
"Papa!!"
Alfi berlari dari dalam rumah menghampiri Hugo begitu bertemu bocah itu langsung memeluknya.
"Papa kemana saja?"
"Papa ada disini kok"
"Papa gak datang-datang, Alfi kangen tau"
"Papa juga kangen" Hugo menciumi wajah anaknya "Alfi ikut papa gak? ketemu kakek, mau?"
"Mau! mau!"
"Bilang sama Ibu ya"
Bocah itu mengangguk dan Hugo menjawil hidung anaknya gemes "anak papa memang pintar"
Mak Mey mengantar teh bersama jenang jagung ke hadapan Hugo dan begitu melihat dokter Surya pulang dengan keadaan memprihatinkan mak Mey langsung menyuruh dokter itu untuk mandi ke sungai padahal hari sudah hampir gelap. Mau tidak mau dokter itu harus mandi kesana semoga ada buaya lewat. itu do'a Hugo. Tapi rupanya bapak mertua yang baik hati bersedia untuk menemani kesana. Sebelum berlalu Dokter Surya sempat melihat pada Hugo dengan tatapan curiga. Hugo balas melihat dokter itu dengan tajam seolah berkata 'apa lu?.
"Minumlah Hugo, kalau lapar makanlah di dalam" ujar mak Mey, mantan mertua Hugo yang sebentar lagi juga bakal jadi mertua lagi.
"Makasih mak"
"Mak masuk dulu ya, mak lagi ada kerja di dapur kalau ada apa-apa masuk saja mak"
"Ya mak"
Mak Mey masuk kedalam meninggalkan Hugo dan Alfi disana. Tidak lama kemudian anaknya muncul ke hadapan Hugo dengan wajah galak.
"Alfi! ada Rhea di dalam, main sama Rhea gih" Mey datang dengan rambut basah dililiti handuk dikepalanya. Mey menyuruh Alfi secara halus agar Hugo juga angkat kaki.
"Ayo Alfi mau bilang apa sama ibu" Hugo mengingatkan anaknya.
"Alfi mau pergi sama papa"
"Gak ada pergi-pergian, Alfi masuk!"
"Sadis amat sih Mey, cuma bertemu papa sebentar kok, emang Alfi gak boleh bertemu kakeknya?"
Mey terdiam ia juga tidak bisa melarang anaknya bertemu dengan keluarga Hugo. Karena mereka juga punya hak.
"Berapa lama?"
"Kamu bolehnya berapa hari"
"Sehari"
"Oke, sehari" Hugo tertawa dalam hati jiwa iblisnya sangat bahagia.
"Aku gak percaya sama kamu" Mey membaca hal itu.
"Kalau gak percaya kamu boleh ikut"
__ADS_1
Wajah Mey langsung berubah masam "kamu bisa di percaya kan?"
"Bisa"
Bisa saja bohong sambung Hugo dalam hati.
"Baiklah Alfi boleh ikut tapi jangan biarkan mama tirinya menyakitinya"
"Mama tiri yang mana?"
"Mama tirinya kan banyak"
"Oh iya iya, mama tiri Alfi banyak tapi gak kok, ada papanya tercinta jadi mama tirinya bakal baik kok sama dia'
"ish" Mey kesal seraya menghentakkan kaki ke lantai setelah itu pergi masuk kedalam.
Malam itu suasana rumah Mey jadi tegang apalagi Hugo tidak kunjung pergi sebelum dokter itu pergi. Ia masih betah berlama-lama disana tidak peduli mantan bapak mertua mengasah parang untuk mengejar dirinya. Untung mantan mak mertua baik hati ia bersedia jadi pawang suaminya agar jangan kasar pada mantan menantu mereka.
Yang namanya para mantan emang bikin susah hati terutama mantan istri yang sudah mau di embat orang lain. Padahal mantan suaminya ada disana ia sudah bawa pria lain kerumah.
Aku mantan kamu masih cinta lho.
"Dokter nginap disini kan?" tanya Mey pada dokter Surya yang duduk di depannya tidak jauh dari duduknya Hugo dan Alfi. Mantan istrinya sungguh makin bikin menguji kesabaran. Apa perlu ia menculiknya karena ngejak pria lain menginap di rumahnya.
