
Hugo meminta sopirnya yang bekerja di rumah mamanya untuk menjemput Mey dan Alfi ke rumah bertembok tinggi itu. Awalnya Mey menolak tapi kemudian Hugo menakuti Mey bahwa tidak boleh membantah perintah suami.
Akhirnya Mey menurut dan Hugo yang ada diseberang sana tersenyum menang. Pria itu menunggu Mey di depan rumah dan mengambil Alfi dalam gendongan Mey.
Harusnya Mey kesal karena bukan Hugo yang menjemputnya secara langsung.
"Ini rumah baru kita, mulai sekarang kita tinggal disini"
Mey melihat rumah berwarna biru di depannya. Rumah dua lantai ada taman kecil di depannya, kolam renang dan berdekatan dengan taman umum.
"Jadi selama ini mas tinggal disini?"
Hugo menggeleng "aku tinggal di apartement"
Mey maklum Hugo adalah artis dan dia adalah perempuan biasa, Hugo malu bersamanya dan Alfi. Ingin rasanya Mey pergi saja dari sana, sedih rasanya jadi istri yang tak di anggap.
"Mas jadi menikah dengan Kimy?"
"Mey, sudah jangan mulai lagi" Hugo membawa Alfi masuk kedalam rumah. Ternyata rumah itu jauh lebih nyaman dari rumah yang lama di lengkapi ac juga.
"Kamar Alfi ada di lantai atas di sebelah kamar kita, ada juga balkon kalau kamu pengen liat bisa melihat bintang di malam hari"
-
-
"Kalau pengen belanja beli baju ada banyak toko di ujung sana"
"Aku gak butuh baju, daster waktu hamil Alfi masih ada"
"Itu kan baju hamil Mey, apa kamu ingin hamil lagi?"
Mey langsung menggeleng.
"Kalau sudah siap, ayuk!"
"Ih mas mikir jorok"
"Gak apa- apa kan sama istri sendiri"
Mey langsung mode awas dan Hugo tertawa ngakak melihat istrinya membenarkan daster yang di pakainya.
***
Rumah tangga itu masih sangat hambar Hugo yang jarang pulang dan Mey yang sudah sangat jenuh dengan penantian yang tidak menentu. Kadang terlintas dipikiran Mey untuk pergi saja dari Hugo.
Hugo tidak pernah bilang cinta, dan Mey juga tidak mau menjatuhkan harga dirinya. Memang benar waktu itu Hugo bilang bahwa ia tidak akan pernah menceraikan Mey tapi untuk apa Hugo tidak pernah berubah selain pelampiasannya yang makin tidak terkendali pada Mey.
Mey tidak pernah lagi menghidupkan televisi dan juga mengangganti ponselnya dengan ponsel hitam putih keluaran lama. semua itu demi rumah tangganya dengan Hugo agar tidak ada percik kemarahan Mey pada Hugo. namun itu semua belumlah cukup Hugo tidak pernah mengenalkannya pada siapapun yang dekat dengannya.
__ADS_1
Mey sangat kesepian untuk menghilangkan kepenanatan pikirannya tiap pagi ia membawa Alfian jalan-jalan ketaman.
Bocah yang sudah berusia empat tahun itu sedang nakal-nakalnya. Baru saja menginjakkan kaki di sana ia sudah berlari dan Mey akan kewalahan mengejarnya.
"Alfi! tunggu ibu!'
Alfi tertawa-tawa dan terus berlari hingga tidak sadar bocah itu menabrak seseorang dan jatuh terduduk di rumput yang basah.
"Alfi..!"
Mey berlari mengejar Alfi namun orang yang di tabrak itu dengan sigap membantu bocah laki-laki itu dan membawa kedalam gendongannya.
"Kamu tidak apa-apa tampan?" tanya Pria berkaca mata kira-kira berusia tiga puluh tahun yang di tabrak Alfi
"Alfi tidak apa-apa om, lepaskan Alfi" bocah itu meronta untuk lepas dari pria itu.
"Maaf anda tidak apa-apa pak?" tanya Mey pada pria itu.
