Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
Kikan hamil?


__ADS_3

"Kikan! kamu apa-apaan sih? ?"


Hugo melepaskan pagutan Kikan dengan cepat dan membenarkan pakaiannya. Ia menatap perempuan yang sudah terlihat seperti di amuk tangan jahil itu dengan murka. Mey bisa salah paham lagi dengan situasi ini. Padahal ia baru saja akan menghabiskan waktu bersama Mey.


"Kenapa kamu disini?" tanya Hugo marah . Kikan tidak sopan masuk kekamarnya tanpa izin dan ia juga kaget dengan perlakuan Kikan dengan tiba-tiba.


"Aku menunggu kamu pulang"


"Memangnya kamu siapa aku?"


"Calon istri kamu"


"Jangan gila Kikan, itu hanya ucapan kamu saja aku tidak akan pernah menikahi kamu"


"Jangan pengecut Hugo kamu yang berbuat dan kamu yang harus bertanggung jawab"


"Aku gak ngapain kamu Kikan, jangan sampai respeck aku hilang sama kamu, sekarang kamu keluar!"


"Gak mau Hugo, kamu kenapa kasar sama aku sih?"


"Aku gak mau tau, istri aku hanya Mey dan kamu adalah saudara tiri gak tau diri"


"Hugo' wajah Kikan tampak kecewa baru kali ini Hugo berkata kasar padanya semenjak ia kenal dengan pria itu.


"Aku ini Kikan, kau ingatkan? Ki...kan, kau tau dia kan? dia itu adalah perempuan yang dicintai Hugo Arya Adyatama, hanya dia...!"


"Masa lalu jangan di ungkit lagi! ada Mey, tolong mengerti aku Kikan!"


"Lalu kenapa kalau ada Mey? dia juga bakal jadi madu aku"


"Hanya Mey, tidak ada yang lain"


Hugo memaksa Kikan turun dari ranjang dan mendorong keluar "lain kali jangan sembarangan masuk kekamar orang, kamu sudah lupa dengan tata krama Kikan? dulu kamu yang sering mengajari aku, kamu lupa?"


Kikan termangu sedih mengenang waktu dulu. Sewaktu ia masih polos dan menjadi gadis yang baik. Ia selalu mengingatkan Hugo yang nakal tentang apapun termasuk menjaga tingkah laku. Tapi sekarang semuanya sudah berubah Kikan yang baik hanya tinggal nama.


"Aku gak mau keluar" Kikan menjatuhkan diri ketubuh Hugo dengan cepat pria itu beranjak dan akhirnya Kikan terjerembab ke lantai.


"Sadar Kikan, ini bukan dirimu, ini bukan Kikan yang aku kenal"

__ADS_1


Hugo berusaha mengeluarkan kikan dari kamarnya sebelum Mey datang tapi perempuan itu seperti lintah sulit untuk di angkat. Bukannya pergi Kikan malah kembali memeluk Hugo erat.


"Kikan!!!!"


Hugo mendorong perempuan itu kasar hingga terjengkang keras ke lantai. Kikan meringis kesakitan dan tidak bangkit lagi dari sana.


"Hugo tolong aku"


Hugo tidak menghiraukan Kikan dan bermaksud pergi dari sana untuk kembali pada Mey namun tiba-tiba mata Hugo melebar melihat lantai tempat Kikan jatuh. Lantai itu mulai merah oleh darah.


"Hugo tolong aku, tolong..." ringis Kikan tidak bisa bangkit lagi.


"Kamu kenapa Kikan?" Hugo berbalik dan cemas melihat apa yang terjadi pada Kikan.


"Tolong selamatkan bayi kita"


Mulut Hugo melongo di sertai detak jantung yang tidak kalah cepatnya. Kikan pasti bohong, tidak mungkin itu adalah anaknya.


Tidak!


"Kamu jangan bercanda Kikan!"


"Aku tidak bercanda, tolong aku..aku bisa keguguran"


"Vino!!! Vino..! siapkan mobil, cepat!"


"Ya boss, kenapa yeay teriak-teriak?" Vino berlari membawa tubuh tambunnya dari arah belakang. Mata Vino membulat "itu nona ikan kenapa bos, yeay apakan dia? dia berdarah boss!"


"Jangan banyak tanya, dia dalam bahaya"


"Iya boss, iya eyke siapkan mobilnya" Vino berlari keluar duluan meminta sopir untuk menyiapkan mobil.


