Istri Simpanan Artis

Istri Simpanan Artis
kembali


__ADS_3

Angin bertiup sepoi-sepoi menggoyangkan tangkai padi yang mulai menguning. Burung- burung pipit beterbangan dari tangkai padi ke tangkai padi lain. Bercicit bersuka ria bersama gerombolannya.


Matahari sudah mulai condong ke Barat dan panas matahari agak terasa terik karena sekarang musim panas dan akan memasuki musim panen bagi petani.


Hugo mengajak Mey jalan melewati pematang sawah yang berbatasan dengan sungai. Ia dengan kruknya melewati pematang sawah itu dengan agak kesusahan.


"Berhenti dulu ya Mey"


"Kamu sudah lelah? kita berhenti di sini saja" ajak Mey membantu Hugo duduk di tepian pematang. Mereka duduk menjuntaikan kaki disana, di pematang yang baru saja di sabit oleh peternak. Simbiosis mutualisme, pemilik sawah tidak perlu membersihkan pematang karena peternak sudah lebih dulu menyabit rerumputan untuk ternaknya.


"Rasanya sangat tenang dan damai disini, udara juga bersih" Hugo melihat kelangit biru, sangat kontas dengan keindahan desa itu.


"Itu belum seberapa, kamu belum pernah nyemplung disana" Mey menunjuk air sungai yang mengelir jernih.


"Ternyata selama ini aku sangat buta, aku sibuk dengan dunia semu padahal di sebelah aku ada yang terindah dengan kehidupannya yang nyaman"


Perlahan tangan Hugo meraih tangan Mey dan menggenggamnya erat.


"Kamu mengasih aku kesempatan lagi kan? kita menikah lagi, kita perbaiki pernikahan kita"


"Ya gimana lagi, kamu juga tidak akan membiarkan aku loloskan?"


Hugo tersenyum "tentu saja, separuh hatiku ada sama kamu, kalau tidak ada kamu tidak lengkap, makanya kemanapun kamu pergi akan aku kejar"


"Gak capek kejar-kejaran terus?"


"Capek! makanya kita rujuk saja, kamu setujukan?" Hugo menatap wajah Mey penuh harap.


"Ya sudah" Mey mengangguk, jawabannya biasa saja padahal dalam hati sungguh luar biasa.


"Terima kasih, aku sayang kamu" Hugo menggenggam tangan Mey erat dan mengecupnya dengan singkat. Terasa ada ruang sejuk didadanya. Hugo menghirup udara, dalam.


***


Hugo jarang menggunakan kekuasaannya tapi sekarang ia menggunakan kesultanannya untuk mengurus kepentingan dirinya sendiri dan harus selesai dengan waktu yang singkat. Setelah dapat restu dari orang tua Mey ia bergegas mengajak Mey kembali ke kota untuk mengurus pernikahan mereka. Mey pernah menikah dan pernah hampir menikah tapi tidak seribet sekarang. Ia diminta untuk memilih baju yang cocok dalam tumpukan baju-baju, memilih ini dan itu. Mey yang anti ribet dan suka simpel serta berselera sederhana sekarang merasa semua itu bukanlah gayanya. Tapi mau tidak mau ia terpaksa melakukan serangkaian hal yang meribetkan itu.

__ADS_1


"Waktu menikah di desa gak seribet ini" cetus Mey pada Hugo yang juga sibuk membantu Mey mencari pasangan gaun yang akan di kenakan Mey.


"Hanya kali ini Mey"


"Siapa tau yang ketiga lebih wow dari yang ini"


"Yang terakhir Mey, kalau ada yang ketiga dan yang keberikutnya itupun dengan hanya dengan kamu, tapi jangan deh! cukup ini yang terakhir"


"Masih ingat kan?" Hugo menyodorkan sebuah foto di ponselnya pada Mey. Disana ada foto pernikahan mereka yang pertama. Hugo memakai kemeja sederhana dengan wajah terpaksa dan Mey memakai kebaya emak dengan wajah pasrah saling melihat ke lain arah. Mey tersenyum melihat foto itu lalu saling melihat dengan Hugo. Kenangan itu kembali mengusik. Ada cinta di balik musibah dan ada rasa di balik luka.


Hugo melihat Mey dengan wajah bersalah "maaf" ujar Hugo sambil memegang bahu Mey "akan aku perbaiki semuanya"


"Itu bagus, sebagai kenangan" ujar Mey tersenyum.


"Kenangan pahit, dan aku munafik atas itu tanpa berusaha memperbaiki"


"Itu tidak pahit kok, ada Alfi disana" bisik Mey "kita juga tidak akan bisa mengganti kenangan itu"


"Kamu benar, banyak kenangan disana, dan mengajarkan aku apa arti cinta"


"Maaf mas, mbak! saya mengganggu!" pegawai butik menghentikan kemesraan mereka. Hugo yang hampir lupa diri menjadi tersadar.


"Apa warna ini pilihan mas dan mbak?"


