
Air mata Mey makin berderai mendengar penuturan semua tentang Hugo tapi kenapa Hugo tidak pernah jujur padanya. Dia itu waktu menikah sama Hugo istri macam apa? ia terlalu percaya pada penglihatannya tanpa meraba rasa hati. Dan ia juga mengabaikan kesempatan kedua yang diminta Hugo.
"Kenapa dia tidak bilang sama aku?" tanya Mey bodoh.
"Bagaimana dia mau bilang, kamu tidak mengasih kesempatan pada Hugo untuk bicara, kamu selalu lari kedalam pelukan dokter itu" balas Kikan dan dia sendiri juga tidak mengakui kesalahannya.
Rasanya seperti di timpa hal yang bertubi-tubi dan akhirnya Mey sendiri tidak sanggup menampung itu semua. Seperti gelas yang di tuang isinya sampai kosong dan tiba-tiba air datang lagi dengan jumlah yang banyak hingga akhirnya melimpah ruah. Mey bangkit dari sana dengan tubuh yang sempoyongan ia harus ketempat Hugo sekarang juga. Tiba-tiba ia rindu pada pria itu.
"Aku antar" ujar Roy pada Mey dan Kikan mengikuti dari belakang sambil meringis memegang perutnya. Harusnya ia tidak ikut andil tapi ia juga kasihan pada Hugo. Ini sudah jalan nasibnya dan ia harus terima semua kenyataan yang ada. Cinta itu tidak harus memiliki dan juga harusnya tidak mencinta yang telah mencintai orang lain. Pada akhirnya harus menyerah, dan juga pada akhirnya tidak bisa menjangkau yang di inginkan. Ia mengusap perutnya pelan agar sakitnya berkurang kemudian ia tersenyum. Bayinya kembali tenang dengan usapannya.
Ponsel Roy berdering dan ia melihat sebuah pesan masuk. Mulutnya menyunggingkan senyum sambil menghembuskan nafas lega. Lalu ia memasukkan ponsel itu kesakunya.
Seperti janji Roy ia mengantar Mey kembali kerumah sakit bersama Kikan. Sampai di depan ICU semua orang yang tadi menunggui Hugo tidak ada lagi disana. Yang ada hanya dokter Surya berdiri di depan kamar itu dengan gelisah. Ia menunggu Mey disana setelah tau bahwa Mey pergi bersama Kikan dan Roy. Ia tidak tau kemana mereka membawa Mey tapi semoga saja tidak aneh-aneh.
"Honey!"
Dokter Surya mengambangkan tangan hendak memeluk memberi ketenangan pada Mey tapi perempuan itu menghindar dan masuk kedalam ruangan Hugo sambil menangis.
Ruangan itu kosong, tidak ada siapa-siapa didalamnya. Lalu kemana Hugo?.
"Dia sudah di bawa ke ruang inap Mey, barusan! " beritahu dokter Surya memberi tahu Mey karena calon istrinya itu terlihat panik.
"Ruangan mana dokter?"
DEG!
Dokter? lalu mana panggilan honey nya?.
__ADS_1
"Di VVIP, aku nungggu kamu disini honey takut kamu kenapa-napa" ujar dokter Surya membenarkan letak kaca matanya yang tidak apa-apa karena dia sendirilah yang sangat panik dalam hatinya melihat perubahan Mey yang begitu cepat.
Mey berlari keruangan yang telah di tunjukkan dokter Surya. Setiba disana ia di sambut oleh tatapan semua orang.
"Hugo!!!"
Mey mengabaikan semuanya tidak peduli mereka menilai dirinya seperti apa. Ia berlari ke ranjang Hugo sambil menangis dan memeluk sosok tubuh yang terbaring itu. Rasanya sangat sedih melihat Hugo seperti ini.
Dokter Surya kembali keluar dengan langkah gontai. Jauh dari dalam hatinya terdalam semoga Mey tidak merubah keputusannya untuk menikah dengannya karena melihat kecemasan Mey terhadap Hugo membuat dirinya menjadi takut, takut kehilangan. Dirinya sudah melangkah jauh bersama Mey hanya tinggal selangkah lagi tapi mengapa rasanya sangat jauh untuk di tempuh. Hanya dalam waktu kurun beberapa hari mengapa hal ini datang menimpa. Tidak bisakah Hugo baik-baik saja agar Mey tidak mencemaskannnya setidaknya sampai mereka menikah.
"Kata mereka tadi Hugo sudah sadar dan sekarang tertidur karena pengaruh obat bius nanti juga dia bangun " ujar Roy menenangkan Mey dan menariknya untuk duduk di sofa yang jaraknya agak jauh dari sana dan di batasi oleh sekat. Suara mereka juga di redam agar tidak mengganggu.
