
Setelah sakitnya penghianatan cinta pertama baru kali ini dokter Surya merasakan sakit kembali didadanya dan rasanya lebih parah dari pada penghianatan Caleya, mantan istrinya. Meski ini bukan sebuah pengianatan tapi ini sebuah rasa yang terluka.
jiwanya ikut terkoyak parah menyaksikan seorang perempuan yang terkulai lemah di atas ranjang dengan bercak merah di sekujur tubuhnya.
Kecemasannya terbukti nyata setelah seperti orang kesetanan mencari Mey kesegala penjuru termasuk ketoilet perempuan. Ia mengabaikan kemarahan para wanita karena masuk keranahnya demi mencari Mey. Setelah itu ia menyusuri lorong-lorong hotel sambil memanggil nama Mey. Mengetuk setiap pintu tidak peduli orang-orang mencacinya.
Ia menemukan sepatu Mey tergeletak sebelah di lantai. Jiwanya makin kalut takut Mey di bawa oleh pria bajingan kedalam kamar hotel. Jika itu terjadi ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Mey pergi bersamanya dan itu menjadi tanggung jawabnya.
"Mey!!!'
Akhirnya di pintu yang kesekian kalinya ia menemukan seorang perempuan yang sedang menangis seorang diri di tempat tidur, tubuhnya di lilit selimut.
"Mey"
Dokter Surya mendekati Mey hati-hati takut perempuan itu histeris.
"Anda sedang apa disini dokter?" tanya Mey di sela isaknya.
"Aku mencari Mey, kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa dokter"
"Siapa yang melakukan ini padamu? aku akan lapor polisi" dokter Surya mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Jangan dok" cegah Mey.
"Kenapa jangan, ini sudah kelewatan" ujar dokter Surya geram seraya melihat pakaian Mey dilantai tidak berbentuk.
"Karena ini ulah suami Mey sendiri dok"
Dokter Surya membeku.
"Jadi dokter tidak usah mencemaskan Mey, dokter pergilah!"
"Suami? suami macam apa yang memperlakukan istrinya seperti ini"
"Ini salah Mey yang tidak mendengarkan ucapannya"
"Lantas mana suami kamu itu? mengapa dia meninggalkan kamu disini sendirian?"
Mey menggeleng "dokter pergilah, ini bahaya aku gak punya pakaian, dokter dan aku bisa kena fitnah"
Dokter Surya menghembuskan nafas lalu pergi ke kamar mandi. Ia mengambil kimono dari sana "ini pakailah, aku akan kirim obat, makanan dan pakaian untukmu"
"Terima kasih dokter"
Hati dokter itu terenyuh melihat perempuan itu. seandainya.....Mey miliknya tidak akan ia biarkan setetes airmatapun jatuh dipipinya.
__ADS_1
Lama disitu ia bisa khilaf memeluk Mey. Antara jiwa kasihan dan gelora itu sekarang sudah berbeda tipis.
"Aku akan selalu ada untuk mu kapan pun itu, kamu jaga diri baik-baik, oh ya akan ada yang mengantar pakaian untuk mu nanti"
Dokter Surya buru-buru pergi dari sana membawa segenap rasa.
***
Apakah ini kehidupan cinderella? tiba-tiba saja Mey seperti memasuki dunia baru yang asing seperti sebuah istana di dongeng-dongeng. Rumah besar dan mewah beserta dengan para pelayan didalamnya.
"Mas apa kita gak salah masuk rumah?" bisik Mey pada Hugo.
"Bisa jadi, ada pangeran di dalamnya dan sekarang ada bersama kamu"
"Ih mas, gak lucu tau"
"Kalau lucu mah itu namanya horror"
"Humor mas" ralat Mey.
"Ibu...papa!!"
Alfi datang bareng Vino di belakangnya ada dua orang pelayan berseragam hitam putih. Mey dan Hugo merendahkan badan menyambut Alfi. Bocah itu menciumi wajah Mey "Ibu kemana saja sih?"
"Ada bersama papa"
"Penggemar doraemon, sama kayak Vio "ujar Vino sambil menarik pipi Alfi gemas.
"Selamat datang Mey" sapa seorang pria mirip Hugo. pria itu memakai jas hitam lengkap dengan stelannya.
"Dia papa Mey" beritahu Hugo.
"Papa?" Mey mengulurkan tangan pada Adyka dan membawa ke keningnya.