"Aku ada jadwal besok pagi, pagi sekali maaf ya aku harus pulang sekarang, tapi beberapa hari lagi aku bakal kesini lagi kok, gak apa ya?"
"Gak apa sih dokter nanti kalau sudah sampai telepon ya"
Mey genit sama pria? iih..bikin emosi.
Dokter Surya pamit bersama anak-anaknya. Keluarga Mey mengantar sampai kedepan termasuk Hugo yang ikut melambaikan tangan bahagia dan berteriak "hati-hati di jalan dokter!"
"Kamu kapan pulangnya?" tanya Mey jutek. Wajah bahagia Hugo yang sedang melambaikan tangan berubah masam.
"Ini juga mau pulang, kamu ikut?"
Suara Hugo terdengar oleh bapak Mey. Pria setengah baya itu langsung berdehem keras.
"Pulang sana, kalau tidak kamu bisa di amuk warga"
"Pak" tegur istrinya.
"Iya pak, aku bakal pulang kok"
Nasib seperti jelangkung sial memang begini, datang tak di undang pulangnya di usir.
Dengan berat hati Hugo mengajak Alfi pergi tapi sebelum itu ia minta nomor telepon Mey. Awalnya perempuan itu menolak.
"Kalau terjadi apa-apa sama Alfi bagaimana?"
Akhirnya Mey mengalah nomor telepon yang sudah di ganti untuk menghindari Hugo itu terpaksa di kasih tau.
"Makasih banyak lho ya.." Hugo beralih pada mantan bapak mertuanya "aku pamit ya pak, kapan-kapan aku kesini lagi"
__ADS_1
"Gak kesini juga gak apa!"
Mantan bapak mertuanya galak nanti kalau sudah jadi mertua jangan galak lagi ya.
***
Dokter Surya tidak mau ambil resiko lagi. Jika tidak ia bisa kehilangan Mey padahal semuanya hanya tinggal selangkah lagi. Sepanjang perjalanan dokter itu gelisah untuk memastikan bahwa Mey tidak akan tertarik lagi pada si tengil Hugo pada akhirnya ia menelpon Mey untuk bicara dengannya dan menyakan apa Hugo sudah pulang apa belum.
Perempuan itu menjawab, sudah!. Dan dirinya merasa lega.
"Besok aku jemput kamu ya"
"Kemana dokter?"
"Kesuatu tempat"
"Boleh"
"Kamu siap-siap ya"
"Baiklah"
Senyum dokter Surya mengembang dan mengakhiri percakapan mereka.
***
Pagi itu keluarga Adyatama kembali ceria karena ada Alfi dimeja makan padahal selama ini ada Sean tapi tidak seheboh itu.
Alfi jadi pusat perhatian semua orang. Elsa kesal anak Mey mirip dengannya, sama-sama perebut perhatian. Padahal gak ada istimewanya sama sekali. Gak seperti anaknya yang imut dan cerdas karena terlahir dari bibit tangguh seperti dirinya dan Adyaksa.
Bukan hanya Adyaka dan Adyatma yang tertawa-tawa menyambut anak itu tapi suaminya juga. Apapun dan siapapun semuanya di tanya sama anak kecil itu. suasana suram beberapa bulan ini berubah menjadi ceria seketika.
Padahal dua anak sultan itu, Alfi dan Sean sama-sama memakai jas warna hitam duduk berserberangan. Sean fokus ke makan sedangkan Alfi terus berciloteh. Bagi Elsa sikap Alfi sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai keturunan bangsawan.
Sehabis sarapan semuanya berebut Alfi. Hugo ingin membawa anaknya ke kantor, Adyaka ingin mengajak liburan sedangkan Adyatama ingin membawa anak itu arena olahraga. Akhirnya yang menang adalah Adyaka karena ia curang dan langsung menggendong anak itu selesai sarapan.
"Hallo Mey....." Hugo menelpon mantan istrinya itu seraya naik kemobil yang sudah siap di antar sopir untuk kekantor.
"Ada apa?' terdengar suara Mey di seberang sana dengan suara jutek.
"Aku mau bilang...?"
"Alfi gak kenapa-napa kan?"
"Gak'
"Trus ngapain telepon?"
"Akunya yang kenapa-napa"
Tuut!!!
Sambungan langsung di putuskan Mey.
__ADS_1