'Kamu tidak usah cemas dia hanya pingsan untung seatbeltnya melekat kuat dan juga tidak ada pecahan yang parah" Roy mendadak baik pada Mey membuat Femi mengerenyit curiga.
"Mey, tenanglah! dia anak nakal tidak mungkin akan menyerah begitu saja" hibur Adyaka yang duduk di sofa bersama Adyatama, Elsa dan Adyaksa.
"Bukan salah kamu ya Mey dianya saja yang ceroboh, jadi kamu jangan cemas " Adyaka memegang puncak kepala Mey "sudah! kamu jangan sedih, Hugo sakit dan kamunya harus kuat! ingat ada Alfi!"
Mey tidak harus mengapa rasanya sangat kerdil di hadapan semua orang. Saat sedih semuanya menghibur dirinya tanpa menghakimi. Ia beralih kehadapan Adyatama dan pria tua itu bisanya tidak suka pada Mey tapi melihat kondisi cucunya jungkir balik karena perempuan itu akhirnya mau tidak mau menerima perempuan Mey dan dia juga mengusap puncak kepala Mey.
Malam itu Mey ikut menginap disana menunggu Hugo untuk terbangun. Dokter Surya mengajaknya untuk kembali ke villa dengan wajah yang memprihatinkan karena mengandung kecemasan yang luar biasa "honey, kamu tidak pulang? kamu kelihatan letih, pulang dulu untuk istirahat besok kita kesini lagi"
Mey menggeleng "aku disini saja" ujarnya parau.
"Nanti kamu sakit"
"Aku tidak apa-apa'
__ADS_1
"Baiklah aku akan menemani kamu disini aku akan minta bibi untuk menjaga Key dan Rhea"
"Jangan dokter, kasihan mereka"
"Honey, kamu lupa dengan panggilan kamu?"
"Maaf"
Dokter Surya mengangguk dengan jantung berguncang, sakit.
"Kamu pergilah jemput Key dan Rhea, besok kamu akan ke rumah sakitkan?' Mey mencoba untuk tersenyum.
Dokter Surya mengangguk "ya, kalau begitu aku pergi dulu, aku percaya sama kamu, kamu tidak akan mengecewakan aku, kamu tidak akan berlari padanya"
Tubuh Mey menegang dilema.
Dokter itu pulang dengan wajah lesu. Jalan mobilnya pun sangat lambat dan setiba di villa ia menemui kedua putrinya sudah tertidur lelap. Lama ia duduk disana sambil melihat kartu undangan di tangannya yang hanya tinggal satu itu karena selebihnya sudah di sebar. Sesakit apapun dirinya ia berharap Mey tidak berpaling dan kembali untuknya.
Semoga, ia mendekatkan kartu undangan itu kedadanya sambil memejamkan mata.
***
Malam itu Hugo di jaga oleh Femi, Roy dan Mey. Sedangkan Adyaka mereka suruh pulang untuk istirahat dan akhirnya ia di antar oleh Vino. Sementara yang lainnya sudah pada pulang kecuali Kirana yang belum kelihatan sama sekali semenjak Hugo terbaring disana.
Femi yang awalnya jutek pada Mey jadi baik karena Hugo kecelakaan bukan sepenuhnya salah Mey. Sebagai teman ia turut kecewa pada Mey karena ide romantis di taman itu adalah buah dari pikirannya dan juga hasil kerja kerasnya. Hugo yang minta tolong padanya tepatnya bukan minta tolong tapi pemaksaan dengan wajah memelas di sertai umpatan. Jadi wajah dia seperti itu adalah wajah korban kebabuan yang di lakukan Hugo padanya. Semoga setelah ini Mey peka bahwa teman idiotnya cinta padanya.
Mey duduk di samping Hugo sambil melihat wajah yang biasanya di hiasi kemarahan, jutek, konyol dan kadang memelas ingin permintaannya di turuti sampai akhirnya sifat pemaksanya kambuh tapi sekarang wajah itu terlelap tenang seperti tanpa dosa. Ia ingin Hugo bangun melihat kecemasan orang-orang di sekelilingnya terutama dirinya. Ia ingin minta maaf padanya. Ingin memeluknya dan ingin,...selalu berada di sampingnya.
__ADS_1
Akhirnya tanpa sadar Mey tertidur dikursi disebelah Hugo dengan air mata yang mengering dengan sendirinya. Kepalanya bersandar ke ranjang dekat lengan Hugo. Sedangkan Femi dan Roy tidur di sofa yang mereka boyong ke dekat ranjang Hugo dan mereka tidur disana dengan kepala berlawanan arah. Kaki Roy ada di dada Femi dan kaki Femi ada di wajah Roy.