
Hugo merasakan sekujur tubuhnya kaku perlahan ia membuka mata dan mendapati diri di sebuah kamar asing. Dengan penuh ketakutan Hugo langsung bangun dan melihat sekitar sambil mengingat kejadian yang menimpa sebelumnya. Ia takut bersama seorang perempuan lagi dalam kamar dan Mey makin membencinya.
Kamar itu bernuansa putih dan wangi di sudut ruangan ada lilin aromatherapy yang masih menyala menebar bau bunga lily. Ia melihat kedinding ruangan disana banyak foto-fotonya mulai dari foto macho bertelanjang dada sampai pada foto cool bersama foto seorang perempuan cantik berambut coklat berkulit putih kira-kira berusia delaan belas tahun. Hugo tidak kenal dengan perempuan yang ada di foto itu.
Pintu kamar terbuka menampilkan seorang gadis cantik memakai kaos ovesize dan celana pendek rambut coklatnya dibiarkan tergerai. Ia membawa nampan di tangannya. Gadis itu adalah orang yang ada difoto terpajang di dinding kamar.
"Kakak sudah bangun?" tanya nya dengan senyuman manis.
Hugo pingsan sebelumnya bukan tidur tapi mengapa perempuan cantik itu menyebut dirinya bangun.
"Kamu siapa?"
"Aku Ara, pacar kakak"
Pacar? rasanya Hugo tidak punya pacar yang bernama Ara.
"Kakak makan ya, Ara yang masak kok khusus buat kakak" ujar Ara manis "atau kakak mau Ara suapin"
Hugo menggeleng dan menolak nampan yang disadarkan Ara "terima kasih Ara, tapi aku harus pergi ada masalah yang harus aku selesaikan"
"Kakak gak boleh pergi!"
"Maaf aku tidak ada urusan sama kamu, aku sama sekali bukan pacar aku"
"Aku pacar kakak, kakak hargai aku dong! ini adalah kamar kita nantinya setelah kita nikah"
"Aku gak kenal kamu dan gak pernah pacaran dengan kamu, mengerti?" suara Hugo meninggi "banyak yang harus aku urusi bukan unfaedah seperti kamu"
"Kak, kenapa kakak bicara kasar sama Ara? hati Ara sakit kak" gadis itu memelas dengan mata memerah ingin menangis.
"Astaga apalagi ini?" Hugo menyugar rambutnya kasar.
"Kenapa aku bisa ada disini?"
"Maaf kak, mereka kasar sama kakak tapi mereka sudah Ara pecat kok"
"Kamu ini siapa sih? kenapa kamu mengurung aku disini?"
"Sudah Ara bilang, kak Hugo pacar Ara"
"Aku pusing, aku mau pergi" Hugo keluar dari kamar itu dan setiba di luar ternyata rumah itu tidak kalah besarnya dari rumah keluarga Adyatama. Interiornya juga sangat bagus bernuansa eropa. Dalam rumah seluas itu tidak ada seorangpun yang tampak disana. Rumah besar itu sunyi. Tapi sudah bisa di pastikan pemilik rumah itu bukanlah orang sembarangan.
Hugo buru-buru menuju pintu depan tingginya yang mencapai tiga meter. Dengan cepat Hugo menarik kenop.
"Gak boleh kak, rumahnya sudah aku gembok dan kuncinya aku buang" Ara berdiri di belakang Hugo dengan tangan dilipat didada.
"Kenapa kamu kunci sih?"
__ADS_1
"Supaya kakak gak pergi"
"Kamu mengesalkan!!"
"Kakak jangan teriak, telinga Ara sakit"
"Cepat buka pintunya!!!"
"Gak bisa kak, aku gak punya kuncinya lagi"
"Kamu sakit jiwa ya? bagaimana bisa kamu membuang kuncinya?"
"Kakak, jangan kasar-kasar sama Ara, Ara sayang sama kak Hugo" mata gadis itu mulai memerah ingin menangis.
Hugo tidak peduli ia menggedor pintu itu kuat-kuat dan berusaha mendobraknya.
"Sudah kak, nanti kak Hugo sakit" Ara menghentikan aksi Hugo "percuma kak, pintunya di gembok kuat"
"Kamu mengapa mengurung aku disini?!!"
"Supaya aku bisa bersama kakak"
"Aku banyak urusan!!!"
