
Wajah Hugo super kusut menuju meja makan pagi itu, mulai dari rambut, wajah serta pakaiannya yang gak rapi sama sekali. Matanya juga merah kurang tidur.
"Pagi pa" sapa Alfi. Anaknya sudah rapi pagi-pagi begini dan pandai menyapa beda sekali dengan dirinya yang main selonong saja meminum segelas susu tanpa menyapa semua orang yang ada di meja makan itu.
"Mana yang papanya sih, kok bijak yang kecil dari pada yang besar ya?" sindir Adyaka.
Hugo tidak peduli kepalanya pusing, papanya gak cinta sih sama mamanya makanya ngomong seperti itu. Ia melihat sebuah kartu undangan berwarna hijau muda di depan Adyaksa, pamannya.
Semua orang terdiam melihat pada Hugo, terlambat mereka menyembunyikan kartu itu darinya.
"Siapa yang nikah? teman kantor pamankah?"
"Kata paman kakek itu undangan Ibu yang akan menikah dengan papanya Rhea temannya Alfi" celetuk anak kecil itu polos.
Serta merta Hugo meraih kartu itu dan melihatnya isinya disana tertulis undangan pernikahan Meysarah dan Surya Semesta. Pandangan Hugo mengabur dan jantungnya seakan lupa caranya untuk berdetak.
"Dimana mereka paman?" tanya Hugo pada Adyaksa dengan tidak sabaran "katakan dimana dokter sialan itu menyembunyikan Mey?!"
'Paman tidak tau, kartu itu tadi dikirim kesini dengan ojol"
"Paman harus bantu aku, aku tidak mau anak aku punya bapak tiri! si Mey bodoh bangat sih mau saja menikah dengan sembarangan laki-laki" Hugo mencerocos penuh emosi jadi semua orang tidak mau menyela termasuk Adyaka dan Adyatama.
"Bibi Elsa temannya kan, dimana dia in?" suara Hugo meninggi di sertai dengan dengusan. Tangannya tanpa sadar merobek kartu undangan itu sampai menjadi serpihan kecil lalu membuang kelantai.
"Bibi tidak tau Hugo tapi kabarnya Surya menyembunyikan Mey di puncak sampai mereka menikah, bibi akan kasih tau alamatnya"
"Kenapa bibi tidak kasih tau, bibi taukan kalau aku pusing mencari Mey!"
"Bibi baru dapat kabar dari teman Bibi"
__ADS_1
"Ya sudah! cepetan!"
Elsa buru- buru mengasih alamat villa itu pada Hugo setelah itu dengan cepat Hugo pergi berlalu dari sana.
"Hati-hati Hugo!" teriak Adyaka cemas. Hugo tidak mengubris ia seperti orang di kejar syetan mengambil mobil sportnya di parkiran agar cepat sampai kesana. Ingin rasanya ia memangkas waktu agar cepat sampai dan menyeret Mey untuk pergi dari sana.
Jalanan kesana mendaki dan berliku serta agak curam kiri kanan melewati hutan pinus lalu kemudian kebun teh setelah itu baru sampai di villa dimana Mey berada. Setiba disana Hugo di sambut oleh pemandangan romantis antara Mey, Surya dan anak-anak mereka di depan villa.
Mey dan Surya duduk di tikar yang di gelar di rerumputan sambil melihat-lihat rumah hunian yang cocok untuk mereka setelah menikah, sedangkan dua anak mereka Key dan Rhea main gelembung sabun sambil lari-larian. Mereka sudah seperti keluarga bahagia saja. Begitu melihat sebuah mobil masuk kehalaman keduanya langsung bangkit.
"Mey!!!"
Dokter Surya langsung pasang badan untuk melindungi Mey. Tapi dengan kasar Hugo mendorong dokter itu dan menghampiri Mey.
Begitu sampai di depan Mey, perempuan itu meminta Hugo berhenti dengan isyarat "jangan mendekat!"
