. Entah mengapa sopir itu mau mengantar Mey padahal ia rugi jika hanya dia dan Alfi saja penumpangnya.
Matahari terbit bus itu mulai memasuki perkampungan. Mey melongok keluar jendela melihat keluar. Ia di sambut oleh pemandangan hijau silih berganti mulai dari sawah yang baru di tanami padi sampai ke rumah-rumah penduduk yang sederhana dengan tanaman sayuran didepan rumahnya. Udara yang tadinya dingin sekarang berubah menjadi sejuk. Para petani mulai lalu-lalang dengan cangkul mereka dan asap yang membumbung tinggi dari dapur rumah kerumah.
"Didepan pak!" ujar Mey pada sopirnya.
"Baik mbak"
Mini bus itu berhenti di depan, tempat yang di maksud Mey. Perempuan itu turun menggendong Alfi "berapa pak?"
"Gak usah bayar mbak"
"Masa nggak enaklah saya pak, ini" Mey mengasihkan selembar uang ratusan "kembaliannya ambil saja"
"Gak usah mbak" sopir itu mengembalikan uang Mey tapi Mey tidak mau menerima ia pergi. Pasti sopir itu kasihan padanya karena menangis sepanjang perjalanan makanya ia menggratiskan ongkos.
"Mak, bapak!' panggil Mey pada perempuan dan laki-laki setengah baya yang berdiri menyambutnya di halaman. Wajah keduanya terlihat sedih seolah semua berita tentang Mey sudah sampai pada mereka tapi orang tua berkulit coklat kemerahan karena terbakar sinar matahari itu mencoba untuk tersenyum.
"Cucu nenek pulang!" sambut Sri, mak Mey menyambut Alfi dengan uluran tangan untuk di gendong.
"Iya nenek, Alfi kangen" balas Mey seolah Alfi yang bicara. Ia memeluk ke dua orang tuanya melepas rindu.
"Nekek dan kakek juga kangen, cucu nenek udah besar ya" Sri mencium pipi cucunya sayang.
"Sama kakek dululah, ayo" Rustam mengulurkan tangan merebut cucunya dari istrinya "dia pasti kelelahan semalaman di atas mobil, ayo! kakek buatkan susu ya"
Sri mengiringi langkah Mey kedalam "mak tadi buat goreng ubi makanlah selagi panas bersama segelas teh , bisa untuk menghangatkan badan"
__ADS_1
Mereka duduk di atas tikar samping rumah sambil melihat ke persawahan. Orang tua Mey tidak menanyakan kenapa Mey pulang tanpa Hugo dan Mey juga tidak memberitahu kedua orang tuanya dengan apa yang terjadi padanya.
Hari itu Mey tidak banyak bicara setelah sarapan pagi ia pergi kemarnya dan menghabiskan waktu bermenung disana sedangkan Alfi bersama kedua orang tuanya yang meliburkan hari itu untuk tidak bekerja di sawah maupun di ladang.
"Mey!" panggil maknya dari luar bersamaan dnegan terbukanya pintu kamar Mey.
Mey menghapus airmatanya "ada apa mak?"
Perempuan setengah baya itu duduk di tepi ranjang "kamu boleh bersedih Mey tapi jangan kelewatan, laki-laki seperti itu tidak pantas untuk kamu tangisi"
Mey kaget kenapa maknya menyebut hal itu seolah tau dengan permasalahan tentang dirinya.
"Siapa yang bilang sama mak?"
"Pria itu!"
"Mas Hugo?"
"Siapa lagi kalau bukan dia"
Hugo tadi malam bilang padanya tentang hubungannya dengan Kikan, apa sebelum itu ia datang ke orang tuanya menyebut hal itu.
"Kapan mas Hugo bilang sama mak dan bapak?"
"Sebelum kamu datang dia sudah pergi! dia mohon-mohon minta maaf sama mak dan bapak karena menceraikan kamu, pokoknya Mey! kamu dan Alfi jangan pernah lagi bertemu dengannya, kalau kamu mau ada anak pak lurah yang cocok buat kamu, itu si Arya yang terus nanyain kamu, kalau tau kamu pulang dia pasti kesini Mey" Mak Mey bicara dengan berapi-api karena emosi.
Kepala Mey mumet baru saja jadi janda tadi malam. Lukanya belum hilang masa mengkaji calon suami lagi. Tapi jika Hugo kesini tadi itu berarti,...
__ADS_1
Dia perginya hampir berbarengan dengan Mey.