
Tubuh Mey membeku melihat pemandangan dihadapannya. Dimana seorang pria sedang tidur dalam selimut bersama perempuan lain. Pria itu adalah Hugo dan perempuan itu adalah Kikan, mereka satu selimut berdua sambil berpelukan.
Selama ini ia hanya melihat Hugo mesra bersama perempuan lain tapi kali ini ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, suaminya tidur bersama perempuan lain. Dada Mey rasanya di remas-remas oleh tangan tak kasat mata rasanya sangat sakit sekali. Tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.
Mey menggeleng tak percaya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya seraya memundurkan langkah lalu berbalik dan lari sambil menangis. Hatinya hancur sudah, ia tidak sanggup lagi untuk bertahan. Mey pergi ke kamar Alfi dan mengambil anak itu di dalam tidur nya. Detik itu juga Mey sudah memutuskan untuk pergi bersama Alfi dari sana.
Untunglah rumah dalam keadaan sepi jadi Mey bisa pergi tanpa ada yang melihatnya. Keluarga Adyatama sedang terlelap tidur dalam mimpi.
Mey menggendong anaknya keluar rumah dini hari buta dalam balutan udara dingin sambil menangis tiada henti. Ia tidak tau kemana arah ia melangkah yang pasti ia pergi dari istana mewah itu.
***
Hugo menggeliat dan terbangun ia merasakan seseorang dalam pekukannya. Pasti Mey, ia meneruskan tidurnya kembali.
"Hey kalian! bangun!" terdengar seseorang berteriak disana.
Siapa sih yang ganggu tidurnya pagi-pagi? ia masih mengantuk dan pusing. Hugo membuka mata dan hendak mengomel tapi ketika baru saja membuka kelopak matanya tampak olehnya Adyaka melihatnya dengan wajah memerah karena marah.
"Ada apa pa?" tanya Hugo tak kalah marahnya karena telah menganggu tidurnya. Perempuan disebelahnya menggeliat, Mey terbangun karena suaranya.
"Ada apa sih?" tanya Mey di sebelahnya, kok suaranya beda sih? Hugo menoleh kesebelahnya dan membelalakkan mata.
"Haaaaaa!!!!"
Perempuan itu bukan Mey tapi Kikan dan ia berteriak histeris sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Hugo buru-buru bangkit menutup tubuhnya dengan sebuah kain.
"Aku tunggu kalian di ruang tengah" ujar Adyaka emosi setelah itu pergi dari sana. Setelah Adyaka pergi Hugo menatap Kikan bingung karena mulai menangis.
"Kok kamu ada di kamar aku sih?" tanya Hugo marah.
"Ini kamar aku, kamu yang masuk kesini!!"
__ADS_1
Hugo melihat sekeliling dan benar itu bukan lah kamarnya itu berarti adalah kamar Kikan.
"Semalam kamu masuk kekamar aku dalam keadaan mabuk"
Hugo mengingat-ingat kejadian tadi malam tapi kepalanya sangat pusing. Berkali-kali ia memukul kepalanya untuk mengingat tapi tidak berhasil.
"Aku tidak ngapa-ngapain kamu, percaya sama aku, aku tidak mungkin melakukan itu padamu"
"Tidak bagaimana, kamu tidak lihat keadaan aku dan kamu" Kikan menangis sambil memeluk tubuhnya.
"Tidak Kikan, tidak! aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan melakukan itu pada perempuan lain kecuali pada Mey, oh ya Mey" Hugo teringat pada Mey pasti Mey sangat terpukul jika tau dirinya tidur di kamar Kikan. Ia harus mencari Mey dan menjelaskan padanya. Buru-buru Hugo memakai pakaiannya dan pergi.
Hugo berlari kekamarnya dan menjumpai kamar itu terbuka padahal kemaren ia mengunci pintu kamar itu sebelum pergi. Siapa yang telah membuka pintu itu?
Mungkin Mey berada di kamar Alfi. Seperti orang kesetanan Hugo berlari kesana dan menjumpai kamar itu juga kosong.
Alfi, Mey.. mana mereka?.
Hugo berlari turun tangga mencari Mey dan Alfi sambil memanggilnya.
"Aku harus cari Mey dan Alfi pa"
"Mereka sudah pergi!! sekarang kamu duduk di sini" ujar Adyaka meninggi.
"Aku pergi...!"
".......Hugo, untuk kali ini dengar aku, duduk disini!!!!!"
Nafas Hugo menderu dan akhirnya duduk di ruang tengah itu disana sudah ada Kikan, Vivian dan Adyaksa. Kikan menangis bombay ekor matanya terus mengikuti Hugo.
"Ada apa? aku gak ngapa-ngapain Kikan, percaya sama aku!!"
__ADS_1
"Bagaiaman kamu tau jika semalam saja kamu mabuk" balas Kikan sambil menghapus air matanya "kamu memaksa aku untuk tidur bersama kamu"
"Aku tidak melakukannya!!"
BRAK!!!!
"Kau bisa diam dulu? kau berada disana, tidur bersama, kau masih mau mengelak, kau tidak ingat sama Mey dan Alfi?'
"Sudah aku bilang, aku tidak ngapain"
"Kalian tidak boleh kemana-mana tunggu papa pulang sekarang" ujar Adyaksa menengahi.
"Aku harus cari Mey! kalian dengar itu?"
"Kali ini kau yang harus dengar kami Hugo, kau tidak boleh pergi kemana-mana, kau bisa mencari Mey dan Alfi nanti!"
"Kemanapun kamu pergi kamu tidak akan bisa lari dari tanggung jawab" ujar Vivian dengan suara datar.
"Aku punya istri"
"Lalu Kikan? kau yakin tidak menyentuh Kikan? aku tidak yakin dengan hal itu, kalian pernah menjalin hubungan dan kau pernah patah hati karenanya, aku tidak percaya kamu" sela Adyaksa.
Hugo tidak peduli ia harus pergi mencari Mey dan ia beranjak dari sana dengan langkah panjang namun hanya sampai di pintu setiba disana ada beberapa orang berbaju hitam menghalanginya.
"Maaf tuan, anda tidak boleh pergi untuk saat ini"
"Aku mencari istri dan anakku, kalian dengar itu?!'
"Tapi tuan kami hanya mengikuti perintah"
"Kalian enyahlah!"
__ADS_1
Hugo menerjang para body guard itu dengan sekuat tenaga namun tenaganya jauh kalah dibanding mereka dalam sekejap Hugo berhasil di ringkuk mereka lalu para body guard bertubuh kekar itu mendorong Hugo kedalam sebuah kamar dan mengunci pintu.
"Woyyy, lepaskan aku!!! kalian akan menyesal karena telah berurusan denganku!"