Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
jalan menuju penyesalan


__ADS_3

Dokter Surya menenangkan Mey yang masih emosi pada Hugo. Karena masih mendatanginya. Perempuan itu mendengus kesal. Kenapa Hugo tidak bisa membiarkannya hidup dengan tenang.


Mereka berdiri di depan villa sambil melihat jejak Hugo yang sudah pergi.


"Sudah ya honey, pada akhirnya dia bakal bosan sendiri, jangan dipikirkan lagi ya, lebih baik pikirkan yang lain saja, aku misalnya" dokter Surya mengedipkan mata. Mey yang sedang kesal menjadi tersenyum.


"Nah gitu dong, senyum! senyumannya manis bangat, aku bisa diabetes"


"Diabetes meletus"


"Melitus honey, bukan meletus! yang meletus itu balon hijau"


Kekesalan itu sedikit mencair tapi hati Mey masih terasa tidak karuan. Rasanya sedih dan tidak bisa untuk di jabarkan entah apa yang di sedihkannya, rasanya pengen nangis tapi tidak tau apa yang mau di tangiskan.


Seorang pria berumur enam puluh tahun datang dengan motor bebeknya ia menyapa sedikit menunduk pada mereka berdua "maaf tuan, nyonya saya terlambat tadi ada kecelakaan di depan" ujar pria yang biasa di panggil pak Subagio tersebut.


"Siapa yang kecelakaan pak?" tanya dokter Surya penasaran.


"Kurang jelas mas, dia memakai mobil sport warna merah kelihatannya masih muda"


DEG!


Jantung Mey berdetak kencang, itu kan sama dengan mobil Hugo tadi.


Dokter Surya pun melihat ke Mey "apa jangan-jangan itu Hugo?"


Mey mematung jantungnya sudah tidak stabil lagi rasanya ia ingin pingsan saja.


"Korbannya sudah di evakuasi, sangat parah!" lanjut pak Subagio "mobilnya terjun beberapa meter ke jurang"


Pandangan Mey menggelap dan tubuhnya tiba-tiba oleng. Dengan cepat dokter Surya meraih tubuh Mey "kamu tidak apa-apa honey"


"Aku baru saja mengasarinya dan aku merasa bersalah sekali"

__ADS_1


"Aku mengerti honey, apa kita kesana sekarang?"


Mey mengangguk lemah.


"Pak! boleh minta tolong untuk kasih tau mbok untuk menjaga anak-anak sampai aku kembali'


Pak Subagio mengangguk "ya tuan, saya akan kasih tau"


Si mbok yang di maksud adalah pekerja rumah tangga yang rumahnya terletak di belakang villa itu.


"Kamu tenang ya" hibur dokter Surya tapi entah kenapa dirinya yang butuh hiburan karena melihat wajah Mey yang tidak baik-baik saja. Ada kecemasan yang luar biasa di wajah itu. Bukan hanya sekedar cemas sebagai orang yang telah menyakiti.


Dokter Surya mengemudikan mobilnya ke lokasi tempat kejadian yang ternyata jaraknya tidak jauh dari villa. Setiba disana keadaan sudah mulai lengang. Hugo sudah di bawa kerumah sakit sedangkan mobilnya sudah di evakuasi keluar dari jurang itu di bantu oleh pekerja kebun teh yang perumahannya tidak jauh dari sana dan di bantu oleh warga juga jadi evakuasi itu sangat cepat.


"Kira-kira korbannya di bawa kerumah sakir mana ya?" tanya dokter Surya pada salah seorang warga.


"Tidak tau juga mas, tadi korbannya di bawa dengan mobil warga untuk mempercepat ke rumah sakit dan pihak keluarga nya juga sedang menuju arah mobil yang membawa korban"


"Terima kasih ya mas"


"Honey, kamu jangan sedih ya dia pasti baik-baik saja dan kamu bisa minta maaf padanya"


"Semoga.." ujar Mey lemah. Ia berharap Hugo baik-baik saja, jangan parah. Kalau bisa sakitnya di transfer padanya saja biarlah dirinya yang menggantikan posisi itu asal jangan Hugo. Ia tidak akan sanggup melihat Hugo terbaring di rumah sakit, tidak akan.


