Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
mantan oh mantan 2


__ADS_3

Senyuman Mey mengembang sempurna saat melihat Hugo dan Kikan dan bertanya "kalian disini juga?"


"Iya Mey" jawab Kikan gugup karena jari-jemari Hugo sudah memutih menahan kesal "kamu bukannya di desa ya?"


"Oh, tadi pagi aku di jemput dokter Surya, aku kira mau apa ternyata.." Mey memarkan cincin di jari manisnya tanpa dosa.


"Oh, baru dilamar nih ceritanya?"


Mey mengangguk, sumringah. Sedangkan dokter Surya tersenyum penuh arti pada Hugo. Akhir pertandingan ini ialah yang akan menang. Ia yakin itu.


"Selamat ya" ujar Kikan.


"Terima kasih"


"Kami menikah dua minggu lagi, kamu dan Hugo datang ya aku pasti akan kasih kamu undangan kok" Mey berkata tegar menekan kecemburuannya karena tidak mungkin juga ia punya hak untuk cemburu pada Kikan karena sebentar lagi ia juga bakal menikah dengan seorang pria maka ia harus memaafkan masa lalu untuk melangkah ke masa depan.


"Maka dari itu Mey, jangan dekati pria lain lagi ingat aku adalah calon suami kamu" sudut mata dokter Surya melihat ke Hugo penuh kemenangan. Ia menggendeng Mey untuk segera pergi dari sana.


Hugo mematung gabungan emosi, cemburu, sakit hati dan patah hati. Itu tangan sang dokter tidak bisa di kondisikan, seenaknya nangkring di bahu Mey.


"Mey kamu tidak boleh pergi!!" kewarasan Hugo di uji. Ia ingin mengejar Mey dan menariknya agar tidak pergi bersama dokter itu namun lidahnya kelu. Ia berusaha menteralkan pikiran dan nafasnya agar stabil. Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya.


"Ya, ada apa?" tanya Mey sambil melihat kebelakang dimana Hugo berdiri.


"Alfi,.......kamu hanya mengizinkan sehari bersama aku bukan? aku antar Alfi kemana?"


Mey melihat ke pergelangan tangannya, jam tiga sore. Itu berarti sebentar lagi malam.


"Mana Alfi?"


"Aku titip sama Vino"


"Oh ya nanti aku jemput ya, kabari saja aku tempatnya atau sekarang, kamu kasih tau saja dimana Alfi"


"Aku kirim alamatnya, kayaknya Vino mau pergi dan aku juga akan ngajak Kikan jalan"


"Baiklah"


Hugo mematikan sambungan terlebih dahulu. Kikan melihatnya dengan mata menyipit "kenapa nama aku di sebut-sebut?"


"Buat di jual" jawab Hugo pendek "kamu pulang naik taksi saja, aku duluan"


Hugo bergegas pergi meninggalkan Kikan disana.


"Ada Mey?" tanya dokter Surya bernada curiga.


"Kita jemput Alfi dulu ya dok, Alfi ada bersama Vino dan Hugo sepertinya juga akan jalan bersama bini barunya, setelah itu kita sama-sama saja mengajak Rhea dan Key sekalian"


Dokter Surya menurut ia mengemudikan mobilnya ke tempat yang di sebut Mey. Di sebuah pertigaan jalan dimana tempat yang di sebutkan Hugo. Mereka duduk berpanas-panas kena matahari sore di pertigaan itu melihat setiap mobil yang lewat dari tiga arah seperti orang kurang kerjaan berharap itu adalah mobil Vino yang membawa Alfi. Kalau orang berjemur di pantai mereka berjemur di sana karena di pertigaan itu memang tidak ada pepohonan atau warung maupun cafe tempat berteduh.


Berjam-jam mereka duduk di sana tapi Vino tidak kunjung datang.


Tidak jauh dari mereka terlihat sebuah mobil terparkir dengan nyaman di bawah pohon rindang dengan mata tidak lepas dari sosok mereka berdua. Ia terus mengawasi hingga dengan waktu yang lama. ini lebih baik dari pada mereka jalan berdua dan lepas dari pantauannya.

__ADS_1


Rasain kencan di pinggi jalan. Makan tuh debu tawanya dalam hati.


"Sudah sore dok, dokter menitipkan Rhea dan Key hanya sampai sore kan? lebih baik dokter jemput mereka duluan" ujar Mey akhirnya pada dokter Surya.


Dokter Surya juga gelisah sesekali melihat jam tangannya. Ia mencemaskan Mey disana sendirian bagaimana kalau calon istrinya kenapa-napa tapi anak-anaknya juga butuh dirinya.


