
Ambulance mengaung dini hari bersamaan dengan deru mobil polisi membangun pagi yang kian sunyi. Bagian depan mobil ringsek, rusak parah dan pengemudinya pingsan di tempat setelah mengalami luka-luka karena pecahan kaca benturan yang cukup keras. Darah mengucur dari tubuh korban.
Kedua korban tersebut langsung di larikan kerumah sakit.
Setiba di lorong rumah sakit keduanya di larikan ke IGD dengan meja dorong untuk segera di tangani.
Ketika matahari baru saja terbit. Sepanjang lorong terdengar suara langkah buru-buru menuju kamar itu di serta wajah-wajah kecemasan. Ada Elsa, Adykasa, Mey dan dokter Surya serta Rhea.
Setiba di kamar korban dokter Surya bertanya pada dokter yang bertugas disana kebetulan dokter itu adalah temannya "bagaimana keadaannya Heri?"
"Baru saja di lakukan operasi"
Dokter Surya menerobos masuk kedalam bersama Elsa. Sedangkan Adyaksa, Mey menunggu diluar bersama Rhea. Karena masuk kesana di batasi dan Rhea juga masih kecil.
"Key, Caleya!!!"
Nyawa dokter Surya seakan hendak terbang dari raga melihat putrinya terbaring koma disamping mantan istrinya. Tubuh mereka di penuhi selang dari tabung oksigen, infus dan dari cardiogram yang terus bergelombang kecil.
Elsa menghampiri Caleya, sahabatnya itu. Caleya telah siuman namun keadaannya sangat parah. Elsa tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya akhirnya matanya memerah dan mengeluarkan air "kamu kok bisa kayak gini sih?"
Mata Caleya meminta Elsa untuk mendekat. Elsa mendekatkan telinganya ke mulut Caleya "ada apa Caleya, kamu tidak boleh bicara banyak kedaaan kamu belum pulih"
"Kamu adalah sahabat terbaikku kalau aku tidak bertahan, kamu tolong jaga anakku atau kamu bisa mendojohkan Key untuk Sean" bisik Caleya.
Elsa menelan ludah ada-ada saja yang di pikirkan Caleya. Ia ingin bilang bahwa mereka masih kecil dan suatu saat nanti mereka akan menentukan pilihan mereka sendiri. Tapi karena Caleya dalam keadaan sakit maka ia mengangguk agar Caleya tenang.
Sementara itu dokter Surya duduk disebelah Key yang masih belum sadar tubuh putrinya di penuhi perban "Sayang, kamu bangun sayang" dokter Surya mencium kepala Key lembut "ini papa Key" bisiknya tanpa terasa air matanya jatuh kepipi dan ia menghapus air matanya "Key, sadar sayang"
__ADS_1
Seorang laki-laki tidak pernah cengeng dan menjatuhkan air mata tapi tidak untuk anak-anak dan orang yang dicintainya. Sekuat-kuatnya pria akan mejadi rapuh jika di hadapkan dengan hal seperti ini. Rasanya ia ingin menangis sekeras-kerasnya dan seandainya sakit itu bisa di pindahkan maka pindahkan saja pada dirinya. Biar ia yang menanggung seluru derita dan kesakitan itu.
Inikah yang di rasakan para pasien rumah sakit saat mendapati keluarganya tergeletak tak berdaya. Ia sering melihat para keluarga pasien bersedih dan ia ikut bersedih dengan hal itu namun baru kali ini ia merasakan langsung. Jika sebagai seorang dokter kadang merasa gagal menjadi seorang dokter tapi sekarang ia merasakan dirinya gagal menjadi seorang ayah.
"Sur!, Caleya..." Elsa memberi tahu Surya.
Surya melihat ke ranjang sebelahnya dan menghampiri. Melihat Caleya tidak berdaya seperti ini membuat air matanya juga ingin jatuh. Bagaimanapun juga Caleya adalah ibu dari Key dan Rhea, ibu dari anak-anaknya dan pernah di cintainya.