"Oh jadi Hugo dan istrinya sudah datang?" Elsa datang bersama Adyksa dan putranya Sean. Nada suara Elsa terdengar sinis. Begitu mereka mendekat Sean langsung menghadang Alfi.
"Ih bocah cengeng ngapain kamu di rumah aku?' tanya Sean galak.
Alfi memundurkan langkahnya dan menarik tangan Hugo.
"Dia itu masih saudara Sean, gak baik gitu" lerai Adyaka lembut.
"Gak mau paman, dia bocah cengeng"
"Aku gak cengeng, kamu yang suka nangis" balas Alfi lebih berani.
"Sean, jangan nakal ya! ntar mama kurung mau?"
__ADS_1
Mey bergidik perempuan cantik itu seram pada anaknya main ancam segala.
"Oh ya Mey kenalkan dia adalah paman aku, paman Adyaksa dan bibi Elsa, di sebelah papa itu adalah....mama tiri aku"
Mey menyalami mereka semua dengan ramah layaknya perempuan yang terdidik tapi jika hati sudah kotor dan benci sebaik dan seramah apapun tidak akan ada arti bagi mereka. Semua kebaikan dalam penyambutan itu adalah formalitas bukan berasal dari hati yang tulus.
Mey merasa makin rendah diri berada di keluarga Hugo yang kaya raya.
Mereka mengajak Hugo dan Mey ke meja makan. Para pelayan menghidangkan berbagai macam makanan ke meja. Mata Mey tidak lepas dari apa yang di hidangkan dalam hati ia tidak sabar mencicipi semua makanan itu.
"Kikan mana?" tanya Elsa meninggi ia sengaja melihat pada Hugo dan Mey melihat raut wajah mereka. Semua pada tau jika Kikan dan Hugo mempunyai hubungan masa lalu. Ternyata perempuan itu juga tinggal disana ikut mamanya.
"Aku disini tante" Kikan muncul dengan pakaian seksi seperti habis mandi. Buah dadanya menyembul keluar. Ia tersenyum manis pada semuanya terutama pada Hugo dan Alfi.
"Hey Alfi" sapanya manis sambil menjawil pipinya dan mengerling nakal pada Hugo.
Mey melihat Kikan dengan tajam ia ingat tadi malam perempuan ini yang bersama Hugo dan mereka terlihat mesra. Akankah pagi ini ia akan kembali di suguhi adegan seperti semalam, seperti makan sepiring berdua?
Sabar Mey, sabar!!!
Seorang pelayan mengantar koran kesana. Adyaka menyambut koran itu meski berita sudah banyak yang disajikan secara digital tapi ia masih memilih koran sebagai media melihat berita. Begitu melihat headline koran tersebut tatapan Adyaka langsung terarah pada Mey dan Hugo.
"Ada apa mas?' tanya Vivian.
"Berita sampah"
Elsa meraih koran di tangan Adyaka "lihat kak!"
"Ha?" mata Elsa langsung membeliak "Mey adalah wanita simpanan Hugo?" Elsa membaca koran itu keras-keras.
Meja makan menjadi riuh, Mey mengerutkan kening sedangkan Hugo terlihat santai dan wajah Kikan berseri.
"Apa benar Mey adalah perempuan simpanan?" tanya Elsa. Semua mata melihat ke Mey dan hugo.
"Percaya pada media atau aku sih?" tanya Hugo tajam. Wajah yang kesal itu berubah menekan perlahan karena teringat dengan Adyatama. Jika mereka bermasalah lagi dengan Hugo resikonya sangatlah besar. Adyatama bisa mengusir mereka dari sana.
"Ya ini kan menyangkut nama keluarga Adyatama" ujar Vivian. Hugo melihat perempuan itu tajam akhirnya Vivian menekur kelantai sadar dengan kesalahannya.
"Bukan begitu Hugo, kamu harusnya tegas dengan pernyataan kamu tentang kamu dan Mey"
Tadinya Mey mengira akan makan dengan enak dirumah mewah itu tapi nyatanya berbanding terbalik. Apa yang dimakannya tersangkut di kerongkongan dan rasanya sangat kesat.
"Kamu akan berada di kursi pimpinan stars entertainment, bersiaplah'' ujar Adyaka.
" Kakak yakin?" tanya Adyaksa sangsi.
"Mau gimana lagi, kak Adyaka terpaksa menyerahkannya demi perintah papa" sindir Elsa sinis.
__ADS_1