Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
mantan oh mantan


__ADS_3

Menjadi direktur utama atau seorang CEO di sebuah perusahaan tidaklah mudah tapi ia dengan gigih terus meningkatkan kwalitas perusahaannya agar mampu bersaing di kelas entertainment tingkat internasional dan di terima panggung dunia. Sejumlah anak muda kece dengan tampilan kekinian sampai setengah baya kerap datang kesana. Hugo tidak mematok dari segi umur untuk berkarya asal mumpuni di bidang itu karena berkarya itu tidak pandang bulu. Dia menyediakan semua yang di butuhkan dalam gedung itu seperti tempat audisi, ruang latihan dan menyediakan pelatih koreografer terbaik sedangkan untuk pencipta lagu dan musik kadang ia ikut andil dalam itu untuk menemani kegabutannya saat letih berhadapan dengan layar komputer dan tumpukan kertas di hapadannya. Ia menciptakan musik hanya dengan apa yang didengarnya kadang mendengar detak sepatu para karyawan saja ia sudah bisa menghasilkan nada.


Hugo menggeliat sudah satu jam dia duduk di kursi tubuhnya merasa letih dan otaknya cepat menjadi panas. Ia meraih kamera di hadapannya dan membuka foto yang ada disana. Sudah ada banyak beragam foto yang berhasil di ambilnya. Ia senyum-senyum melihat itu semua.


"Boss, ada Ikan di bawah" Vino nyelonong masuk, kebiasaannya.


"Suruh dia pergi"


"Dianya nyolot boss"


"Memangnya gak ada security yang jaga?" suara Hugo mulai meninggi.


"Ada kok" terdengar suara perempuan di depan pintu karena pintu terbuka lebar ia melangkah masuk. Hugo memperhatikan perut perempuan itu sudah kelihatan buncitnya. Penampilan Kikan jauh berubah sekarang ia pakai dress dan blazer, rambutnya diikat tinggi serta memakai sepatu pantofel.


"Kenapa kesini?" tanya Hugo ketus.


"Bertemu dengan kamu"


'Aku gak ada waktu"


"Aku mau bicara sama kamu"


"Sejak masuk kamu sudah bicara"


"Maksud aku, berdua"


Kening Vino berkerut, curiga. Jangan-jangan nona ikan bakal buat gaduh lagi.


"Aku janji gak bakal lama" ujar Kikan meyakinkan.


"Nona ikan janjinya suka dusta" cibir Vino kemayu.

__ADS_1


"Untuk terakhir kalinya, aku mohon kasih aku waktu"


"Eyke kok curiga sama nona Ikan sih, pakai kata terkahir segala jangan-jangan nona Ikan akan out dari atas dunia ini"


Biasanya Kikan akan marah dengan mulut lemes Vino tapi kali ini hanya diam. Kikan bicara setengah memelas.


"Di luar saja" ujar Hugo akhirnya karena Kikan tidak mau beranjak dari sana. Kalau ia keras lagi takutnya Kikan akan pendarahan lagi dan dilarikan kerumah sakit, Hugo ngeri.


Hugo pergi terlebih dahulu dan Kikan mengikuti di belakang.


Vino heboh sendiri melarang Hugo jangan pergi dengan Kikan. Tapi Hugo tidak mendengarkan.


Hugo mengeluarkan mobilnya dari parkiran pribadinya di kantor itu. Ada tiga buah mobil di sana untuk berjaga-jaga kalau ia malas mengajak sopir salah satunya termasuk untuk kedesa.


"Masuk!" ujar Hugo pada Kikan. Perempuan itu masuk dan duduk dekat Hugo di depan. Ia hanya diam tergantung Hugo akan membawanya kemana. Ternyata Hugo membawanya ke sebuah cafe outdoor bertemakan taman.


"Aku mengajak kamu kesini biar rileks aku takut nanti kandungan kamu bermasalah lagi" Hugo memberitahu alasannya membawa Kikan kesana.


"Kejam kamu Kikan, masa anak sendiri mau di bunuh"


Hugo memarkirkan mobilnya dan mengajak Kikan duduk di bawah naungan sebuah pohon rindang dekat kolam yang sejuk.


"Kamu datang bukan untuk membohongi aku lagi kan?" Tanya Hugo.


"Gak lah, aku datang hanya untuk minta maaf sama kamu"


Kikan duduk di kursi sambil menghembuskan nafas karena kelelahan efek dari kehamilannya. Seorang waiter datang membawa buku pesanan. Kikan yang pertama kali mengisi ia minta jus segar dengan TPL, tak pake lama karena dia sudah sangat haus.


"Aku minta maaf karena telah membuat Mey pergi dari sisi kamu" sambung Kikan.


"Kamu minta maafnya mudah, kamu tau perjuangannya untuk kembali seperti apa?"

__ADS_1


Hugo menggigit geraham, menahan amarah agar jangan kesampaian, nanti anak orang bisa berabe.


"Aku minta maaf Hugo telah membuat hidup kamu kacau, maafkan aku ya"


"Mau bagaimana lagi, aku terpaksa"


"Memaafkan aku?'


Hugo tidak menjawab.


"Kamu tau aku benar-benar panik tapi sekarang aku tidak takut lagi kok, ada dia penguat aku" Kikan mengusap perutnya, bahagia.


"Aku bodoh bangat ya? padahal waktu aku pulang kita kembali baik-baik saja mungkin sebagai teman tapi aku merusak itu semua"


"Itu kamu tau"


"Makanya aku minta maaf sama kamu" Kikan menyeruput minumannya baru saja minum gelasnya sudah kosong.


"Kamu hanya bilang itu kan? kalau sudah lebih baik kamu pulang" ujar Hugo karena ia juga bakal ketempat Mey sesudah ini. Bukan karena cemas Kikan minta nambah jus lagi.


"Iya aku hanya bilang itu, sekarang jiwa aku sudah plong"


Kikan bangkit dari duduknya sedangkan Hugo pergi membayar tagihan. Tapi ketika Hugo melewati sebuah payung pengunjung ia melihat seseorang yang akan di temuinya berhadapan dengan orang yang di bencinya. Dokter itu mengasihkan bunga pada Mey dan memasangkan cincin di jari manisnya.


Jantung Hugo berdentum keras melihat semua itu. Di depan mata kepalanya sendiri mantan istri tercintanya di lamar orang lain.


Senyum merekah terbit dari bibir Mey dan dokter Surya setelah memasang cincin itu. Saat itulah dunia Hugo seolah berhenti berputar.


"Hugo, kamu lama bangat sih?" Kikan yang tidak sabar menunggu memanggil Hugo seraya menghampiri. Mendengar nama Hugo, dokter Surya dan Mey ikut menoleh.


Saat itulah kepercayaan Mey pada Hugo makin tidak ada lagi karena melihat Hugo bersama Kikan. Apalagi melihat perut Kikan yang mulai membesar.

__ADS_1


__ADS_2