
Raut wajah Kikan sangat sedih ketika Hugo tidak mempedulikannya dan hal itu terjadi semenjak mereka akan dinikahkan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Semua orang sudah tau akan hal itu tapi Hugo malah berubah manjadi dingin.
"Kamu yang sabar ya" ujar Adyaka pada Kikan menghibur gadis itu.
"Ya pa, gak apa-apa, mungkin Hugo menjamput Mey, wajarlah Mey kan istrinya Hugo"
"Papa akan menasehati Hugo agar nanti setelah kalian menikah ia adil terhadap kamu dan Mey"
"Makasih pa"
Setelah itu Adyaka meninggalkan kamar itu mengikuti langkah papanya, Adyatama.
"Kamu tidak turun?" tanya Adyaka tiba dipintu karena Kikan masih berdiam di kamar Hugo.
"Ya pa, aku akan membawa sarapan Hugo yang sudah dingin kembali ke bawah"
"Ohh, papa kebawah dulu ya"
Kikan mengangguk di sertai senyuman manis. Begitu Adyaka pergi ia menutup pintu kamar lalu mengembangkan senyuman sinis "aku sudah seperti calon menantu manis kan? ya...menantu Adyaka yang terhormat istri dari Hugo keturunan Adyatama yang kaya raya"
Ia berputar-putar sambil mengembangkan tangan bahagia kemudian menjatuhkan diri di atas kasur sambil tertawa "Hugoku sayang, ini aku! Kikanmu, aku menunggu kamu sayang"
"Ayolah sayang, kamu kemana? cepatlah pulang, aku tidak...tahaan!!"
"Kamu tidak lagi mencari Mey kan?" Kikan langsung bangkit dari sana dan berjalan ke depan cermin kamar itu. Ia menatap dirinya yang cantik sempurna kemudian matanya beralih ke bawah dagu lalu ia menarik baju bagian dadanya hingga kancingnya berhamburan ke lantai. "kita lihat Hugoku sayang apakah kamu benar-benar tidak akan jatuh pada pesona ku dan mencampakkan Mey"
"Aku sudah bersumpah untuk mendapatkan kamu dan aku tidak akan mundur lagi sampai hanya aku yang ada dihidupmu, hanya! aku!"
***
Suasana tempat pemakaman lebih horror dari film hantu yang di putar malam hari. Mata Hugo seperti mau menggelinding menyambut Mey dan dokter Surya. Dokter itu macam virus yang susah di basmi dari hidupnya. Selalu saja punya cara untuk mengajak Mey masuk kedalam lingkaran hidupnya.
Rhea sudah masuk kemobil menunggu disana sambil memeluk boneka menatap dari balik kaca mobil ke pemakaman Caleya. Tatapan anak itu sangat sedih tapi tanpa air mata dan tanpa ungkapan. Tapi hal itulah yang sangat berbahaya bagi hati seseorang yang biasanya teredam sampai dewasa kelak.
Sedangkan Mey terpaku di hadapan Hugo dan dokter Surya juga tidak beranjak dari tempatnya berdiri untuk menunggu Mey. Setipis apapun harapan dokter itu atau bahkan nyaris tidak ada namun kakinya enggan beranjak tanpa Mey. Dokter itu membenarkan letak kaca matanya dan membukakan pintu mobil untuk Mey "masuklah Mey"
__ADS_1
Mey tidak tau harus apa, tidak mungkin lagi rasanya ia melarikan diri dari Hugo pada dokter Surya karena keadaan sangat rumit. Ia tidak mau membebani dokter Surya yang sedang bersedih dengan banyak hal. Mantan istrinya baru saja dikubur dan putrinya terbaring koma dirumah sakit.
Dokter Surya mengangguk mempersilahkan Mey sebelah tangannya masih memegang daun pintu mobil. Perlahan Mey berjalan kesana tapi kemudian Hugo menyentakkan tangan perempuan itu dengan keras.
"Apa perlu aku tempel di kening kamu bahwa kamu itu istri aku?" Ia menarik Mey dengan keras kemudian membuka pintu mobilnya dan menghempaskan tubuh Mey kekursi mobil. Perempuan itu terduduk disana.
