
Hugo mengusap matanya setelah semalaman ia tidur setengah pingsan. Telinganya dapat mendengar tapi tubuhnya sulit untuk digerakkan, hatinya bertualang mencari seseorang.
Mey, seandainya ia ada disini duduk di dekatnya mungkin sakitnya akan segera pulih. Ia merindukan tangan lentik itu mengusap keningnya atau mungkin menciumnya dengan lembut.
Mey, ia merindukan perempuan itu rasanya sudah berabad- abad ia tidak bertemu Mey dan tidur di sampingnya.
Hugo melihat sekitar ada sang kakek dan sang papa duduk di sofa kamar sambil minum kopi dan makan roti. Bau kopi menusuk masuk ke indra penciumannya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Adyaka.
"Hmm"
"Ya sudah kalau begitu tidur lagi" sambung Adyaka tapi kemudian ia berusaha mengelak dari tongkat Adyatama yang mengarah padanya karena menyuruh Hugo tidur lagi.
"Alfi mana pa?"
"Ada, sama Vino"
Hugo berusaha duduk tapi kemudian ia meringis karena kepalanya sangat pusing.
"Kamu ini cucu Adyatama tapi kenapa kamu begini cengengnya, kalau kamu mau, kamu bisa menggengam dunia di bawah kendali kamu" ujar Adyatama.
"Kalau menggunakan kekuasaan untuk sesuatu namanya manja kek"
"Atau kamu serahkan saja sama kakekmu ini semua masalah kamu"
"Masalah apa kek? aku gak punya masalah"
"Kamu di sekap dan sakit, kamu bilang tidak punya masalah?"
"Sudah kelar makanya gak ada masalah lagi"
"Kamu itu CEO baru, tapi baru saja menjabat sudah absen"
"Pecat aja kek" jawab Hugo datar sambil melihat ke jam dinding kamarnya. Sudah tengah hari, bagaimana kabar Mey?
"Sampai kapan kamu akan terus begini?"
"Sampai Mey pulang"
Pintu terbuka Kikan masuk membawa nampan berisi susu segar dan roti. Matanya mengarah ke Hugo tapi Hugo tidak menghiraukannya. Pria itu duduk bersandar ke tempat tidurnya sambil mengitak- atik ponsel menghubungi Mey tapi panggilannya tidak kunjung diangkat.
"Kamu sarapan dulu" Ujar Kikan.
__ADS_1
"Makasih Kikan taruh saja di nakas" ujar Hugo tanpa mengalihkan perhatian dari layar di depannya.
"Aku suapin?"
"Gak usah Kikan, aku juga punya dua tangan kok sama kayak kamu"
"Bagaimana kondisi kamu?"
"Lumayan" jawab Hugo, hambar.
Kikan menghembuskan nafas dan melihat ke papa tirinya, Adyaka minta pembelaan. Tapi rupanya pria itu tidak mau ikut campur dengan urusannya.
"Kamu sudah sarapan Kikan?" sapa Adyaka.
"Sudah pa, sama mama di bawah" suara Kikan mengandung hujan karena ucapan Hugo barusan.
"Tante Elsa sudah pulang?"
"Belum pa, kabarnya prosesi pemakaman mbak Caleya baru dimulai"
"Siapa yang meninggal? Caleya?" tanya Hugo penasaran.
"Iya Hugo, Caleya mantan istrinya dokter Surya, dia kecelakaan dini hari tadi" beritahu Adyaka.
Tadi malam ia memutuskan untuk berhenti dipinggir jalan sembari menunggu ponselnya di cash di mobil. Ia tidak mau mengambil resiko membawa Alfi dalam keadaan sakit. Setelah batray ponselnya terisi ia langsung menelpon Vino untuk segera menjemput Alfi. Hanya menjemput Alfi sedangkan dirinya akan kembali ketempat Mey tapi kemudian Vino melarikan dirinya untuk pulang setelah tiba dirumah ia benar-benar tumbang. Hingga papanya memanggil dokter keluarga untuk dirinya.
"Kamu lihat saja di berita ada secara live kok" Kikan menghidupkan televisi kamar Hugo. Banyak yang datang melayat kesana "
Adyatama dan Adyaksa ikut melihat ke layar itu. Dari sekiannya banyak orang, ada seseorang yang membuat Hugo bangun dari tempat tidurnya.
"Mey?"
Suara Hugo berisik membuat semua orang terganggu.
