
Hugo di lepaskan dari kamar itu setelah beberapa saat kemudian dan ketika ia baru saja keluar dari sana ia mendapati Mey berdiri di depannya. Perempuan itu baru saja di lepaskan oleh orang suruhan yang mencarinya.
"Mey!!!" Hugo menghampiri Mey dengan rasa bahagia dan rasa bersalah. Mey melihat Hugo dengan wajah datar menekan semua sesak didadanya agar dirinya terlihat baik-baik saja.
"Mey, kamu kemana saja?" Hugo membawa Mey kepelukannya. Rasa kecemasannya akan kehilangan menjadi makin menjadi.
"Kamu tidak akan pergi lagikan?" tanya Hugo setelah melepaskan pelukannya.
Mey berdiri mematung bola matanya menatap Hugo lemah.
"Katakan Mey, kamu tidak akan pergikan?" Hugo menggoyang bahu Mey meminta kepastian namun perempuan itu masih membisu.
"Kau tidak boleh pergi lagi Mey, tidak boleh! kau tidak boleh kemana-mana"
"Tuan, anda di tunggu di ruang keluarga" asisten Adyaka datang menghampiri.
"Pergilah! aku akan menyusul nanti" balas Hugo emosi.
"Sekarang tuan!"
"Aku akan pergi kalau Mey berjanji tidak akan pergi dari sini lagi"
"Aku akan menunggu mas" ujar Mey dengan lengkungan terpaksa di bibirnya.
"Terima kasih Mey, aku akan kesini secepatnya" Hugo pergi keruang keluarga sambil melihat ke Mey yang masih berdiri ditempatnya sampai ia menghilang dari balik dinding yang di lewatinya seperti anak kecil takut ditinggal pergi.
Setelah Hugo menghilang tangis yang baru saja reda kembali pecah. Mey berlari keluar dari sana dan masuk kedalam mobil dokter Surya.
"Jalan dokter"
"Baiklah Mey" dokter itu menjalankan mobilnya dengan perasaan berkecamuk di satu sisi ia ikut sedih melihat Mey sedih dan disisi lain ia sangat senang dengan hal ini. Hugo tidak akan memburunya lagi jadi ia bisa bersama Mey.
Pagi tadi Mey di temukan dokter Surya sedang berjalan menggendong Alfi sambil menangis. Dokter Surya yang hendak ke rumah sakit menghentikan mobilnya dan berputar arah untuk mengantar Mey kerumahnya. Baru saja mereka tiba ada dua orang pria menjemput Mey secara paksa untuk kembali pulang. Dokter Surya mengikuti mobil itu dari belakang.
"Jika kamu ingin menangis itu lebih baik dari pada lama menahan kesedihan"
Mey menggeleng "jangan suruh aku nagis lagi dok, dari kemaren aku sudah puas nangisnya"
"Jika air mata kamu sudah kering, jangan nangis lagi ya! sampai kapanpun itu tapi kalau kamu sedih, bahu aku selalu ada kok untuk kamu"
Mendengar recehan dokter Surya, Mey tersenyum sambil mengusap matanya yang berair.
"Katanya gak bakal nangis lagi' dokter Surya mengasihkan tisu pada Mey. Perempuan itu mengambil dan menghapus air matanya.
__ADS_1
Dokter Surya mengantar Mey kerumahnya untuk bertemu Alfi dan menjemput Rhea untuk kesekolah. Tapi hari itu Rhea tidak ingin pergi karena ada Alfi dirumahnya.
"Aku tinggal ya Mey, anggap saja rumah kamu sendiri kamu bebas mau apa saja"
"Saya tidak enak dok tinggal di sini"
"Untuk sementara waktu Mey, aku akan bantu kamu mencari tempat tinggal kalau kamu tidak mau menghuni rumah kamu dan Hugo"
"Terima kasih dokter, saya telah banyak merepotkan dokter"
"Jangan gitulah Mey, aku akan selalu ada kok buat kamu, kalau kamu butuh sesuatu hubungi aku"
Mey mengangguk dan dokter Surya permisi untuk berangkat kerumah sakit sambil melambaikan tangan pada Rhea dan Alfi.
"Rhe, jaga tante Mey dirumah ya! jangan biarkan tante Mey bersedih"
"Siap papa" balas Rhea dengan cadelnya.
"Daah Alfi, jaga ibunya"
"Ya om dokter!"
Setelah dokter Surya pergi Mey kembali bersedih , kilatan ketakutan mata Hugo, kemarahan Hugo, sikapnya dan peristiwa di kamar Kikan datang silih berganti.
***
"Ada apa? tanya Hugo dingin.
"Sebelum berita ini keluar dari rumah, kau harus mengambil keputusan'
"Apa yang harus aku putuskan?"
"Nikahi Kikan"
'Itu tidak mungkin, aku sudah ada Mey"
"Tidak semua orang bisa kamu permainkan Hugo, Kikan bukan gadis yang bisa kamu permainkan seenaknya apalagi kamu melakukannya di dalam rumah keluarga kamu sendiri" Vivian berkata pedas.
"Sudah ma, aku juga tidak ingat dengan apa yang terjadi mungkin Hugo benar kami hanya tidak sadar, jadi jangan paksa Hugo untuk tanggung jawab" Kikan mulai mendrama dan menangis. Dalam hati ia sangat senang dengan hal seperti ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan bagaimana kalau berita ini berkembang diluar sana" ujar Adyksa.
"Kamu laki-laki kan? sama seperti kasus Mey kau harus bertanggung jawab" ujar Adyatama.
__ADS_1
"Aku tidak mau"
"Kau harus tanggung jawab"
"Aku tidak menyentuhnya"
'Hugo, jangan membuat aku emosi!!!" ujar Adyaka dengan suara meninggi.
"Semua orang juga membuat aku emosi" balas Hugo.
"Nikahi Kikan!" ujar Adytama "secepatnya!!" Tempat itu hening sejenak dan Hugo terperangah.
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa? kau yang mulai dan kaulah yang harus mempertanggung jawabkan semua itu"
"Tanya Kikan, apakah dia suka bersuamikan orang yang sudah beristri" ujar Hugo berharap Kikan kembali meringkannya dirinya.
"Aku bisa apa Hugo, kalau semua orang ingin kita menikah aku tidak terpaksa menerima hal itu" Kikan pura-pura sedih seolah tidak mau menikah dengan Hugo "padahal kita masih saudara tiri pasti semua orang akan merendahkan keluarga ini"
'Jangan kamu sebut itu kalau kamu mau menikah dengan Hugo" Adyaksa mulai emosi.
"Aku tau om Adyaksa, aku kasihan sama Hugo yang terpaksa bertanggung jawab akan hal ini"
"Kamu harus menikah Kikan, mama gak mau kita lebih malu lagi"
"Iya ma! iya, tapi kalau kami menikah, kami ingin secara resmi di depan publik, aku gak mau di sembunyiin dengan status gak jelas"
Hugo menyugar rambutnya kasar kepalanya sudah memanas mau meledak. Ia bangkit pergi dari sana.
"Kau mau kemana Hugo?"
"Mey menungguku"
Hugo kembali dimana tadi Mey menunggunya. Ia mencari perempuan itu seraya memanggil seperti orang kesetanan bolak-balik dari lantai atas ke lantai bawah.
"Mey, kamu dimana Mey?!"
"Maaf tuan, nonya Mey sudah pergi sedari tadi'
"Pergi? pergi kemana?"
Pelayan itu menggeleng.
__ADS_1
"Mey!!!'
***