Tapi bagaimana jika dia.....meninggal? pikiran Mey mulai di rasuki oleh pikiran negatif yang membuat dirinya makin kalut. Tanpa sadar tubuhnya makin gemetar dan air matanya mulai turun makin lama makin deras.


"Honey,....!"


Panggilan dokter Surya mulai tidak berarti karena Mey larut dengan tangisnya. Dokter Surya mencoba mengerti mungkin ini sama seperti dirinya dengan Caleya, hanya saling peduli bukan karena masih ada rasa. Meski hatinya sangat cemas dan was-was. Ia menghubungi Elsa untuk menanyakan kerumah sakit mana Hugo di bawa. Setelah mendapatkan kepastian ia membawa Mey kesana.


Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah sakit yang di maksud. Sebuah rumah sakit umum yang terkenal. Disana, di depan ruangan ICU keluarga Hugo beserta dengan teman-temannya. Ada Femi, Roy, Kikan dan para teman selebritis lainnya menunggu di depan ruangan itu. Dokter Surya bertanya pada Adykasa dan Elsa tentang kondisi Hugo sedangkan Mey menjauhi keluarga itu dan mendekat ke teman-teman Hugo.


"Hugo mana?" tanya Mey pada mereka dengan suara lemah sambil menghapus airmatanya.

__ADS_1


"Tuh ada di dalam" jawab Kikan jutek sambil menghapus air matanya pula.


"Aku mau kesana"


"Eitts tunggu dokter memeriksa dulu, dia kritis" Kikan menarik Mey yang mencoba mengintip dari jendela lorong tapi tidak kelihatan karena tertutup kain.


"Honey, tunggu di sini saja" dokter Surya membawa Mey kedekapannya. Semua mata melihat pada mereka termasuk Adyatama dan Adyaka. Mey merasa aneh dekat pria lain di depan keluarga Hugo walaupun dokter Surya itu adalah calon suaminya. Ia melepaskan dekapan dokter itu.


Mey mengangguk dan berdiri gelisah di depan pintu kamar itu.


"Aku beli minuman dulu ya buat kamu" ujar dokter Surya pada Mey dengan tatapan teduh. Mey mengangguk "ya honey"


Dokter itu pergi ke kantin rumah sakit sedangkan Mey menjadi bahan tatapan bagi semua yang ada disana. Seperti ada yang aneh.


"Honey?" cibir Kikan sambil melihat ke Mey sinis begitu juga dengan Femi dan Roy.


"Sepertinya kamu adalah wanita yang tidak tau diri deh Mey, gara-gara kamu Hugo terbaring di dalam, gitu amat Hugo mencintai kamu sampai nyawanya sendiri tidak ada arti baginya"


"Sudah terlambat Kikan lagian dia sudah mau nikah juga, biarkan saja" lerai Femi.


"Perempuan seperti ini tidak bisa di biarkan Fem, dia sudah kelewatan tau gak? sejahat-jahatnya aku lebih jahat dia, semua orang terpedaya oleh wajah lugunya tidak taunya dia adalah iblis yang sesungguhnya, karena dialah Hugo menderita"


"Ingat kandungan kamu Kikan, jangan emosi!" Femi kembali mengingatkan sedangkan Roy mendengus sepertinya dia juga benci sama Mey.


"Salahnya Hugo mencintai dia, kenapa dia tidak mengerti sama sekali? seandainya itu aku, aku tidak akan pernah melepaskan pria sebaik Hugo" Kikan menunjuk Mey emosi.


"Kamu bicara apa Kikan, aku tidak mengerti! aku tau, aku yang salah karena bertengkar dengannya tadi" ujar Mey sedih sambil menghapus airmatanya "lagi pula aku berpisah dengan Hugo juga karena kamu hamil anak dia"


Kikan kesal ia bangkit dan menarik tangan Mey "kamu ikut aku sekarang!!"


"Kikan, lepaskan aku! aku ingin disini saja"


"Hugo juga gak bakal balik lagi seperti semula karena adanya kamu, kamu itu pembawa petaka bagi Hugo" Kikan memaksa Mey untuk ikut dengannya.

__ADS_1


"Aku ingin melihat Hugo!!"


Roy yang sedari tai juga sangat kesal pada Mey juga bangkt dari kursi tunggu dan menarik tangan Mey "kamu ikut aku!!!"


__ADS_2