"Aku tau itu istri kamu tapi tidak perlu lebay juga" sinis Adyaka tapi kemudian ia mendapatkan ujung tongkat Adayatama di kepalanya. Setelah penayangan pemakaman Caleya selesai. Hugo ganti chanel asal karena kesal tidak ada Mey bersamanya padahal ia lagi sakit. Tapi kemudian ia menyesal untuk meneruskan menonton karena chanel itu membahas dirinya bersama Kikan. Ia mematikan dan melempar remotnya ke meja. Setelah itu bangkit dari sana.
"Hey kau mau kemana?" teriak Adyatama " kau masih sakit!"
"Aku sudah sehat kek" balas Hugo tiba di pintu dengan langkah buru- buru.
***
Pemakaman Celeya usai, satu persatu pelayat meninggalkan tempat itu dan akhirnya tinggallah dokter Surya bersama Mey dan Rhea. Lama dokter Surya duduk di samping makam itu sebelum akhirnya ia bangkit dari sana dengan pakaian kotor oleh tanah.
__ADS_1
Matanya menangkap seorang pria mendatangi tempat itu.
Pria itu berpostur tinggi, bertubuh atletis, wajahnya sangat tampan dan sebelah telinganya beranting. Dia adalah Renzo kalau di film sering jadi berandalan dan di dunia nyata tidak kalah berandalannya.
"Mey, tolong bawa Rhea duluan ya" ujar dokter Surya pada Mey yang berjalan di sebelahnya.
"Baiklah dokter" Mey mengajak Rhea untuk pergi bersamanya duluan.
Dokter Surya menghadang langkah Renzo. Istrinya kecelakaan dan meninggal lalu ia datang setelah pemakaman usai. Pria macam apa dia? setelah merebut Caleya ditangannya lalu ia buat hidupnya hancur dengan berselingkuh dengan sahabatnya. Sekarang pria itu datang dengan langkah ringan kesana tanpa kaget dan sedih dengan apa yang terjadi.
Benar-benar pria bajingan!
Tangan dokter Surya mengepal penuh amarah begitu dekat dengan Renzo tanpa di awali dengan pertanyaan sebuah tinju menyambut wajah Renzo. Pria itu terhuyung kebelakang sambil memegang wajahnya.
"Hey pria bajingan! inikah tanggung jawab kamu terhadap istri kamu? kau pria iblis yang membuat gendermu ikut menanggung malu" dokter Surya meraih kerah baju Renzo dan memukulnya bertubi-tubi.
"Istri kamu kecelakaan dan meregang nyawa, tapi kamu kemana saja, ha? kau datang setelah dia si makamkan, dimana isi kepala kamu??"
"Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, kenapa kau memukuli aku?" Renzo mengasih pembelaan bodoh untuk dirinya dan balik menyerang dokter Surya tapi meski tubuhnya sangat tinggi dari pada dokter Surya ia sangat sulit mengimbangi tenaga dokter itu selain ahli bela diri juga kuasai oleh emosi.
"Kau asyik berselingkuh dengan Alexa sampai kau tidak mempedulikan istri kamu sendiri, kau pria jahanam! bajingan!! akan kubuat kau ikut menyusul Caleya ke alam sana, agar kau menerima hukuman darinya!!"
Dokter Surya benar-benar tidak mengasih Renzo angin bahkan untuk bernafas. Tendangan dan pukulan mendarat di tubuh Renzo.
Pria jangkung itu akhirnya menjadi bulan-bulanan di tanah. Mey yang sedari tadi melihat hal itu dari kejauhan berlari menyongsong kesana "sudah dokter! sudah! kuasai emosi dokter"
"Dia pantas mati Mey, dia bajingan"
"Dokter!!!"
Mey jadi ngeri ternyata dokter Surya kalau berkelahi juga sangat jago membuat lawan tidak berkutik tapi kenapa waktu itu ia babak belur oleh Hugo?
Mendengar teriakan Mey, dokter Surya berhenti memukuli Renzo dan melihat pada wajah cemas di depannya.
"Jangan lanjutkan lagi dokter, jika dia punya hati, hukuman rasa bersalah akan membayangi dirinya seumur hidup"
Dokter Surya berhenti karena larangan Mey kalau tidak dia akan memakamkan Renzo di samping Caleya hari ini juga.
Mereka meninggalkan Renzo yang tergeletak di tanah mengerang kesakitan.
Bayang-bayang matahari sore menemani langkah Mey dan dokter Surya menuju di mana Rhea berdiri menunggu mereka. Tapi kemudian muncul satu bayang-bayang lagi berdiri tidak jauh di depan sana.
Wajah orang itu tidak kalah garangnya dari pada kemarahan dokter Surya pada Renzo apalagi melihat Mey berjalan di samping dokter Surya.
__ADS_1