
Rumah di tengah sawah itu mendadak ramai di kunjungi mulai dari para pemuda desa sampai para duda. Ada saja alasan untuk datang kesana mulai dari ingin bertemu Alfi sampai dengan alasan silaturrahmi.
Padahal mereka kesana hanya untuk melihat Mey. Lalu setelah bertemu dengan perempuan itu mendadak mereka akan memperbaiki penampilan mulai dari letak poni, letak baju sampai memeriksa bau parfum.
Biasanya mereka kesana pada bawa hasil kebun mulai dari pisang, ubi sampai jagung dan ada juga yang membawa hasil tambak. Mey sampai bingung mau diapakan itu semua karena gak bakalan habis untuk dimakan sehari-hari. Karena selalu datang, dan datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak dari pada kemaren. Mereka berlomba- lomba untuk membawa hasil terbanyak biar dapat perhatian dari Mey.
Mungkin sebagian hasil kebun mereka banyak kerumah Mey dan bisa buka lapak jualan disana saking banyak dan beragamnya.
"Kalau Mey sama abang, kita akan hidup bahagia di kebun ubi milik abang, Mey boleh makan ubi sepuasnya"
Untung Mey polos, jadi dia cuma senyum.Coba kalau seperti perempuan lain dia pasti bakal jawab,..pagi, siang, malam makan ubi? hellow situ sehat?
"Kalau Mey sama abang, kabang bakal belikan Mey mobil biar kita jalan- jalan tiap sore"
Kalau kuat jalan, ngapain beli mobil?
"Sama abang saja Mey, calon kepala lurah"
Berbagi rayuan datang pada Mey untuk bersama mereka. Mey hanya menangapi dengan senyuman sopan "maaf ya, Mey belum mau nikah"
"Kita kawin saja'
"Memang bedanya apa?"
"Gak ada"
Mey yang kapasitas kepalanya sangat minim makin tidak mengerti. Dia hanya melongo.
Rumah Mey selalu ramai pagi, siang dan malam sampai dapat teguran dari pak kedes untuk para pria yang datang kesana tapi ujung-ujungnya malah pak kades yang minta Mey untuk jadi istri kedua.
Satu minggu Mey berada di rumah mendadak ia jadi terkenal. Para perempuan mencibir iri pada Mey karena para pria tertarik padanya biasanya yang begitu adalah para gadis dan para janda sedangkan para perempuan bersuami akan mencibir di belakang.
Saat mandi bersama di sungai jika Mey datang mereka buru-buru dan pulang dengan cepat tanpa mau bertegur sapa. Mey jadi heran melihat mereka semua, tapi ya sudahlah ia akan terjun kedalam air jernih itu dan berlama-lama disana tapi tiap ia memejamkan mata maka bayangan Hugo selalu datang apalagi TKP awalnya di tepian sungai itu. Bayangan itu bukannya lenyap malah makin nyata mulai dari kesal, marah dan senyumannya makin nyata dan membentuk serpihan-serpihan yang menyesakkan.
Mey memutar rambut panjangnya di air mengusir bayangan itu dan cepat-cepat untuk bangkit. Ia pasti sudah tidak waras mengingat Hugo terus.
Sadar Mey, sadar!
Setelah itu ia bergegas pulang dengan kamben dan kain yang di sampirkan untuk menutup bahunya.
__ADS_1
"Itu Mey sudah pulang"
Terdengar suara bapaknya bicara di depan dengan seseorang. Mey muncul dengan kamben karena mengira bapaknya bicara sama emaknya tapi ternyata ia salah, salah tingkah dan buru-buru masuk kamar.
Setelah berpakaian ia kembali keluar menyapa ketiga tamunya. Ada Rhea, dokter Surya dan Key. Rhea langsung dekat dengan Alfi sedangkan Key duduk diam.
"Key sudah sehat?" sapa Mey.
Gadis kecil itu tidak menjawab menolehpun tidak.
"Tante Mey bertanya, apakah Key sudah sehat?" ulang dokter Surya tapi lagi-lagi gadis itu tidak mengubris.
"Sudah mulai sehat Mey tapi dia masih minum obat" beritahu dokter Surya.
"Oh, syukurlah" Mey melihat ke Key, gadis kecil itu seperti tidak suka dengan suasana sekitar. Seperti menyimpan sebuah kemarahan dan kesedihan, berbeda dengan Rhea yang terlihat ceria. Apa mungkin karena kecelakaan itu?.
Bapak Mey meninggalkan ruang tamu meninggalkan Mey bersama dokter Surya disana.
"Silahkan minum dokter, hanya ini yang ada maklum, desa"
Mey mempersilahkan dokter itu minum teh buatan ibunya.
'Kan emang iya, dokter baru kenal dengan keluarga saya"
"Mereka menyenangkan, beruntung lho dapat orang tua seperti orang tua kamu, aku jadi iri pengen juga di angkat jadi anak"
Malam itu dokter Surya menginap disana mendadak fans Mey jadi kecewa karena setiba disana mereka mendapati seorang pria keren memakai kaca mata. Apalagi pak kades ia pulang sambil memberungut dan terjungkal kedalam sawah.
"Kamu setiap hari seperti ini Mey?" tanya dokter Surya saat mereka duduk di teras pada malam harinya.
Mey mengangguk.
"Kamu pulang saja ke kota biar kamunya aman" sekalian hati aku jadi aman, sambung dokter Surya dalam hati karena tidak mungkin rasanya mengingat Mey yang setiap harinya di kelilingi oleh para pria di desanya.
"Aku dan Hugo sudah pisah dok, aku mau pulang kemana? lebih baik aku disini bersama mak dan bapak"
"Sama aku saja Mey"
"Apa bedanya dok? ntar orang bilang kita kumpul kebo"
__ADS_1
"Kita nikah saja"
Mey melongo "dokter kalau bercanda jangan kelewatan"
"Aku serius Mey"
"Kita kan teman"
"Kita saling cocok, kenapa kita tidak nikah saja?"
"Dokte mah prank"
"Aku gak prank, aku serius Mey"
"Yang lain saja topiknya dokter, nikah itu hal yang sensitif"
"Tergantung dari arahnya Mey, kalau melihat dari sudut luka maka nikah itu mengerikan tapi kalau dilihat dari sudut suka nikah itu membahagiakan"
"Dokter selalu punya jawabannya, tapi sekarang aku melihat dari sudut luka"
"Aku akan akan tunggu sampai luka kamu sembuh dalam pernikahan kita"
"Waktunya masih panjang dok, saya baru saja berpisah dengan Hugo"
"Aku akan tunggu, tapi kamu jangan hiraukan mereka yang datang menganggu kamu ya"
"Saya gak buat janji dengan dokter kan?"
"Gak tapi aku yang berjanji sama kamu"
"Ini gak enak dokter, masa kita nikah tanpa cinta"
"Akan aku tumbuhkan cinta di hati kamu"
"Bagaimana dengan dokter?"
"Hatiku?"
Mey mengangguk.
__ADS_1
"Aku yakin pada hatiku, nanti aku kasih tau, tapi kamu juga kasih tau tentang hati kamu sama aku? kita akan sama-sama mengungkapkannya nanti, pada hari itu tiba"