Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
sakitnya saat terpaksa harus merelakan


__ADS_3

Dokter Surya menghembuskan nafas beberapa kali untuk mengurangi rasa kecemasan dan ketakutannya. Dengan langkah berat ia berjalan menghampiri seorang perempuan yang duduk sendirian membekalang di bangku taman. Perempuan itu tampak gelisah sambil mengusap kedua belah tangannya. Seolah menyembunyikan kegugupan.


"Sudah lama honey?" nafas dokter Surya terasa dingin di ujung mulut akibat dari suara jantungnya yang tidak karuan. Perasaannya mulai tidak enak, mengandung kepanikan namun ia kendalikan senormal mungkin.


Mey memutar kepalanya melihat ke dokter itu seraya tersenyum namun senyumannya tidak sempurna karena dipenuhi dengan rasa bersalah padahal ia belum mengungkapkannya "belum lama" jawabnya pendek.


Dokter itu duduk di sebelah Mey sambil melihat wajah perempuan yang selalu mengusik mimpinya itu.


"Tumben kamu menelpon duluan, ada apa? apakah ada yang kurang dalam acara pernikahan kita nanti?" ia memohon dalam hati. Semoga saja memang benar ada yang kurang, akan ia penuhi sebanyak apapun dan seribet apapun rangkaiannya asal pernikahan itu berlangsung.


Mey diam lalu kemudian berucap "maaf!"


Dokter Surya menggit bibirnya dalam-dalam. Jika sudah minta maaf sudah tau ujungnya kan? pasti endingnya tidak enak untuk didengar dan ia tidak ingin mendengar, ia ingin semuanya baik-baik saja seperti beberapa hari yang lalu.


"Aku benar-benar minta maaf, ternyata aku tidak bisa untuk meninggalkannya" Mey memejamkan mata. Ia merasa bersalah pada pria di sebelahnya karena telah menghancurkan harapannya dan telah membuat dirinya terluka.


Dokter itu terpaku ia ingin pendengarannya tuli, matanya tidak mampu melihat dan hatinya jadi buta. Agar rasa ini tidak menikamnya terlalu dalam.


Ia melihat perempuan di sebelahnya yang juga tidak mampu melihat wajahnya. Mey masih menunduk dengan jari jemarinya yang saling di tautkan.


"Aku mencintai kamu Mey, jauh sebelum kamu tau dan lebih dari apa yang kamu perkirakan, aku tidak malu dengan undangan yang telah di sebar, tapi yang aku tidak kuat adalah rasa ini Mey, bahkan aku tidak mampu untuk membenci kamu"


"Harusnya kamu tidak mencintai aku"


"Rasa siapa yang tau Mey, aku juga tidak ingin.. tapi bagaimana dengan hati ini yang tak mampu untuk berbohong dan sekarang kamu datang padaku untuk jangan mencintai kamu, kamu tau rasanya Mey? rasanya sangat sakit seperti mencabut nadiku satu persatu"


"Aku benar-benar minta maaf" suara Mey terdengar lemah serupa hembusan angin namun efeknya sangat luar biasa "aku mohon, maafkan aku"


"Mau tidak mau, rela atau tidak rela pada akhirnya aku harus merelakan juga, satu hal yang harus kamu tau Mey, jika suatu hari nanti kamu datang lagi mencariku, aku akan selalu ada untukmu, aku akan menunggu"


Mey memutar wajahnya melihat ke pria di sebelahnya sambil menggeleng "tidak! jangan! aku dan dirinya berjanji tidak akan lagi seperti dulu"

__ADS_1


"Seandainya kamu tidak pernah datang juga tidak apa, aku akan biarkan rasa itu lapuk dengan sendirinya, meskipun rasanya tidak mudah tapi harus aku jalani bukan? jika kamu ingin pergi, pergilah jangan bawa rasa bersalah! aku sudah terbiasa dengan luka, kamu jangan cemaskan aku"


Mey berdiri dari duduknya mencoba melihat lawan bicaranya namun kemudian ia menekur lagi karena tidak sanggup melihat wajah itu, wajah penuh penuh luka. Mey juga tidak mau berandai di kehidupan berikutnya akan bertemu dengan dokter itu karena akhirnya akan sama. Ia sudah yakin dengan keputusannya.


"Jangan cemaskan aku, kejarlah apa yang ingin kamu kejar dan raihlah apa yang kamu inginkan, aku mencintai kamu tanpa syarat dan juga harus melepaskan kamu juga tanpa syarat"


"Semoga dewa seperti kamu mendapatkan perempuan yang juga berhati malaikat"


Andai Mey tau, ini saja sudah cukup. Ia tidak ingin malaikat dan tidak ingin perempuan manapun. Semua harap bergantung padanya namun sudah pupus.