"Kikan, kamu harus tetap sadar aku akan bawa kamu kerumah sakit"


"Cepat, tolong selamatkan dia"


Dia, anaknya. Kikan tidak mau anak itu pergi sebelum melihat dunia ini. Bersusah payah ia mempertahankannya bahkan dengan cara yang kejam.


Hugo membawa Kikan kedalam mobil dan menyuruh sopir untuk cepat. Ia cemas bukan karena Kikan bilang itu anaknya tapi karena kasihan bagaimana kalau itu terjadi pada Mey?.

__ADS_1


Mey? ia ingat bahwa tadi ia menunggu Mey di kamar tapi ia tidak datang-datang lalu kemana perempuan itu?.


"Kamu tadi lihat Mey, Vin?" tanyanya pada Vino yang duduk di bangku depan dekat sopir.


"Bukannya nyonya boss tadi udah pergi ya?"


"Pergi?"


Vino mengangguk. Dahi Hugo mengerut dan ia langsung menghubungi Mey tapi tidak ada jawaban. Ia kembali memasukkan ponselnya ke saku karena Kikan meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Wajah perempuan itu mulai pucat untungnya jarak rumah sakit mulai dekat.


Pikiran Hugo mulai kalut, bagaimana hal yang sering di tepisnya adalah kenyataan. Bagaimana bisa satu malam itu berbuah kesalahan yang bahkan akan ia sesali seumur hidupnya. Bagaimana dengan Mey? ia mencintai Mey tapi mengapa masalah yang lebih besar timbul lagi? apa yang akan dikatakannya pada Mey?


Menjalanai hidup bersama Mey tidak lah mudah. Ia butuh waktu untuk menumbuhkan cinta tapi setelah terbiasa dan ia cinta itu tumbuh kenapa harus seperti ini?.


Ini semua adalah kesahaannya yang terlalu bodoh dalam menyikapi segala sesuatu termasuk mengontrol dirinya sendiri. Sekarang ia harus menerima segala konsekuensi dari tingkahnya itu.


Hugo menatap kosong keluar jendela mobil. Rasanya ia ingin menangis, teriak atau lompat saja dari sana. Dirinya sudah banyak membawa derita pada Mey. Masalahnya dengan Kikan yang di anggapnya sepele ternyata tidak semudah itu. Pantas saja Kikan ngotot meminta dirinya untuk dinikahkan. Ia juga akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada kandungan Kikan. Meski ia tidak mencintai bayi itu sama seperti sayangnya pada Alfi.


Setiba Hugo langsung menggendong Kikan ke IGD namun ketika tiba di dekat pintu masuk ia melihat Mey berpelukan dengan dokter Surya. baru tadi ia menjemput Mey untuk pulang tapi kemudian dia kembali pergi menemui dokter itu. Hugo ingin marah dan teriak tapi kemudian ia sadar siapa dirinya. Dirinya yang kurang ajar ini tidak pantas untuk di hadapkan dengan Mey.


"Hugo jangan pergi" Kikan memegang tangan Hugo ketika dokter akan memeriksanya di atas ranjang pasien dan dokter sudah mempersiapkan alat-alat untuk memeriksanya.


"Aku akan kembali"


Hugo berjalan gontai keluar dari kamar itu dan setiba di lorong ia berpapasan dengan Mey yang baru saja keluar dari kamar perawatan Key. Perempuan itu kaget melihat Hugo ada disana. Tapi tidak dengan Hugo. Pria itu terlihat lesu menatap Mey dengan lekat. Tanpa bicara kemudia ia memeluk Mey.


"Mas kenapa?"


"Maaf, maafkan aku" tanpa terasa air mata jatuh membasahi bahu Mey.


"Mas kenapa? apakah ada keluarga yang di rawat di dalam?"


Hugo menggeleng.


"Teman mas?"


Hugo kembali menggeleng tanpa melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku Mey, maaf" hanya itu saja yang di ucapkan Hugo sampai suaranya lirih di telinga Mey.

__ADS_1


"Mas kenapa?"


"Kamu boleh meninggalkan aku, aku tidak akan ganggu hidupmu lagi, kamu boleh bawa Alfi, kamu boleh apa saja Mey, aku tidak akan datang lagi"


__ADS_2