
Tubuh Hugo bergerak akibat dari pelukan Mey yang saking eratnya. Mata Mey melotot dan jantungnya mau copot dengan cepat ia melepaskan pelukan itu.
"Hugo, kamu sudah sadar?" suara Mey terdengar senang karena melihat tubuh yang tadinya kaku itu kembali bergerak.
Femi dan Roy juga mendekat "lo udah sadar bro?" tanya Roy.
Hugo melenguh sambil memegang kepalanya "gua ada di mana?"
"Lo di rumah sakit, habis kecelakaan" jawab Femi "apa yang lo rasakan sekarang?"
"Kepala gua pusing"
"Aku akan panggil dokter, kamu tenang dulu ya" ujar Mey panik karena Hugo bilang dirinya pusing.
"Jangan,...tidak usah! lo siapa?" tanya Hugo sambil meringis.
Mey ketar-ketir mendengar ucapan Hugo yang tidak mengenalinya.
"Dia Mey, mantan istri lo" beritahu Femi "masa lo gak ingat"
"Mantan istri? kapan gua menikah?"
"Lo gak ingat, lo pernah menikah dengan Mey?" tanya Roy serius. Hugo menggeleng sambil melihat ke Mey dengan dahi berkerenyit "gua gak kenal dia"
"Masa kamu gak ingat aku? coba ingat-ingat, ...kita pernah menikah dan punya anak" jelas Mey menekan pada Hugo untuk mengingat lebih keras lagi. Hugo menggeleng "gua gak kenal lo"
"Masa kamu gak ingat aku! kamu adalah mantan suami aku" Mey mulai putus asa dan sedih karena Hugo tidak mengenalinya.
"Percuma di paksa Mey, dia gak bakal ingat, mungkin dia geger otak dan hilang ingatan" ujar Femi dengan raut wajah kasihan.
"Kamu gak boleh lupa dengan aku, aku ini Mey, mantan istri kamu yang kemaren-kemaren kamu intilin terus"
"Kurang kerjaan bangat sih gua ngintilin lo, emangnya lo siapa?"
"Aku Mey orang yang mencintai kamu, kenapa kamu lupa?" Mey memegang tangan Hugo meyakinkan dirinya tapi Hugo tetap menggeleng sambil mencibir sinis.
"Biarin aja Mey, dia butuh waktu untuk berpikir dan memulihkan kepalanya, mungkin ada yang bocor:" Roy berkata cuek sambil menghabiskan sisa kopinya setelah itu ia membuang ke tong sampah.
"Lebih baik kamu siap-siap deh sebentar lagi dokter Surya menjemput kamu"
Femi menahan tawa mendengar ucapan Roy tapi di sembunyikannya.
__ADS_1
"Masa dia melupakan aku secepat itu sih, ini tidak adil" Mey tetap kukuh mengingatkan Hugo.
"Tidak adil gimana? emang gua pernah salah sama lo?" tanya Hugo.
"Salah kamu banyak" Mey menghapus air matanya "kenapa kamu gak hati-hati mengemudi? jadinya terbaring disini kan?"
"Udah, jangan nangis"
"Gimana gak nangis kamunya terbaring di sini"
"Lu kayak pernah cinta sama gua aja"
"Aku cinta kok sama kamu"
"Beneran?"
Mey mengangguk.
"Sini peluk"
Mey melihat Hugo curiga kenapa ia berubah jadi mesem kayak kemaren-kemaren.
"Udah biarin aja, kisah cinta hambar kok ga ada manis-manis nya"
"Cari makan yuk" ajak Femi.
"Boleh, udah lapar nih'
"Kita keluar dulu ya Mey, sekalian ngambil obat Hugo di apotek, mau nitip sesuatu?" tanya Roy.
Mey menggeleng melihat ke Roy dan Femi curiga "kalian membohongi aku ya?"
