Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
harus apa


__ADS_3

Suasana meja makan riuh oleh suara Alfi dan Rhea yang minta sama sama pada Mey. Mulai dari bentuk piring sampai porsi nasi, sambal dan sayuranpun harus sama. Setelah itu baru kedua bocah itu makan sambil berciloteh.


Setelah Alfi dan Rhea makan giliran dokter Surya yang di ambilkan nasi beserta sayuran oleh Mey. Bukan karena apa, tapi karena Mey tinggal dirumahnya jadi seharusnya ia berterima kasih pada tuan rumah dengan melakukan hal-hal yang kecil mulai dari membantunya memasak sampai bersih-bersih.


Dokter Surya melipat tangan matanya tidak lepas dari Mey sedari tadi. Baginya suasana seperti ini sangat membahagiakan dimana Mey ada bersamanya dan mengurus dirinya dengan penuh cinta. Meski yang cinta hanya dirinya sendiri.


"Makan dokter" Mey menyodorkan sepiring nasi pada dokter Surya.


"Terima kasih Mey" dokter itu melihat masakan ala Mey. Ada sayur tumis kangkung dengan irisan cabe merah dan sambal gado-gado. Selama Mey disana baru kali ini ia memasak. Kemaren ia sangat bersedih dengan keadaannya. Dokter Surya memesan makanan seperti biasa yang dilakukan bersama Rhea.


Dokter Surya akan memulai makannya namun perempuan di depannya tidak mengambil nasi untuknya sendiri melainkan bermenung.


"Kamu tidak makan?"


"Belum lapar dok" jawab Mey. Wajahnya tersirat kesedihan mendalam pasti teringat dengan Hugo.


Dokter Surya yang sudah cuci tangan itu mendorong piringnya kedepan. Mey heran kenapa dokter itu tidak jadi makan.


"Apa masakan saya gak enak dok?"


Dokter Surya menggeleng "kalau kamu tidak makan maka saya juga tidak akan makan" tegasnya.


Mey jadi salah tingkah dan tidak enak hati jika dokter Surya tidak jadi makan karena dirinya.


"Baiklah dokter, saya akan makan"


Mey mengambil piring dan meletakkan sedikit nasi disana.


"Hanya sedikit?" tanya dokter Surya lalu membantu menyendokkan nasi ke piring Mey "habiskan saya akan temani kamu makan sampai nasi itu habis"


"Ini banyak dok"


"Kesedihan itu juga butuh tenaga"


Perut Mey menolak untuk diisi tapi terus dipaksakannya karena dokter Surya berjanji tidak akan pergi dari sana sampai nasi Mey habis.


"Masakan kamu enak, saya suka"


"Terima kasih dokter"


"Saya boleh nambah?" tanya dokter Surya.


"Rhea juga pa" pinta Rhea.


"Alfi juga"


"Kamu lihat Mey, kamu hebat! anak- anak suka masakan kamu"

__ADS_1


Kali ini dokter Surya yang mengambilkan nasi dan lauk untuk Alfi dan Rhea. Sama seperti tadi kedua bocah itu mintanya sama-sama. Dokter itu merasa seru ada bocah seperti kembar dan akur asal apa yang dimintanya sama.


Selesai makan Rhea dan Alfi pindah keruang tengah untuk menonton sedangkan dokter Surya menemani Mey sampai selesai setelah selesai dokter itu membawa piring kotor ke wastafel.


"Biar saya saja dokter"


"Aku saja Mey, kamu sudah memasak, sekarang giliran aku cuci piring"


"Tapi dok, anda pasti lelah karena seharian bekerja, biar aku saja"


Mey mengambil alih tugas cuci piring itu tapi dokter Surya ngotot tidak mau pergi dari sana.Jadilah mereka mencuci piring berdua.


mey tidak sengaja memercikkan air dan mengenai wajah dokter Surya.


"Mey!!!'


"Maaf dokter, maaf....!"


"Kamu jahat Mey, rasain nih!" dokter Surya memercikkan air pada wajah Mey.


Keduanya tertawa sampai tidak menyadari seseorang masuk kesana. Ketika Mey membalikkan badan tubuh perempuan itu langsung membeku.


"Mas Hugo?"


Dokter Surya mendengar nama Hugo ikut membalikkan badan. Ekspresi dokter Surya biasa saja. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi jadi dia sudah siap dengan apapun yang akan terjadi.


