
Hugo memasuki kamar rumah sakit dimana Kikan di rawat. Ia lega melihat perempuan itu sudah bisa duduk di ranjang meskipun jarum infus ditangannya belum di lepas. Di sebelahnya ada Vivian yang menamani. Ia lega karena perempuan itu tidak keguguran karena ulahnya. Betapa berdosanya dia jika Kikan keguguran karena kekerasannya.
"Kamu kemana saja sih? katanya mau menamani tapi baru datang sekarang" tanya Kikan kecewa pada Hugo lalu melihat ke tangan Hugo yang kosong tanpa membawa apa-apa. Padahal ia lagi sakit apa salahnya Hugo membawa buah tangan untuknya seperti bubur atau buah.
"Bagaimana kondisi kamu?"
"Sudah baikan, mungkin besok sudah boleh pulang"
"Kamu selalu menolak untuk menikahi Kikan padahal dia sedang hamil, kamu kelewatan Hugo!" ujar Vivian melihat Hugo kesal.
"Kasih aku waktu" ujar Hugo datar
"Sampai kapan? apakah setelah anak itu lahir?"
Hugo terus di cerca dengan pertanyaan oleh Vivian agar secepatnya menikahi Kikan.
"Aku banyak urusan tante, sampai waktunya aku pasti akan nikahi Kikan " balas Hugo jengah.
"Hanya menikah? sebentar doang tapi selalu berbelit-belit" Vivian mengambil tasnya dan langusung pergi dengan mencak-mencak. Kesabarannya sudah habis ia harus menemui Adyaka untuk membahas hal ini. Ia tidak bisa diam begitu saja dengan apa yang terjadi pada Kikan.
Hugo duduk di sebuah kursi dekat Kikan tapi hanya diam dan melamun. Raut wajahnya sangat sedih bahkan ia tidak peduli dengan sekitar selain kesedihannya sendiri.
"Kata dokter bayi kita baik-baik saja, aku hanya perlu banyak istirahat" beritahu kikan sambil mengusap perutnya.
"Oh" hanya itu yang terucap dari mulut Hugo.
"Kamu ingat gak? waktu kita pacaran dulu? kamu pernah bermimpi kalau kita punya anak, waktu itu aku malu bangat tau"
Hugo tidak merespon ia betah melamun padahal kikan bercerita dengan berapi-api.
"Padahal waku itu kita masih umur belasan, kamu masih nakal-nakalnya dan yang paling nakal menurut aku ya itu"
"Kamu yakin anak itu anak aku?"
"Kenapa tidak?" Hugo melihat raut wajah Kikan yang datar.
"Hanya kamu papanya" Kikan tersenyum bahagia berharap Hugo memeluknya namun pria itu hanya duduk dengan raut wajah tidak enak untuk dilihat.
__ADS_1
"Kamu kenapa malah sedih, bukannya bahagia?"
"Aku akan meminta pada dokter jumlah usia kehamilan kamu"
"Kamu tidak percaya sama aku?"
"Kamu bukanlah orang yang dulu aku kenal"
Hugo beranjak dari sana namun Kikan berusaha menghentikan dan turun dari ranjang tempatnya di rawat.
"Hugo, jangan pergi, awwh" ia meringis sambil memegang perutnya. Mendengar ringisan itu Hugo tidak jadi pergi dan kembali untuk menolong Kikan.
"Sudah tau sakit kenapa ngeyel turun dari sini?" ujar Hugo kesal.
"Kamu jangan tinggalin aku sendirian" Kikan memegang tangan Hugo erat "kamu temani aku ya, dia ingin bersama papanya" ia membawa tangan Hugo kesana untuk mengusap perutnya itu.
"Ada dia disini, calon anak kita"
Hugo tidak bisa merasakannya pakai hati ia menarik tangannya disana dengan kasar.
"Urus diri kamu dulu, kalau kamu butuh sesuatu panggil suster"
"Aku yang harusnya memohon sama kamu Kikan, jangan memaksa aku, aku banyak masalah karena kesalahan aku bertemu kamu malam itu, sekarang hidup aku hancur, keluarga aku berantakan dan sekarang aku di hadapkan dengan hal yang belum bisa aku terima"
Kikan ikut senang mendengar hal ini dari mulut Hugo sendiri. itu berarti Mey tidak ada lagi dalam hidup Hugo. Ia tidak akan kesulitan untuk mendapatkan hati Hugo kembali
***
Taman belakang outdoor tempat makan malam keluarga Adyatama menjadi sangat sunyi bukan karena tidak ada orang namun karena tidak ada suara dari masing-masing yang ada disana.