"Gak, aku gak ikutan" ujar Femi membela diri "tanya sama Roy, dia sejak tadi ngomong sama Hugo"
Mey kembali melihat ke Hugo kesal "kamu sadarnya sudah sedari tadi kan?"
"Gak juga , beberapa menit sebelum kamu bangun tadi"
"Trus jadi lupa ingatan?"
Hugo tersenyum "maunya gitu biar gak terluka tapi kamunya malah nangis"
__ADS_1
"Aku gak nangisin kamu"
Mey kesal karena di bohongi, ia bangkit dari sana tapi dengan cepat tangan Hugo meraih tangannya sambil meringis. Mey tidak tega untuk menepisnya.
"Kamu belum memeluk aku Mey"
"Kamu siapa minta peluk segala?"
"Kan tadi bilangnya cinta"
"Gak jadi"
"Jutek bangat sih apa perlu aku mati dulu biar kamunya peduli sama aku?"
"Ngomong apa sih?" Mey yang baru bermimpi buruk tentang kematian mendengar kata mati jadi sensitif.
"Jujur, aku rasanya mau mati saja Mey saat kamu tidak lagi peduli sama aku, kemaren aku sudah bahagia sekali saat aku hendak menuju gerbang kematian, harusnya aku tidak ada lagi di depan kamu, mengemis sama kamu untuk terus bersama aku, karena aku sadar aku bukanlah yang terbaik untuk kamu...."
Mey menutup mulut Hugo dengan tangannya agar jangan melanjutkan ucapan itu karena terlalu menyakitkan baginya. bayangan Hugo terbujur kaku dalam mimpi tadi menjatuhkan mentalnya.
"Kamu sehat dulu"
"Aku akan baik-baik saja jika kembali bersama kamu Mey, bolehkah aku bermohon untuk tidak pergi meninggalkan aku" Hugo menatap penuh harap "aku mohon, kasih aku kesempatan kedua"
Mey tidak tau harus menjawab apa, dirinya dalam dilema di satu sisi bagaimana dengan janjinya pada dokter Surya. Kartu undangan pernikahan mereka sudah di sebar. Akan terasa berat bagi dokter itu jika Mey membatalkan itu semua. Tapi di sisi lain ia juga mencintai Hugo dan sadar bahwa semuanya bukan salah Hugo sepenuhnya, ada salahnya juga yang tidak mengerti dan memahami keadaan Hugo. Ia melihat tangannya yang di genggam erat oleh Hugo dan tatapan memohonnya membuat dirinya luruh.
"Kamu membuat aku tidak mempunyai pendirian"
"Kamu membuat aku menjadi seperti ini, bahkan lebih jika kamu pergi" balas Hugo.
"Bagaimana caraku menghadapi semua ini?"
"Pegang tanganku, aku akan selalu ada buat kamu, aku berjanji"
Dokter Surya yang baru datang dengan langkah buru-buru membawa makanan untuk Mey mematung dekat pintu melihat Mey dan Hugo saling berpegangan tangan. Langkahnya memaksa untuk maju tapi bagaimana jika dia kesana akan bertemu dengan kekecewaan. Ia belum sanggup mendengar dan melihat apapun yang akan membuat hatinya hancur. Seandainya Mey tidak berpegangan tangan dan hanya duduk saja di samping Hugo tidak masalah, pasti ia akan kesana dengan senyuman tapi ini,...
Ia menghembuskan nafas sembari menghibur diri dengan kenaifan pikirannya bahwa Mey akan datang padanya dan menyelesaikan apa yang telah mereka susun dan rencanakan.
Tapi bagaimana kalau tidak?
Langkahnya berubah gontai lau duduk di kursi tunggu menyatukan kedua tangannya mencari kekuatan menghalau kecemasannya. sampai akhirnya beberapa saat kemudian ponselnya berdering untuk memintanya ke rumah sakit secepatnya. Ia meminta seorang pegawai bersih-bersih yang kebetulan lewat untuk mengasih makanan itu pada Mey setelah itu dia pergi.
__ADS_1