"Pintu rumah tidak dikunci, berulang kali aku panggil orang punya rumah tidak menyahut ternyata sedang asyik selingkuh" jawab Hugo sinis.


"Kalau begitu selamat datang Hugo" ujar dokter Surya sambil mengelap tangannya "silahkan duduk"


"Aku kesini tidak untuk bertamu" jawab Hugo kasar. "aku mau jemput dia"


Perasaan rindu dan ketakutan Hugo berubah menjadi kesal dan marah. Lagi-lagi Mey dan dokter Surya berbahagia didepannya. Mey sama sekali tidak mencemaskan dirinya setelah lebih dua hari menghilang.


Sedangkan Mey melihat Hugo dengan kecewa setelah memergoki Hugo tidur bersama Kikan dan kejadian pagi ia dipaksa pulang, baru sekarang Hugo datang mencarinya. Hugo sangat keterlaluan.


"Pulang!!!!" ujar Hugo penuh amarah.


Mey menggeleng "tidak, Mey gak akan pulang"


"Aku lelah Mey, kenapa kamu pergi seenaknya tanpa mengasih tau aku? apa begini tingkah laku seorang istri?"


"Mas menyalahkan Mey? lalu selama ini mas kemana saja? di depan mata kepala Mey sendiri mas tidur bersama perempuan lain"


"Tidak seperti yang kamu pikirkan Mey!"


"Mas dan dia akan menikah lalu mas bilang gak seperti yang Mey pikirkan?"

__ADS_1


"Ayo pulang!!!!"


"Gak"


"Kamu dirumah seorang laki-laki, apa kamu tidak berpikir?"


"Dokter Surya gak buaya kayak mas"


"Oh ya, gak buaya bagaimana? malah lebih parah dari buaya apapaun di embat termasuk istri orang" Hugo berkata sambil melihat dokter Surya tajam. Dokter itu tidak menunjukkan wajah tersinggung, memang begitu kenyataannya. Marah Hugo adalah wajar tapi pilihan Meylah yang akan menentukan.


"Mas pulanglah jangan ganggu Mey"


"Kamu istri aku, bodoh!!!!"


"Apapun yang mas katakan Mey gak akan pulang, mas urus saja mantan mas, calon istri mas!" Mey lari kedalam kamar tamu dokter Surya dan mengunci pintu.


"Mey!!!!"


Hugo menghembuskan nafas lelah. Ia lelah secara fisik dan hati sambil melihat pintu yang dikunci Mey. Mey mengajak perang dunia di rumah vs nya. Pasti dokter itu sekarang tertawa senang dalam hati.


"Jangan terus memaksa Mey juga butuh waktu" ujar dokter Surya.


"Dan kamu memamfaatkan waktu itu"


"Bisa jadi ya, dan mungkin saja tidak"


"Kau tau, aku akan tidak akan pernah melepaskannya untukmu"


"Egois itu adalah musuh terbesar manusia, jika kamu bahagia dengan pilihan kamu maka kamu tidak akan menyakitinya dan jika dia bahagia tanpa kamu harusnya kamu juga melepaskannnya kan?"


"Aku bukan kamu dokter, yang melepaskan istrinya bersama selingkuhannya"


"Pada akhirnya yang terbaiklah yang akan terpilih kembali meski jalan untuk itu tidak ada lagi"


"Kau ingin aku menyesal seperti dirimu?"


"Penyesalan pada diri seseorang itu tidak pernah sama, mungkin dulu aku pernah menyesali sesuatu tapi setelah melepaskannya banyak pelajaran yang aku petik setelah kehilangan, salah satunya instropeksi diri"


"Kau menyindir aku?"


"Juga termasuk penerimaan kamu, kamu boleh menganggp itu sindiran dan boleh juga menganggp itu adalah pelajaran, tergantung kamu memposisikan sebagai apa"


Hugo benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat dan untuk berantem dengan dokter Surya. Tubuhnya terasa sempoyongan. Ia menghampiri Alfi diruang tengah begitu melihat Hugo bocah itu langsung berlari menyambutnya.


"Papa"


Hugo menciumi wajah anaknya "kamu pulang sama papa, ajak ibu juga"

__ADS_1


__ADS_2