"Jangan lupa bahagia, besok-besok kalau kita bertemu denganku, aku mohon sapalah aku, bukan sebagai mantan tidak jadi menikah tapi sebagai teman" dokter Surya tersenyum, pahit.


Mey mengangguk lalu pamit pergi ke mobil yang sejak tadi menunggunya.


Setelah Mey pergi. Dokter Surya mengehembuskan nafas lesu, tenaganya tiba-tiba terkuras habis. Ia membuka kaca matanya dan mengusap wajahnya. Untuk kedua kalinya ia terluka karena perempuan tapi yang paling parah adalah karena Mey karena cintanya yang terlalu mendalam pada perempuan itu. Ia butuh banyak waktu untuk memulihkan hatinya entah sampai kapan.


Sejenak ia menengadahkan wajah melihat awan putih berarak di atas sana sampai air yang menggenang di pelupuk mata hilang dengan sendirinya dan kembali jatuh kedalam.


***


Vino melihat ngeri pada boss besarnya yang tiada henti melemparkan anak panah pada dard board di depannya padahal setiap tembakannya selalu meleset. Si boss melemparnya dengan emosi. Di sebelahnya sudah banyak kaleng- kaleng minuman bersoda yang sudah kosong, habis di minumnya. Bahkan sesekali ia melempar kaleng itu ke depan karena kesal.


Mereka berada di halaman belakang mansion. Hugo duduk di kursi dan Vino lari kesana kemari karena suruhan Hugo.


"Sudah boss, yeay lagi sakit, jangan di paksakan lagi" Vino berusaha menghentikan Hugo yang terus melempar dengan kegalauan.


"Mengapa Mey tidak memperbolehkan aku pergi bersamanya? dia serius gak sih?" Hugo terus melemparkan anak panah dengan kesal. Setelah habis, Vino berlari mengumpulkan semua anak panah itu dan mengembalikan ke Hugo secepat mungkin.


"Kan nyai sudah bilang, boss tunggu disini saja, boss lagi sakit, dia akan menyelesaikan masalahnya dengan dokter itu jadi boss sabar ya"


"Aku kan masih bisa menemaninya"

__ADS_1


"Mungkin nyai kawin lari,..."


BRAK!!


"Apa kamu bilang?" Hugo mendorong meja di sebelahnya dengan kasar hingga semua minuman kaleng yang ada di sana berhamburan di atas rerumputan.


"Eyke gak bilang apa-apa boss" Vino menutup mulutnya yang keceplosan. Ia takut di amuk bossnya yang kalau emosi bisa kalap.


"Harusnya aku ikut dia untuk menemui dokter itu, aku tidak bisa membiarkannya pergi sendiri" Hugo meraih kruknya dan bergegas ingin pergi tapi kemudian langkahnya berhenti melihat Mey datang mendekat. Emosinya yang tadi sedang memuncak hilang entah kemana begitu melihat wajah itu. Wajah yang dulu tidak begitu terlalu di pedulikannya dan sibuk bermain mesra dengan para rekannya sesama artis. Ibaratnya Mey dulu adalah ban serap yang di pergunakan bila keadaan darurat. Tapi sekarang karma datang menghampirinya. Ia tidak bisa hidup tanpa Mey.


Memanglah kata orang, kerikil di matamu bisa jadi berlian di mata orang lain. Jadi jangan sia-siakan dirinya karena selepasmu masih banyak orang lain yang menginginkannya.


Dan setelah menyadari apa yang di buang ternyata sangat berharga maka akan butuh perjuangan ekstra untuk merebutnya kembali.


"Kamu lama sekali" celetuk Hugo pada Mey karena ia merasa Mey memang lama perginya sampai ia sendiri tidak sabar untuk menunggu. Rasa was-was selalu menghantuinya.


"Kamu kenapa ada di sini? bukankah tadi ada di dalam?'


"Aku bosan"


"Istirahat saja biar cepat sembuh" Ia membantu Hugo untuk duduk di kursi kembali. Mey melihat banyak botol minuman bersoda berserakan "kamu meminum minuman sebanyak ini?"


"Iya" bukan Hugo yang menjawab melainkan Vino "boss kalut takut di tinggal nyai"


Mey melihat ke Hugo tajam tapi pria itu balas melihat ke Mey dengan cemberut "Kamu sudah selesai sama dia kan?"


Mey mengangguk.


Hugo menghembuskan nafas, lega.


"Terima kasih" ujarnya kemudian "terima kasih karena tidak meninggalkan aku"

__ADS_1


__ADS_2