"Kau pulanglah dokter, masih banyak yang harus kau urusi dari pada seorang perempuan yang sudah bersuami, aku tau kau tidak punya banyak tenaga hari ini"
Hugo masuk kemobil dan menghempaskan pintu keras-keras hingga Mey kaget di tempatnya. Setelah itu ia membawa mobilnya dengan lari di atas rata-rata padahal jalanan sangat kecil. Hatinya kayak asam, pedas, manis. Ada rindu, marah dan cemburu.
Mey juga kesal pada pria itu yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba menghilang pasti sibuk dengan Kikan. Jika ia sudah punya serep kenapa harus mengurus dirinya?.
Mobil meluik-liuk di jalanan kecil itu. Mey mulai ngeri dan merinding takut kecelakaan. Ia bergengan erat pada dinding mobil sambil memejamkan mata.
"Mas kalau mau mati jangan ajak Mey!!!"
"Oh ya, kamu menyuruh aku mati duluan"
"Bukan gitu!"
"Katakan! kamu gak di apa-apain dokter itu kan?"
"Katakan dulu"
"Gak, Mey gak ngapa-ngapain sama dokter itu"
"Jawab yang jujur"
"Mey jujur mas" jawab Mey setengah teriak "ingat Mey punya anak, dia gak bisa tanpa Mey"
"Memang yang bikin kamu doang?"
"Anak kiita"
Barulah kemudian Hugo mempelambat laju mobilnya dan menghembuskan nafas sesak. Ia mencoba percaya dengan ucapan Mey dan berusaha menyingkirkan pikiran buruknya.
__ADS_1
"Kamu gak bohong kan? gak ngapa-ngapain kan?"
"Gak mas, masa sama temen gituan, Mey juga tau batas! gak seperti mas yang main embat sembarangan orang"
Hugo bungkam, ia juga merasa bersalah pada Mey tentang dirinya dan Kikan yang tinggal menghitung hari. Jika hari itu tiba bisakah semesta berhenti saja dan kembali mengulang waktu. Kapan perlu waktu kembali dimana ia dan Mey di pertemukan.Tak mengapa tidak ada cinta di dalamnya asal selalu bersama.
Setiba dirumah keluarga Adyatma mereka di sambut Kirana, mama Hugo. Yang sekarang makin cantik dengan gaya rambut brown. Perempuan itu menyongsong kedatangan Hugo "kata papa kamu, kamu lagi sakit" ujarnya mencoba menyentuh wajah anaknya.
"Udah sehat ma" Hugo mengelak dan meraih tangan Mey 'aku ke atas dulu ya ma"
"ish, mama kamu datang hargai dong" bisik Mey.
"Tante mau minum apa?" tanya Mey sopan.
"Kamu pelayan ya ? pakai tawaran segala"
"Ma.." tegur Hugo agar mamanya jangan bikin ribut.
"Kamu tidak lupa bulan ini kan?" tanya Kirana mengalihkan permbicaraan.
"Aku akan kirim ke rekening mama" ujar Hugo.
"Lebih ya, mama pengen beli tas"
Hugo mengangguk. Setelah keluar dari menjemen artis dan berpindah ke stars entertainment ia bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan mamanya. Bagi Hugo itu tidak masalah selagi ia bisa menyenangkan hati mamanya mengapa tidak, tapi kelakuan mamanya kadang di luar batas kewajaran membuat dirinya kadang juga malas untuk berhadapan.
Setelah memastikan hal itu Kirana pergi dengan memakai kaca mata hitamnya melenggok angkuh di atas lantai rumah yang dulu pernah ditingggalinya. Ia berpapasan dengan Elsa tapi kedua perempuan itu sama-sama terlihat sinis tanpa sapa.
"Ayo!" ajak Hugo menarik Mey untuk kekamar mereka di lantai atas.
"Aku mau melihat Alfi dulu"
"Jangan lama-lama" ujar Hugo setengah berbisik.
Mata Mey menyipit tanpa menjawab ia kemudian pergi mencari Alfi ke halaman belakang. Disana putranya sedang bermain bersama Sean dan Vino. Setelah memeluk Alfi dan hatinya tenang ia menyusul Hugo pergi kelantai atas.
__ADS_1
Baru saja ia membuka pintu kamar ia melihat pemandangan yang menggenaskan. Didalam sana, di atas ranjang terlihat Kikan berada di bawah kungkungan Hugo. Pakaian perempuan itu sangat parah seperti baru di amuk bleki.
Mey memundurkan langkah sedih, jadi ini alasan Hugo memintanya untuk cepat kesana. Untuk melihat adegan mereka.