
Sayup-sayup telinga Mey mendengar suara tangisan perlahan ia membuka mata rupanya ia tertidur di kursi sebelah Hugo. Ia mengusap wajah, mengangkat kepalanya dan terlihatlah keluarga Hugo bersama teman-temannya sedang terisak-isak menangis mengelilingi ranjang Hugo. Bahkan Femi dan Roy juga ikut menangis. Wajah mereka kusut karena begadang dan tertidur di sofa tadi.
"Kalian kenapa menangis?" tanya Mey pada mereka.
Femi menunjuk ke depan Mey "Hugo, dia sudah tidak ada Mey, dia sudah meninggal barusan"
Hugo meninggal?
Mey melihat kedepannya di sana ada Hugo yang sudah terbaring kaku dan wajahnya sangat pucat. Selang infus tadi malam yang terpasang di tangan Hugo juga sudah di cabut. Wajah pucat itu terlihat tenang dan damai dengan mata terpejam. Disebelahnya lagi ada Adyatama yang terduduk lemah tanpa daya dengan tangisan di redam sambil memegang dadanya yang kelihatannya sakit.
Mey shock menutup mulutnya dengan wajah tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. Hugo pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pamit . Tidak, Hugo tidak boleh pergi masih banyak jawaban pertanyaan yang harus di jawab Hugo.
Darah Mey seolah berhenti mengalir dan jantungnya sekan lupa untuk berdetak menyaksikan jasad yang terbujur kaku di depannya.
"Hugo bangun!! kamu jangan tinggalkan aku !!!" Mey memekik histeris kemudian memeluk tubuh kaku itu dengan erat sambil terus membangunkannya tapi tubuh itu tidak kunjung bergeming. "kamu jangan tinggalkan aku dan Alfi,..... !!"
"Woy bro, bangun lu! jangan kayak gini, ini gua nantang lu nih! ayo bangun lu! lu gak pecundang kan? woy kenapa diam aja lo" Femi berkata sambil menangis, hidungnya memerah dan wajahnya penuh oleh jejak air mata karena menangis sejak tadi.
"Sudah bro, dia udah tenang jangan tangisi lagi dia, ntar dia jadi sedih! lebih baik kita ikhlaskan dia" Roy menenangkan Femi meskipun ia sangat sedih tapi dialah yang paling waras saat ini.
"Selamat jalan bro, gua do'a kan semoga lo tenang di alam sana" Roy mengusap matanya dengan lengan kemejanya "maafkan gua yang sering ngusilin lo, lo adalah teman istimewa gua" Roy menutup wajah Hugo dengan kain putih tapi dengan cepat Mey menyingkirkan kain itu.
"Jangan tutup wajahnya nanti nafasnya sesak, dia paling gak suka kalau wajahnya tertutup kain" ujar Mey pada Roy. Roy mengangguk sambil menahan tangis "iya Mey, aku tau dia memang gak suka wajahnya tertutup, tapi Mey sekarang dia harus menutup wajahnya agar tidak kena oleh air mata"
__ADS_1
"Kenapa kamu pergi lebih dulu dari kakek?....kenapa bukan kakek saja? harusnya kamu yang membawa keranda kakek kemakam bukan kakek yang mengantar kamu ke pemakaman " Adyatama terbatuk-batuk di samping Hugo sambil memegang dada kirinya. Sakit jantungnya kambuh tiba- tiba. Wajah Adyatama sangat memprihatinkan. Bibirnya pucat dan lemah karena kesedihannya yang sangat mendalam.
Adyaka yang berdiri di sebelah Hugo juga sangat hancur, putra satu-satunya meninggal di depan matanya tapi berusaha mengendalikan kesedihannya "Sudah Mey, ikhlaskan Hugo biarkan dia tenang di alam sana" ujar Adyaksa sambil memegang bahu Mey agar Mey menyerah pada takdir yang ada.
"Tidak pa, Hugo belum meninggal dia tidak akan meninggalkan aku!"
"Dia sudah tenang Mey, kamu yang sabar ya, kita semua harus melepas kepergian Hugo" Adyaka menghapus air matanya.
