
Mata Adyatama berkaca- kaca melihat Alfi kemudian menggendongnya. Malam ini ia di hadapkan dengan hal yang sangat membahagiakan. Lima tahun ia berpisah dengan Hugo cucu kesayangannya. Sekarang ia pulang ternyata cucunya sudah memiliki seorang putra.
"Siapa ibunya Alfi? apa kamu menikahinya?"
Hugo mengangguk.
Adyatama tersenyum itu berarti Hugo adalah pria yang bertanggung jawab.
"Mana istrimu?"
"Dia sedang tidak enak badan dan menunggu di apartement..." mata Hugo menangkap kehadiran seorang perempuan bergaun merah yang sedang berjalan bersama anak kecil dan seorang pria berkaca mata. Perempuan itu sangat cantik dan seksi dengan balutan dres yang ia kenakan. Kehadirannya mampu mengalihkan perhatian orang- orang apalagi para pria yang melihatnya dengan tatapan lapar. Hugo ingin meralat ucapannya bahwa istrinya bukan tidak enak badan tapi sedang enak- enakan jalan bersama pria lain.
Tangan Hugo mengepal marah. Beraninya Mey pergi tanpa izin dengan pria lain ke sebuah acara pesta. Padahal selama ini ia anti di ajak pergi. Kalau tidak dengan alasan klasik karena tak terbiasa pasti karena ia merasa tidak pantas.
Sebenarnya selama ini ia juga malas mengajak Mey pergi. Pertama ia akan mengenalkan Mey ke publik malah ujungnya berantem dan tadi mau di ajak malah diam- diaman.
Sejenak langkah perempuan cantik itu berhenti di ujung sana karena melihat Hugo. Wajahnya berubah kaget lalu beralih dengan tatapan kesal. Apalagi melihat seorang perempuan bersandar di bahu pria itu.
"Baguslah Mey, agar kau sadar suamimu ini di gilai banyak perempuan" ujar Hugo sinis dalam hati.
"Kamu kenal istri dokter itu Hugo?" tanya Kikan yang ada di sebelahnya. Kikan bertanya karena perubahan ekspresi Hugo saat melihat perempuan itu.
"Mm" Hugo menggeleng.
"Perempuan yang cantik, dokter Surya pasti senang karena dapat pengganti Caleya"
"oh jadi nama pria itu dokter Surya" cetus Hugo dalam hati.
"Caleya itu bukannya artis yang menikah dengan artis yang bernama Renzo? "tanya Hugo pada Kikan.
"Iya, tapi sebelumnya dia menikah dengan dokter Surya dan memiliki dua seorang anak, satu bersama Caleya dan satu lagi bersama dokter itu"
"Jadi itu anak Caleya?"
Kikan mengangguk " setau aku sih, kamu kan tau aku udah lama di luar ngeri"
"Siapa tau itu bukan pengganti Caleya tapi baby sitter anaknya" ujar Hugo bernada kesal Mey mengasuh anak orang di pesta, perempuan itu sangat bodoh. Anaknya sendiri di abaikan!.
"Secantik itu? kamu ada - ada saja deh" Kikan tertawa renyah meski gurauan Hugo sangat berlebihan tapi mampu membuat ia tertawa.
__ADS_1
" Masa sih perempuan itu cantik? mata kamu bermasalah kali!"
"Masa playboy udah gak tau mana yang cantik mana yang biasa saja"
"Di hati aku yang cantik cuma kamu, gimana dong?"
Wajah Kikan memerah bisa- bisanya Hugo membuatnya salah tingkah.
Mata Hugo melihat Mey lurus dengan tatapan benci, ia benci melihat bahu perempuan itu terbuka dilihat oleh semua orang, ia benci melihat tawa Mey. Dan ia juga benci melihat pria yang sedang melihat Mey dengan sudut matanya . Ingin rasanya ia mencongkel mata dokter sialan itu.
"Minum yuk!" ajak Hugo menarik Kikan mengambil minuman di sebuah meja. Hugo meninggalkan Alfi yang sedang di gendong bergiliran oleh keluarga besarnya. Meskipun tidak semua anggota keluarganya akan tulus menerima Alfi tapi bocah itu akan aman selama masih ada Adyatama.
Ia juga mengabaikan sorotan kamera yang terus mengarah padanya.
Hugo mengambil segelas minuman wine. Matanya menangkap seorang perempuan memakai dres merah berdiri tidak jauh darinya. Sepertinya perempuan itu gugup untuk mendekat.
Bagus, terus saja mendekat cibir Hugo dalam hati.
"Ini enak, kamu cobain deh" Hugo menyodorkan sisa winenya ke mulut Kikan sudut matanya tidak lepas dari Mey.