***


Selama beberapa hari Mey menginap di hotel star. Dilayani oleh sejumlah pelayan yang dikirim Hugo kesana. Menurut Mey, Hugo sangat berlebihan hanya mengurus dirinya sendiri tidak harus merepotkan orang lain. Ia tidak mau di urus tapi para pelayan itu hanya mengerjakan tugas mereka . Di sana Mey layaknya seperti nyonya di paksa melakukan serangkaian spa dan proses kecantikan lainnya. Kata mereka biar Mey cantik saat pernikahannya.


Tidak tau saja mereka, Mey sudah cantik dari sono. Tapi emang juga sih, selama Mey menjalani serangkaian perawatan kulit dan kecantikan dianya berubah drastis yang biasanya cantik, sekarang cantik sekali.


Saat hari pernikahan itu tiba sejumlah MUA juga datang kesana mendandaninya. Setelah itu sebuah mobil pengantin datang menjemputnya. Mey sangat cantik di balut gaun berwarna putih berpayetkan mutiara di bagian dadanya. Rambutnya di blonde dan tutupi oleh selendang putih.


Ketika ia sampai di halaman mansion ia di sambut oleh Hugo dengan senyuman tipisnya. Pria itu memakai jas silver dan celana senada. Ia mengulurkan tangan pada Mey yang baru turun dari mobil.


"Hati-hati sayang"

__ADS_1


Wajah Mey memerah karena Hugo bilangnya dengan suara agak besar dan di tengah menjadi perhatian orang.


"Cantik bangat, jadi ingin meluk" bisiknya saat Mey ada didekatnya.


Sabar Mey, sabar. Kepala Hugo sejak kecelakaan makin bermasalah. Mungkin tidak akan sembuh-sembuh dan jadi bawaan.


Di sana ada Alfi yang juga memakai baju jas putih. Ada mak dan bapak, teman-teman Hugo, barisan para mantan yang berada di bawah naungan stars, keluarga Adyatama, Kikan dan mamanya serta seluruh rekan bisnis dan kerabatnya yang semuanya memakai gaun dan baju putih. Ternyata semuanya tidak sesederhana dalam pikiran Mey. Pernikahan bertemakan rustic yang di langsungkan di halaman mansion itu mengundang banyak orang dan mengundang banyak komentar. Ada yang mengatakan bahwa Hugo akhirnya menikahi wanita simpanannya waktu itu. Hugo juga tidak ingin memperpanjang masalah dan menampilkan foto pernikahannya dengan Mey waktu di desa. Biarlah itu menjadi kenangannya bersama Mey.


Bunga mawar putih yang di tabur seperti karpet membentang menuju altar, kiri kanannya di batasi dengan untaian bunga di antara tamu undangan. Kaki Hugo yang baru sembuh dan tanpa kruk mengajak Mey jalan pelan . Orang mengira Hugo sangat menikmati proses ini padahal kakinya yang bermasalah. Andai mereka tau, Hugo ingin ke altar sana dengan cepat setelah itu resepsi dan, selesai. Setelah itu bisa senyum-senyum dengan Mey di dalam kamar.


Juru kamera dan wartawan hanya beberapa orang yang di izinkan masuk kesana. Di sekelilingnya di jaga oleh beberapa pengawal dengan ketat. Hugo ingin pernikahannya berjalan dengan tenang tanpa mengundnag banyak sensasi.


Mereka naik ke altar di sana ada bapak, mak, Adyatama, Adyaka dan Alfi. di sebelahnya ada Femi, Vino dan Roy lalu di sebelahnya lagi ada Elsa dan Sean.


Untuk kedua kalinya Hugo berhadapan dengan bapak saat menikah, dan rasanya beda dengan berhadapan di rumah. Sekarang ia sangat grogi. Bukan takut kena marah tapi karena di serang tremor duluan di hari yang berserajah baginya untuk yang kedua kalinya disaksikan oleh semua orang yang ada disana. Sebelum itu ia melihat ke Mey memantapkan hatinya yang sudah menetap disana.


Setelah pernikahan itu selesai,


Hugo mengulurkan tangan pada Mey, udah lama Mey tidak cium tangannya. Dan sudah lama tidak memanggil mas. Mey menyambut tangan itu sambil tersenyum.


Hugo dan Mey bersalaman dengan keluarganya setelah itu baru dengan para tamu undangan. Dan yang pertama di antara mereka Roy dan Femi yang menyerobot duluan. Kata mereka, mereka sudah lapar ingin makan.


"Selamat ya bro, untuk kedua kalinya dengan orang yang sama" Femi tertawa.


"Makasih bro, gua udah dua kali, lo kapan?"


"Gua masih nyari tulang rusuk gua yang entah ada dengan siapa?"


"Buat aja sayembara biar ceperti ketemunya" balas Roy "eh foto yuk!"


Roy memanggil juru foto dan minta foto bareng bersama Femi, Hugo dan Mey. Roy berdiri di sebelah Mey dan Femi di sebelah Hugo.


"Eh, Mey! ntar foto mereka di cut ya trus di pajang di dinding dengan ukuran gede" Roy tertawa menggoda Hugo.


"Enak aja lu, istri gua tau!"

__ADS_1


__ADS_2