
Tangan Hugo melemah mengetuk pintu kamar Mey. Kepala sangat sakit dan dingin kian menyerang Alfi hampir saja terjatuh di gendongannya.
"Mey, ayo pulang!" kerongkongannya mengering rasanya ia tidak sanggup untuk bertahan lebih lama berdiri disana. Mengapa di saat seperti ini daya tahan tubuhnya makin melemah.
"Mey! aku bawa Alfi!"
Hugo pergi kemobil mengambil ponsel minta tolong pada Vino atau pada siapapun. Tapi kemudian ia melemparkan ponselnya ke dashboard karena batray sudah low bat tidak pernah di cash sejak beberapa hari yang lalu sebelum di sekap Ara di rumahnya.
Ia menghidupkan mesin mobil untuk mencari obat agar nyeri tubuhnya mereda. Suhu tubuhnya makin naik dan rasanya sangat dingin seiring makin memutihnya bibir yang terasa kering.
***
Mey menyibakkan gorden melihat keluar. Mobil Hugo sudah pergi. Setelah itu ia mondar-mandir dengan pikiran tidak menentu. Entah mengapa Hugo pergi tanpa meninggalkan kekacauan. Tadi suara Hugo terdengar beda takutnya pria itu sakit dan mengendara dalam keadaan yang tidak fit. Dalam hati ia berdo'a agar Hugo baik-baik saja. Tidak akan sanggup rasanya jika ia melihat Hugo tergeletak dirumah sakit.
Pintu kamar itu kembali di ketuk dari luar
"Sudah tidur Mey?"
Mey membuka pintu " belum, ada apa dokter?"
"Aku hanya memastikan kamu sudah tidur apa belum"
Mey menggeleng "saya belum tidur, dokter sendiri?"
"Aku kepikiran sama kamu"
"Maaf dokter, anda ikut terlibat dalam masalah saya"
"Kamu terlalu perasa Mey, maksud aku tidak mengarah kesana, aku selalu peduli sama kamu"
"Aku tidak tau harus bagaimana"
"Tanya sama hati kamu"
Mey diam, jika di tanya sama hatinya entah kenapa ia tidak mau kehilangan Hugo. Sikap Hugo yang hangat kadang cuek dan kadang bikin sakit hati sudah terbiasa menemani hari-harinya. Tapi tidak dengan kehadiran Kikan di antara mereka. Ia tidak akan tahan melepas Hugo untuk Kikan.
"Jika kamu sakit menggenggamnya maka lepaskanlah, lebih baik sakit menanggung rindu dari pada sakit bertahan, perlahan rindu akan musnah dan perasaan itu akan hancur setelah bertemu dengan orang-orang baru"
"Apa dokter curhat?"
Dokter Surya tersenyum "bisa jadi"
__ADS_1
"Berarti sekarang hati dokter kembali ringan"
"Ya, tanpa benci dan tanpa rindu"
Mey tidak tau apakah ia sanggup lepas dari Hugo menjadi tersingkir setelah tersakiti.
Mereka bicara di depan kamar itu. Dokter Surya memasukkan kedua tangannya kesaku celana saling berhadapan dengan Mey.
Malam ini terasa sangat beda bagi dokter Surya. Hanya seperti ini, bicara berdua dan sangat sederhana tapi penuh warna. Perempuan didepannya pun sangat mempesona dengan wajah natural dan rambut panjang yang menghiasi wajahnya . Pakaiannya pun sangat menggoda dengan dress selutut bermotif bunga. Mey si mama muda bukan seperti seorang ibu tapi seperti seorang gadis. Penampilan Mey makin berubah mungkin karena lingkungan dan keadaan. Dan sekarang ia bagai om-om di hadapan Mey.
Saat mereka saling berbicara terdengar suara deru mobil di depan tidak lama kemudian terdengar suara anak kecil memanggil "papa"
"Key" dokter Surya menyongsong kehadiran anaknya itu sampai kepintu.
"Papa!!!"
"Ya sayang, Key datang mengapa tengah malam sayang?" dokter Surya membawa Key ke dekapannya. Gadis kecil itu tidak menjawab dari raut wajahnya anak itu terlihat lelah dari balik jaket pinknya seperti kurang istirahat.
"Surya!!!!"
Caleya yang baru datang menghambur memeluk Surya sambil memangis. Pria itu memaku tanpa membalas pelukan mantan istrinya itu.
"Kamu kenapa?" tanya dokter Surya setelah Caleya melepaskan pelukannya.