"Kamu kenapa selalu menganggu hidup aku ? tidak bisahkah kamu melihat kehidupan aku tenang? kenapa kamu selalu datang dan datang ke hadapan aku? apa kau lupa? kau yang menceraikan aku! !!" Mey mulai terisak sedih "bagiku kau sudah tidak ada lagi,.... kehidupan aku baik-baik saja tanpamu maka dari itu kamu jangan pernah muncul lagi kehadapan aku karena sampai kapanpun aku tidak akan sudi rujuk sama kamu!!"
"Aku minta maaf Mey, harus bagaimana lagi aku bilang sama kamu!" suara Hugo menghiba dan wajahnya tidak kalah sedihnya.
"Aku memaafkan kamu tapi bukan berarti aku bisa balikan lagi sama kamu! aku sudah akan mempunyai suami, kamu ingat itu"
"Aku mencintai kamu Mey, aku tidak bisa hidup sama kamu!"
Mey menghapus airmatanya rasanya sangat sakit, mengapa Hugo keras kepala pakai bilang cinta segala.
"Tapi aku tidak mencintai kamu!!"
"Kamu harus dengar aku Mey, aku cinta sama kamu"
__ADS_1
"Kamu keras kepala sekali, kamu tidak dengar apa yang di bilang Mey" ujar dokter Surya geram pada Hugo.
"Mey kamu ikut aku ya, jangan lagi kamu teruskan niat kamu untuk menikah dengannya Mey, kamu hanya boleh denganku"
"Kamu mengapa selalu menganggu aku?! lebih baik kamu pergi!"
"Aku tidak akan pergi Mey! tidak akan sebelum kamu juga ikut denganku!"
"Kamu tidak dengar apa yang Mey bilang? kamu tidak berarti lagi di hidupnya" dokter Surya ikut menengahi dan membawa Mey kedekapannya.
"Ini semua karena kamu" Hugo mendorong bahu dokter Surya dengan telunjuknya.
"Hugo!!! aku benci kamu!! benci! kamu hanya peduli dengan dirimu saja" dada Mey menjadi sesak sambil menghapus air matanya. Wajah Hugo sangat memprihatinkan baru kali ini Mey melihat wajah itu begitu sedih yang mendalam.
"Mey, aku mohon" Hugo meraih tangan Mey tapi perempuan itu menepis dengan kasar.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Hugo, selama ia kenal Mey baru kali ini perempuan itu kasar padanya. Tangan itu terayun lemah tapi sakitnya sampai ke ulu hati.
Mey melihat tangannya yang telah lancang menampar Hugo. Bibirnya bergetar ingin minta maaf tapi diurungkannya jika ia minta maaf maka Hugo tidak akan kunjung pergi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya dokter Surya. Mey menggeleng menahan kesedihan ia mengutuk tangannya yang telah lancang itu." Ayo Honey, jangan ladeni dia " Mey menarik tangan dokter Surya untuk pergi dari sana. Mereka pergi menuju villa meninggalkan Hugo yang mematung disana.
Honey? Hugo tidak salah dengarkah? Mey memanggil dokter itu honey?. Hugo mematung tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Dengan langkah lesu ia kembali kemobilnya. Ini adalah akhir kisahnya dengan Mey. Ia tidak bisa mempertahankan Mey untuk selalu berada disisinya. Hatinya patah dan hatinya terasa sangat pedih.
Dengan jiwa yang tercabik-cabik Hugo menuruni tanjakan dari bukit itu. Pandangannya mengabur karena banyaknya air mata yang menghalangi penglihatannya. Ia membiarkan air mata itu terus mengalir tanpa henti . Semua dayanya tidak ada lagi hingga di sebuah belokan ia tidak bisa mengendalikan setir ia dengan pasrah mengikuti alur laju mobilnya.
Mobil itu keluar jalur merangsek ke semak-semak lalu kemudian terjun ke jurang.
__ADS_1