"Sabar ya Mey, kendalikan diri kamu! Hugo sudah tidak ada, kita harus terima kenyataan ini dengan hati yang ikhlas" bujuk Roy. Mey memandangi wajah yang sudah pasi itu rasanya semua ini bagai mimpi. Hugo pergi begitu cepat tanpa pamit dan mengucapkan selamat tinggal. Padahal banyak yang akan ia bilang sama Hugo dan akan menyelesaikan masalah yang ada. Ia juga belum minta maaf atas semua kesalahannya.
Apa Hugo sudah lelah dengan semua ini dan memilih pergi. masih banyak pertanyaan yang belum di jawabnya tapi kenapa Hugo pergi begitu saja.
Vino datang, masuk kesana sambil menangis "kata dokter jenasah Hugo sudah boleh di bawa pagi ini"
Vino juga sangat sedih tapi ia harus mengurus semua kepulangan Hugo . Ia bergegas sana -sini sambil menangis. Ia juga terlihat sibuk menerima telepon dari banyak orang sambil menjelaskan kronologi atas meninggalnya Hugo. Vino terlihat sering oleng karena tidak kuat dengan semua itu. Ia juga ingin bersama Hugo di saat detik-detik terakhir sebelum di kubur tapi tugas dan tanggung jawabnya tidak bisa di tinggal begitu saja.
"Hey! katanya kamu mencintai aku, tapi kenapa kamu tidak bilang? kamu pengecut, saat aku datang kamu malah pergi" suara Mey berbisik di sisa-sisa kekuatannya dan meletakkan kepalanya di samping Hugo memandangi wajah yang kaku itu tanpa puas "kamu pengecut Hugo....kamu curang! kamu meninggalkan aku yang mencintai kamu, aku mencintai kamu!"
Mey memejamkan mata sambil memegang tangan Hugo tidak peduli semua orang sudah sibuk dalam ruangan. Para suster dan petugas kebersihan mulai membesihkan ruangan itu. Mereka memindahkan tiang infus dan alat-alat yang di gunakan untuk Hugo semalam.
"Jenasah Hugo akan di bawa pulang, semua kerabat sudah menunggu ketadangan Hugo untuk segera di makamkan" beritahu Adyaksa. Roy mengajak Femi untuk satu mobil mengiring ambulance yang akan membawa Hugo sedangkan Vino yang lagi mewek meminta pengawal Adyatama untuk mengawal pria itu sampai pulang.
"Mey, hey!'
__ADS_1
Mey tidak mau bergeming dari tempat itu.
"Mey! bangun deh!"
Tidak, ia tidak akan bangun dari sana ia ingin bersama Hugo.
"Mey, woaay!!'
Suara itu membesar dan membuat Mey kaget hampir saja ia terjatuh dari kursi tempat ia duduk.
"Apaan sih?' Mey mengusap mata dan terlihat Roy tertawa melihatnya. Hanya ada Roy tidak ada yang lainnya. Ruangan itu lengang.
"Kamu kenapa nangis sambil tidur? lihat tuh air mata kamu"
Mey mengusap pipinya ternyata ada banyak air mata disana.
Oh ya, tadikan mereka akan membawa Hugo yang sudah meninggal. Jantung Mey berdegub kencang sambil melihat ke Hugo yang tidur dengan tenang. Wajah Hugo tidak pucat, nafasnya juga teratur dan selang infus masih melekat di tangannya. Mey menghembuskan nafas lega ternyata tadi cuma mimpi.
"Mau kopi?" tawar Femi yang baru datang membeli kopi Ia menyodorkan kopi cup ke Mey. Mey menggeleng, kapan mereka bangunnya kenapa ia tidak dengar?
"Kamu mimpi buruk ya?" tanya Roy sambil duduk di sisi ranjang Hugo sambil meminum kopi cup yang barusan di belikan Femi "Mimpi apa sih Mey, sampai segitunya?"
Mey menggeleng, mimpi tadi kembali membayanginya. Air matanya kembali merembes. Tiba-tiba ia takut mimpinya jadi kenyataan. Ia mengambur memeluk Hugo dengan erat.
__ADS_1