Si pria itu menurunkan Alfi sambil tertawa pada Perempuan dengan pakaian sederhana dan rambut di sanggul itu "tanya kamu sangat lucu, harusnya aku yang bersalah dan bertanya pada anak kamu, tapi kamunya yang bertanya demikian"
Mey tersenyum ia memang payah dalam hal bersosialisi dengan orang asing, ia membawa Alfi kedekapannya "aku hanya takut anakku merepotkan"
"Namanya juga anak-anak, dia masih dalam masa perkembangan motorik, sama seperti anakku" pria berkaca mata itu menunjuk seorang bocah perempuan memakai kaos merah dan celana jeans pendek sedang memeriksa kelopak bunga dahlia yang sedang mekar. Bocah itu seusia Alfi.
"Kelihatannya putri bapak adalah anak yang pintar"
"Papa..papapa!' bocah perempuan kecil berambut hitam itu menghampiri si pria berkaca mata itu sambil membawa setangkai bunga dahlia padanya.
"Ini untuk papa?"
Bocah itu mengangguk.
"Terima kasih" pria itu mencium pipi putrinya lalu mengenalkan Alfian pada sang bocah "kenalkan ada teman baru Rhea, tanya siapa namanya?"
"Alfi" jawab Alfi pendek.
"Namanya Alfi, kenalkan aku Lhe"
Mey kagum pada anak perempuan cerdas anak si pria berkaca mata itu. Pasti si pria itu yang mendidik putrinya.
"Kamu yang tinggal di rumah berwarna biru kan?' tanya pria itu pada Mey. Mey mengangguk. Rumahnya memang berwarna biru.
"Kenalkan Aku Surya, aku tinggal di sana" pria yang bernama Surya itu menunjuk rumah bercat putih tidak jauh dari rumah Mey.
"Kita masih bertetangga tapi kamu orangnya tertutup" ujar Surya sambil membenarkan kaca matanya.
"Aku memang payah" ujar Mey menyadari kekurangannya.
"Aku mengerti, tidak semua orang bisa terbuka pada orang lain apalagi perempuan rumahan, tapi itu bagus! jarang perempuan seperti itu zaman sekarang"
__ADS_1
-
-
-
"Oh ya siapa nama kamu?"
"Mey"
"Nama kamu bagus pasti kamu lahir bulan Mey atau kamu lahir pas upin ipin booming, Mey- Mey"
Mey tertawa, pria itu benar ia lahir bulan Mei dan mak serta bapaknya tidak usah ribet ngasih nama dan langsung mencantumkan itu sebagai namanya.
"Tapi ada makna dari kata Mey lho?"
"Apa itu kalau aku bolah tau?"
'Mey artinya kuat, cerdas dan pemberani"
"Sepertinya tidak cocok untuk aku"
"Oh ya...'
Mey mengangguk membenarkan ia kebalikan dari itu ia lemah dalam segala hal.
"Kuat itu tidak hanya soal tenaga tapi juga soal mental, kamu terlihat kuat secara mental"
"Tentu saja pak, kalau bukan aku sudah di rumah sakit jiwa" Mey tertawa dan Surya pun ikut tertawa.
Mereka asyik mengobrol hingga akhirnya sadar jika mereka kehilangan anak-anaknya.
Surya dan Mey sama-sama panik dan memanggil anak mereka.
"Alfi!!!!"
"Rhea dimana kamu sayang?"
Mey dan Surya mencari dua bocah itu sambil terus memanggil sampai keliling taman. namun tidak di temukan.
"Dokter Surya mencari Rhea?' tanya perempuan muda yang sedang hamil tua mungkin dia kesana untuk olah raga.
"Ya apa nona melihat nya?"
"Dia disana" perempuan itu menunjuk ke suatu arah. Pria itu tersenyum lega dan memanggil Mey.
Rupanya dua bocah itu sedang berlari mengejar kupu- kupu dekat jalanan. Mey tidak menyadari datangnya bahaya pada anaknya. Alfi berlari ke jalanan sebuah motor tidak sengaja menyenggolnya.
Mey berteriak suaranya menghilang di tengorokan, Kakinya mengejar Alfi tidak berasa memijak bumi.
__ADS_1