"Biasa saja" ujar Kikan setelah meneguk minuman di gelas Hugo.
***
Mey dan dokter Surya datang agak telat. Dokter Surya mengajaknya masuk kedalam. Mey yang tidak biasa di keramaian dan acara pesta merasa sangat asing apalagi semua mata seolah tertuju padanya.
"Rileks Mey, itu lumrah karena kamu sangat cantik malam ini" ujar dokter Surya memuji Mey yang terlihat canggung dengan semua hal mulai dari pakaian, sepatu hak tinggi dan termasuk tatapan kagum.
" Jika kamu kepayahan dengan sepatu kamu pegang lengan saya" tawar dokter Surya.
Mey menggeleng ia meraih tangan Rhea dan mengajaknya jalan bersama. Sepertinya acara itu baru saja di hantam sesuatu yang sangat dahsyat tapi entah apa karena para wartawan dan para tamu baru saja mengerubungi sesuatu.
"Itu disana keluarga teman aku yang perusahaannya ulang tahun Mey, namanya Adyaksa dia adalah putra Adyatama yang sangat terkenal itu"
"Maaf dok, berbusa pun anda mengenalkan sesuatu saya tidak akan mengerti" ujar Mey. Karena memang ia tidak kenal dengan orang- orang hebat dan keren karena kapasitasnya tidak sampai kesana.
"Dari hal sederhana saja Mey, dialah teman saya kamu tidak perlu mengetahui latar belakangnya kalau itu memang berat buat kamu"
Mey tesenyum sederet giginya sangat menawan. Dokter Surya sangat pengertian.
__ADS_1
"Kita kesana dulu ya Mey"
Dokter Surya mengajak Mey menuju Adyksa namun kemudian langkah Mey melambat melihat siapa yang ada si depan sana. Begitu juga sebaliknya, suaminya melihat dirinya bersama pria lain. Rasanya kayak selingkuh trus ketahuan meskipun ia dan dokter Surya tidak merasa selingkuh.
Mey berkeringat dingin tidak karuan tapi kemudian rasa bersalahnya itu berubah menjadi kesal melihat seorang perempuan memegang lengan Hugo dengan manja.
"Dok saya boleh kesana sebentar"
Mey tidak menunjuk kemana ia akan pergi. Dokter Surya mengangguk lalu kemudian ia melihat Mey menuju meja minuman. Mungkin Mey haus pikirnya. Ia menemui Adyaksa bersama Rhea.
Mey mengikuti Hugo bersama perempuan cantik itu niatnya ingin berbicara dengan Hugo. Minta maaf dan bertanya dimana Alfi namun suaminya itu tidak peduli dengan kehadirannya ia asyik membucin perempuan yang ada bersamanya.
Hugo dan perempuan itu minum segelas berdua dan rayuan maut Hugo membuat dirinya mual seketika.
"Anda ingin minum nona? biar aku ambilkan" seorang pria berwajah bule mendekati Mey.
"Oh tidak, terima kasih aku bisa sendiri"
Mey beranjak meninggalkan pria itu namun baru saja melangkah sepatunya sudah buat ulah. Kakinya keseleo dan terjatuh kalau saja pria yang tadi menawarkannya minum tidak menangkap tubuh Mey.
"Hati- hati nona!"
Pria itu tidak sengaja mengendus kulit lengan Mey yang halus. Adegan itu jadi tontonan semua orang termasuk Hugo yang sudah tidak bisa bertahan dengan kekesalannya. Segelas wine di tengaknya sampai habis setelah itu ia menghempaskan gelasnya di meja dengan keras.
"Terima kasih" Mey melepaskan dekapan pria itu.
"Kenalkan saya Crist" pria itu mengulurkan tangan.
"Saya.." mata Mey tidak sengaja melihat ke Hugo tatapan pria itu sangat membunuh seolah berkata "awas saja Mey aku patah kan tangan kamu itu"
"Aku, mau ke toilet" tubuh Mey menggigil seraya meninggalkan pria itu dengan uluran tangannya.
Mey meringis menahan sakit kakinya sambil berjalan pincang.
"Hey nona, apa tidak sebaiknya aku mengobati kakimu dulu" teriak pria itu. Mey menggeleng kendati Crist terus mengikutinya dengan tatapan khawatir.
Setiba di lorong hotel di tempat sepi Mey duduk memeriksa kakinya yang terasa sangat nyeri. Ponselnya yang tergeletak di lantai bersama tas dan terus berbunyi, dari dokter Surya. Baru saja akan mengangkatnya ponsel itu sudah berpindah tangan.
"Apa yang kau disini lakukan perempuan jalang?"
__ADS_1