"Kamu yang sabar ya" ujar dokter Surya sambil memegang bahu Caleya. Ucapannya tulus bukan mengandung ejekan.
"Kamu benar, ini karma bagiku"
"Maafkan aku, waktu itu aku mungkin emosi tapi tidak ada niatku untuk berdo'a yang buruk untukmu, sekarang tenanglan dirimu dulu Caleya"
"Seandainya kamu masih mencintai aku"
"Kamu hanya sedang panik dengan masalah kamu sendiri dan aku bukan lah orang tepat untuk kamu kembali, aku peduli bukan berarti aku mau" dokter Surya berkata tegas.
"Aku tau, terima kasih telah menjadi tempat untukku berbagi"
Caleya melihat seseorang berdiri tidak jauh darinya ternyata dia adalah Mey. Tadi ia tidak melihat perempuan itu saat masuk. Mey yang pernah di anggapnya baby sitter itu makin bermetafosa menjadi cantik dan itu pasti akan membuat Surya makin jatuh cinta padanya. Ia makin tidak suka melihat Mey.
Ia benci Mey
Karena perempuan itu ia dan Surya jadi berjarak. Suryanya, cinta pertamanya yang sekarang mencintai perempuan lain. Dan perempuan itulah perebut hati Surya yang dulu hanya untuknya.
__ADS_1
"Kamu disini?" tanyanya penuh cemburu.
Mey mangangguk "iya mbak Caleya, aku menumpang disini untuk sementara waktu"
"Kamu adalah istri seorang artis tapi mengapa kamu menganggu seorang pria yang sedang rapuh? kau adalah perempuan yang tidak tau diri"
"Cukup Caleya, kamu jangan berkata sembarangan pada Mey!!!!" suara dokter Surya meninggi "kamu jangan dengarkan dia Mey"
"Perempuan murahan itu sangat memalukan, dia tidak pantas menjadi mama Rhea dan Key"
"Kamu kira kamu pantas? kamu jauh lebih buruk dari perempuan jalanan! lebih baik sekarang kamu pulang"
"Kamu mengusir aku?"
"Demi kebaikan kamu, tenangkan pikiran kamu dulu" dokter Surya menekan suaranya setelah menyadari ada Key disana.
"Key sama papa dulu disini ya" bujuk dokter Surya sambil mengelus kepala Key. Ia merasa bersalah karena telah bertengkar dengan Caleya di depan Key.
Mata Key sudah luyu karena mengantuk dan mengangguk.
"Gak Key, kamu harus pulang bersama mama!"
"Biarkan dia disini Caleya, besok aku antar Key ketempat kamu"
Caleya tetap ngotot membawa anaknya setengah diseret ia menarik Key tangan untuk pergi. Gadis kecil itu terpaksa melepaskan pegangannya dari Surya.
"Caleya! kamu jangan memaksa Key" dokter Surya membujuk Caleya agar tidak membawa anaknya. Selain kangen Key entah mengapa ia cemas melepas Key pergi bersama Caleya.
Caleya tidak mau mendengar ia terus menarik tangan Key ke mobilnya. Mey kasihan melihat gadis kecil itu yang menjadi korban karena keegoisan. Apakah Alfi juga begitu? dia tadi juga di bawa Hugo bersamanya. Kadang seseorang tidak menyadari apa yang di perbuatnya kala itu dan tidak sengaja menciptakan luka bagi anak-anak.
Dokter Surya mengejar Key sampai kemobil ia sangat cemas melepaskan anaknya bersama Caleya tapi perempuan itu malah semakin beringas untuk tidak membiarkan Key bersamanya.
Caleya menghempaskan pintu mobil dan pergi dari rumah Surya dengan keadaan emosi. Malam ini terlalu banyak kepahitan yang di telannya. Suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri, Surya yang diharapkan juga telah berpaling.
Dokter Surya menghembuskan nafas. Keras kepala Caleya masih sama, tidak berubah. Setelah mobil Caleya menghilang di kegelapan ia kembali menghampiri Mey.
***
Malam kian merangkak dan dingin. Jalanan mulai lengang hanya satu, dua kendaraan yang lewat. Sebuah mobil hitam melaju tanpa kendali penuh. Hingga detik berikutnya matanya memburam, dan..
BRAK!!!!
__ADS_1
Mobil itu menghantam pembatas jalan. Terdengar lenguhan pendek hingga akhirnya tidak ada suara yang terdengar sama sekali.