Ara memanyunkan mulutnya kesal "kak Hugo sudah Ara bilang jangan teriak"
Gadis itu tidak peduli ia pergi dan duduk dikursi sambil melihat Hugo dengan manyun.
Hugo terus mendobrak pintu tapi benar apa yang dibilang Ara. Pintu itu sangat kukuh terbuat dari bahan pilihan susah untuk di dobrak. Akhirnya Hugo menyerah percuma ia terus membuang tenaga.
"Sudah Ara bilang, gak bisa...kakak gak percaya sih"
Hugo melihat Ara tajam sambil memeriksa sakunya mencari ponsel tapi benda itu tidak di temukannya disana.
"Mana ponsel aku?"
"Dimobil kakak"
"Mobil aku mana?"
"Di garasi"
"Pinjam ponsel kamu"
"Ara udah rusakin ponsel Ara, nih" gadis itu memperlihatkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang peyok seperti habis di lempar"
"Kamu sengaja ya?!!!" tanya Hugo emosi.
__ADS_1
"Iya" jawab Ara datar.
Hugo mengusai rambutnya kesal tapi gadis itu malah tertawa "ih kakak makin gemesin kalau gitu deh"
"Gemesin apanya, kamu gak lihat aku lagi pusing, aku harus mencari istri aku"
"Kenapa harus cari lagi sih kak, ada didepan kakak sekarang, aku siap kok nikah muda sama kakak'
"Ara, istri aku sedang berada bukan di tempat yang aman"
"Mey?"
"Iya"
"Aku gak percaya dia istri kakak, palingan settingan"
'Pernikahan aku bukan sinetron"
"Buktinya kakak gak pernah tuh bahas Mey, hanya sekali dia pernah terlihat bersama kakak saat ulang tahun stars selebihnya gak ada, jadi kakak jangan bohongin Ara, Ara gak siap patah hati"
Gadis itu pergi ke lantai atas dengan langkah ceria. Setiba di lantai atas ia berteriak "kak Hugo ayo ikut Ara ke studio kakak"
Dahi Hugo mengerenyit sejak kapan ia punya studio di rumah itu?. tapi ia penasaran apa yang akan di lakukan gadis kecil itu lagi. Jangan sampai ia mengurung dirinya berlama-lama. Karena dilihat dari sikap dan tingkahnya Ara adalah salah seorang fansnya yang fanatik. Remaja seperti Ara biasanya memang suka mengkhayalkan dirinya adalah pacar artis idolanya.
Studio yang di maksud Ara ternyata tidak main-main disana ada banyak foto Hugo beserta dengan alat set fansnya. Ada tongkat lampu, poster yang bertuliskan Hugo lovers, ada topi hitam mirip yang sering dipakai Hugo, kaos foto Hugo dan poster yang banyak terpampang di dinding mulai dari awal ia masuk dunia panggung sampai ia konser tunggal kemaren.
"Bagaimana kak, bagus tidak?"
"Bagus Ara, sangat bagus malah tapi Ara kakak harus keluar dari sini sekarang setelah itu kakak akan kembali, okey" bujuk Hugo.
"Sudah Ara bilang kak, Ara sudah kunci pintunya jadi kita gak bisa kemana-mana. kita akan selalu berada dalam rumah ini sampai kapanpun"
Hugo tidak bisa menahan kekesalannya ia meraih bahu Ara dengan kasar "katakan dimana kuncinya?"
"Awww kak, sakiiit" Ara meringis mau menangis "kakak kasar sama Ara"
"Aku gak bakal kasar kalau kamu melepaskan aku"
"Gak mau kakak harus disini bersama Ara"
Hugo melepaskan Ara, gadis kecil itu sungguh keras kepala takutnya ia kelepasan yang membuat dirinya menyesal apalagi yang dihadapinya adalah gadis labil.
"Kamu harus tau Ara, aku sudah menikah dan istri aku butuh aku"
"Ara gak mau tau kak pokoknya kakak harus mengikuti keinginan Ara, harusnya kakak yang mengerti Ara dong, kan kakak pacarnya Ara"
Ingin rasanya Hugo kejang-kejang tidak kuat rasanya menghadapi situasi ini terbanyang olehnya Mey di peluk oleh dokter Surya. Istrinya itu pasti sekarang lagi bersama dokter itu. Bagaimana caranya ia bisa keluar dari rumah besar itu?
__ADS_1