"Besok aku akan kembali ke apatertementku kembali" ujar Hugo pada semua orang yang disana.
"Kalau begitu aku juga akan kembali ke Jepang dan kembali menetap disana" balas Adyatama datar.
"Seandainya aku tidak pulang maka sekarang aku masih bersama keluarga kecil aku"
"Apa maksud kamu Hugo? kamu menyalahkan aku karena ada di sini? bukankah tanpa akupun hubungan kamu dan Mey juga sudah renggang karena Mey selingkuh bersama dokter itu' Kikan tidak terima Hugo menyindir dirinya "ingat! kamu mabuk waktu itu juga karena Mey kan?"
__ADS_1
"Kalian menikahlah dan jangan urus rumah tangga kalian di meja makan" sindir Elsa tajam karena telah membuat meja makan tidak nyaman. Bukan hanya Hugo yang tersindir tapi juga Adyaka dan Vivian karena hubungan mereka juga tidak sedang membaik karena permasalahan Hugo dan Kikan.
"Kamu harus menikahi Kikan sebelum pindah kesana"tegas Vivian pada Hugo.
"Itu lebih baik Hugo dari pada tinggal bersama tanpa ikatan" ujar Adyaksa membenarkan ucapan Vivian.
"Dia butuh waktu" bela Adyaka pada anaknya.
"Aku tidak akan menikahinya" tegas Hugo.
"Kamu laki-laki kan, kamu yang berbuat dan kamu yang harus bertanggung jawab" ujar Vivian marah lalu beralih pada semua orang "waktu Hugo tepergok tidur di kamar Kikan keluarga ini sangat panik tapi ketika tau bahwa dia hamil semua orang hanya diam, apa bayi itu bukan dari keluarga kalian?"
"Vivian! jaga bicara kamu" hardik Adyaka pada istrinya.
'Bagaimana aku bisa tenang? kalian telah mempermainkan anakku! atau gugurkan saja kandungan kamu Kikan, keluarga ini tidak menerima anak itu" suara Vivian meninggi tidak peduli ada Adyatama di sana.
Setelah Vivian pergi satu persatu mereka meinggalkan meja makan termasuk Adyatama yang sedang marah karena melihat cucunya tertekan seperti itu.
"Kalian cari data Kikan dan data dirinya di rumah sakit dan kasih kabar padaku secepatnya" teleponnya pada seseorang.
Sementara itu di meja makan hanya ada Hugo dan Kikan menghadapi makanan yang bersisa banyak karena hanya di makan sedikit oleh keluarga itu.
"Kamu lihat hasil dari kerja keras kamu Kikan? andai aku jadi kamu aku pasti merasa bersalah sekali karena menimbulkan kekacauan di rumah keluarga tiri kamu"
"Stop nyalahin aku Hugo!"
"Apa yang kamu dapat dari semua ini? apakah begini caranya untuk menunjukkan jati diri kamu pada semua orang?"
"Maksud kamu apa?"
Hugo menyodorkan sebuah kertas pada Kikan "cobalah untuk bersandiwara lebih meyakinkan agar semua orang percaya sama kamu"
Setelah itu Hugo pergi meninggalkan Kikan di sana. Perempuan itu memeriksa kertas yang kasihkan Hugo. Tangannya gemetar dan kepalanya jadi pusing. Hugo benar ia tidak cerdas dalam hal apapun harus bagaimana lagi caranya bayi ini mendapatkan pengakuan. Kasihan anak itu jika lahir ke dunia hanya untuk menanggung derita.
Tidak ada seorangpun yang mau menampung dirinya dan bayi yang ia kandung. Pikiran Kikan menjadi pendek terngiang olehnya ucapan mamanya tadi, lebih baik anak itu di lenyapkan saja sebelum lahir ke dunia.
mansion keluarga Adyatama
__ADS_1