"Gak apa-apa dok, mereka masih kecil aku udah gede bisa jaga diri" Mey meyakinkan dokter Surya.


"Kamu yakin Alfi sama Vino coba kamu telpon lagi Mey"


Mey kembali menelpon Hugo dan baru saja ia menelpon terdengar suara dengan suara meninggi " ada apa lagi sih? ganggu saja"


"Mana Alfi?'


"Kamu tunggu saja, cerewet bangat" setelah itu Hugo mematikan ponselnya dengan senyuman.


"Orangnya lagi tidak waras dokter, dokter jemput saja Rhea dan Key duluan mungkin sebentar lagi Alfi datang, kalau sudah datang aku akan kabari dokter"


"Baiklah, tapi boleh aku minta satu hal?"


"Apa dok?"


"Jangan panggil aku dokter, yang lain saja"


"Panggil apa enaknya?"


"Yang manis dikit"


"Permen?"


"Lalu apa? hmmm bagaimana kalau mas saja"


"Mas?" dokter Surya ingat kalau Hugo juga di panggil mas oleh Mey. Dia gak mau samaanlah.


"Chery? honey atau baby"


"Bahasa apaan tuh dok, saya gak ngerti"


"Artinya sayang Mey"


"Oh, sayang"


"Kalau kamu udah mulai sayang gak sama aku?"


"Kan udah di bahas, Mey sayang kok sama dokter"


"Cinta?"


"Sayang sajalah dulu dok natinya cintanya juga bakal menyusul"


"Jadi mau panggil apa nih, honey?'


"Honey, bahasa yang aneh tapi bagus, baiklah honey saja"

__ADS_1


Dokter Surya senyum dengan hati yang berbunga-bunga "coba sebutkan"


"Honey"


"Ya honey"


Mereka berdua saling tertawa rasanya sangat aneh panggil honey-honeyan tapi mampu membuat hati meletup.


"Baiklah honey aku jemput calon anak-anak dulu ya, tapi honey hati-hati disini, kalau ada apa-apa telepon aku"


Mey mengangguk dengan senyuman, malu. Ia mempersilahkan dokter Surya untuk pergi tapi pria itu masih berdiri disana "katanya mau pergi"


"Kamunya belum peluk"


"Dokter, eh Honey apaan sih bikin malu saja" Mey mendorong dokter Surya kemobil. Dokter itu tertawa setelah sekian lama akhirnya rasa bahagia itu kembali ada.


"Hati-hati honey"


"Ya honey"


Mereka saling melambaikan tangan sambil tertawa sampai akhirnya mobil dokter itu berlalu.


Dan Mey tanpa curiga sedikitpun terus menunggu disana sampai akhirnya Hugo kembali menelpon agar menjemput anaknya ke tempat Vino saja. Dan dia mengirim alamat yang baru.


"Kamu memperbingung aku!!" ujar Mey kesal setengah teriak.


"Tempat Vino ada di lantai lima' beritahu Hugo tidak peduli dengan kemarahan Mey karena kemarahannya lebih berarti.


Mey segera memesan ojol untuk kesana. Ternyata lokasinya tidak jauh dari pertigaan itu. Sebuah gedung apartement lima belas lantai dan tidak begitu srtategis tapi dilihat dari bangunan dan falisiltasnya adalah tempat orang berduit yang ingin dengan kenyamanan.


Mey bertanya pada resepsionis dengan kamar yang di maksud dan resepsionist itu mengasihkan kunci pada Mey.


"Aku ingin kekamar dua kosong kosong, menemui seseorang " beritahu Mey bingung karena di kasih kunci.


"Aku tau mbak, pemiliknya meminta mengasihkan kunci pada mbak dan mbak menunggunya disana"


Mungkin Vino keluar dan nitip kunci pada resepsionist pikir Mey tanpa curiga dan naik ke sana lewat lift. Ia membuka pintu kamar itu dan masuk kesana.


Baru saja ia masuk terdengar suara derap sepatu di belakangnya bersamaan dengan itu ia melihat seseorang tersenyum padanya penuh arti.


"Akhirnya kamu datang juga Mey"


"Mas Hugo, mana Alfi?"


"Belum pulang, di ajak papa liburan"


"Kamu membohongi aku?"


"Iya"


Mey mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter Surya minta jemput dengan nya tapi dengan cepat ponsel itu beralih tangan. Hugo memasukkan ponsel itu ke sakunya.


"Kamu mengesalkan bangat sih" ia berlari kepintu tapi dengan cepat pula tangan Hugo mengunci pintu itu.

__ADS_1


Sekarang tamatlah riwayat Mey.


__ADS_2