"Kamu bertahan ya Ley, kamu pasti bisa melewati ini semua"
Air mata Caleya jatuh ke pipinya dan tatapannya tidak lepas dari Surya. Perlahan bibir Caleya bergerak dan dokter Surya mendekatkan terlinganya ke bibir Caleya "kamu ingin bilang apa Ley?" tanyanya sambil menghampus air matanya"
"Maafkan aku, maaf....aku...mencintai...mu" bisik Caleya lemah.
"Aku tau Ley, kamu bertahan ya, kamu harus janji, kamu harus bertahan"
"Ley"
Monitor di sebelah Caleya melemah dan berdetak tak beraturan. Dokter Heri dan seorang dokter lainnya mendekat bersama seorang suster sedangkan Elsa diminta untuk keluar.
Dokter Surya juga ikut keluar dari sana dan memeluk Rhea duduk di kursi tunggu. Ia tidak kuat untuk berada disana meski Heri tidak melarangnya.
"Bagaimana keadaan mbak Caleya dok?" tanya Mey hati-hati.
"Sempat sadar tapi kemudian drop lagi"
Elsa dan Adyaksa ikut duduk disana menunggu kabar tentang Caleya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dokter Heri keluar dari ruangan itu dan disambut oleh dokter Surya dengan tatapan lemah.
Dokter Heri tidak tau harus bagaimana memberi tahu Surya karena dia juga adalah seorang dokter yang harus berhati-hati menyampaikan sebuah berita. Melihat wajah dokter Heri, Surya berlari kedalam, disana ada seorang dokter yang baru saja mencatat tanggal dan jam kematian pasien.
"Ujung kaca menebus dada sebelah kiri mengenai jantung dan darah terlalu banyak membasahi paru-parunya" beritahu dokter Heri.
Tubuh dokter Surya membeku dan perlahan airmatanya jatuh kepipi sambil melihat sendu mayat perempuan didepannya yang sudah di tutupi kain putih . Ia tidak menyangka Caleya pergi secepat ini.
Mayat Caleya di bawa ke ruang jenasah untuk kemudian di autopsi sebelum akhirnya bisa di bawa pulang. Dokter Surya seperti kehilangan separuh nyawanya. Bagaimanapun juga perempuan itu pernah menemani hari-harinya.
Rasanya ia tidak berdaya menghadapi semua ini. Key masih koma dan Caleya juga harus di kebumikan secepatnya sebelum hari beranjak sore. Sedangkan Renzo suami Caleya tidak memperlihatkan puncak hidungnya sama sekali.
***
Rumah yang terletak di ujung gang perumahan mewah itu ramai oleh para pelayat. Karangan bunga memenuhi halaman rumah sampai ke jalanan. Teman-teman Caleya semuanya datang kesana yang kebanyakan dari kalangan artis. Para wartawan juga memenuhi tempat itu untuk menyangkan berita itu secara live.
Orang tua Caleya beserta para saudara-saudaranya tak hentinya menangisi jasad yang terbujur kaku di tengah rumah itu.
Dokter Surya sibuk menyiapkan segala sesuatunya begitu juga dengan Mey yang ikut membantu sambil menjaga Rhea. Bocah kecil itu hanya diam tidak menangis dan juga tidak ceria. Ia tenang di pelukan Mey.
Ada Elsa, Sarah dan Fujhi tapi tidak dengan Alexa. Mereka tidak tau dimana Alexa berada saat di hubungi nomornya tidak aktif sama sekali padahal mereka adalah sahabat karib. Orang-orang juga sibuk bertanya di mana Renzo tapi tidak ada yang tau jawabannya selain dokter Surya dan Mey. Tapi kedua orang itu tidak memberitahu seorang pun tentang itu.
Proses pemakan Caleya berlangsung dramatis para sahabat dan keluarganya menangisi kepergian Caleya begitu juga dengan dokter Surya yang ikut membawa keranda jenasah sampai ke peristirahatan terakhir.
Caleya,... istirahatlah dengan tenang, aku memaafkan kamu, tidak akan aku ungkit lagi segala luka yang pernah kau berikan. Aku sudah ikhlas, jika ada yang bertanya tentang mu kelak aku akan menjawab semua yang manis tentang dirimu.
Dokter Surya beberapa kali membersihkan kaca matanya yang berembun karena air mata yang tak kunjung henti mengalir di pipinya.
__ADS_1