
Mey mengangkat wajahnya dan kemudian tubuhnya membeku melihat Hugo berdiri didepannya dengan tatapan menyeringai. Pria itu memainkan ponsel Mey di tangannya membiarkan panggilan dokter Surya terus masuk tanpa mengangkatnya.
"Mas Hugo, kembalikan ponsel aku, dokter Surya pasti khawatir"
Ada rasa nyeri didada Hugo saat Mey mengatakan ada orang yang menghkawatirakan dirinya.
"Ternyata kamu sudah menjadi jalang!" Hugo menekan suaranya karena marah. Ya, ia marah pada Mey yang mengumbar diri dengan pakaian merah menyala dan warna lipstik yang menggoda, Sejak tadi ia menekan kemarahan didadanya tapi tidak juga tahan.
"Kamu bukan saja jadi simpanan artis tapi juga simpanan om-om, keren kamu Mey! sekalian saja pria tadi juga kamu jadikan pacar siapa tau kamu mendapatkan sensasi yang berbeda, kamu memang cocok jadi jalang"
"Dokter Surya itu orang yang baik mas, bukan seperti yang mas pikirkan!"
"Oh ya, ..kamu datang bersamanya ke pesta dengan pakaian seperti ini terus kamu bilang kamu orang yang baik sementara kamu tau status kamu sebagai apa!"
Mey mulai menangis terisak membuat hati Hugo makin kesal tapi kesalnya lebih pada dirinya sendiri.
Hati Hugo bukannya lega berkata demikian tapi malahan makin sakit seolah menyakiti dirinya sendiri. Ia membuang sepatu sialan yang di pakai Mey jauh-jauh gara-gara itu pria kurang ajar itu sempat mencium wangi tubuh Mey.
Lalu ia jongkok menarik kaki perempuan itu untuk memijitnya. Hati Mey yang tadinya sangat sedih sedikit membaik ia pikir Hugo akan membiarkan dia kesakitan begitu saja.
"Alfi mana?"
"Dia bersama kakek?"
"Kakek mana?"
"Kakek aku lah"
"Mas punya kakek?"
__ADS_1
"Iya"
"Baru tau, aku pikir keluarga mas cuma tante doang"
Pasti Mey datangnya telat kalau tidak Mey akan melihat dirinya bersama keluarganya tadi.
"Aku tadi mau bilang sama mas untuk menemani dokter Surya tapi mas gak ngangkat teleponnya"
Suasana yang baru mulai dingin kembali memanas. Hugo melepaskan kaki Mey dengan kasar.
"Makasih ya mas, udah mendingan kok tapi aku pulangnya nyeker, sepatu Mey sudah mas buang"
"Nyusahin saja" gerutu Hugo.
"Gak mas, Mey biasa nyeker kok Mey gak minta mas belikan sandal" tangan Mey menampung ke Hugo katanya gak minta di belikan sandal, mau minta duitnya gitu?.
Hugo melihat ponsel di tangannya. Dokter sialan itu terus menelpon tanpa henti. Mey pasti mau jawab telepon dari dokter Surya dan mereka pulang bersama. Membayangkannnya saja hati Hugo sudah tidak karuan.
Hugo benci situasi begini dimana ia di hadapkan dengan pilihan sulit dan konyol. Masa ia melarang Mey pulang dengan pria itu. Harga dirinya bisa jatuh. Dan jika ia membiarkan Mey pergi begitu saja hatinya tidak rela.
"Ponsel kamu sama tidak bergunanya Mey sama kayak sepatu kamu dan baju yang kamu pakai " Hugo membanting ponsel itu ke lantai. Mey menutup mulutnya tidak percaya. Ponsel kesayangannya sudah tidak bernyawa setelah mencium lantai dengan keras.
"Mas Hugo! mas tega menghabisi ponsel Mey satu-satunya, mana ponsel Mey untuk menghubungi mak ke kampung?' mata Mey berkaca-kaca sambil menyatukan ponselnya kembali.
"Aku akan belikan kamu ponsel yang tercanggih abad ini, kamu tenang saja" Hugo merampas kepingan ponsel di tangan Mey dan membuangnya ke tong sampah.
"Kalau saja mas tidak merusaknya kita bisa berhemat mas"
"Hanya sebuah ponsel kalau perlu pabriknya aku belikan sekalian"
__ADS_1
"Gak baik sombong mas, tapi ya sudah lah semua yang terjadi gak bisa di perbaiki lagi, mas marah-marah mulu sekarang Mey harus pergi menemui dokter Surya, Mey pamit ya"
"Kamu lebih peduli anak orang dari pada Alfi?"
"Bukan begitu mas, kan mas yang bilang agar jangan campuri urusan mas"
Kepala Hugo makin pusing.
"Kamu beneran jadi jalangnya dokter itu?" Hugo menyeringai sinis.
Sedari tadi Hugo selalu menuduhnya jalang kayaknya Hugo pengen kepastian dari nya. Dari tadi nyinyir mulu.
"Iya , Mey jalangnya dokter Surya!"
Hugo mencengkeram bahu Mey kuat sehingga perempuan itu meringis kesakitan.
"Kamu bilang sekali lagi!"
Sepertinya Mey terlanjur membuat kemarahan Hugo menggelegak. Pria itu menjadi pitam. Dengan kasar ia menarik Mey menuju sebuah kamar. Ia tidak peduli itu kamar nomor berapa tapi yang pasti tidak ada penghuninya.
"Lepaskan Mey!" perempuan itu meronta kesakitan.
Hugo tidak peduli ia mendorong perempuan itu dengan kasar ke kasur. Sama seperti sepatu dan ponsel maka baju Mey juga harus di musnahkan. Bibir yang merah itu juga akan mendapatkan hukuman.
Selama pernikahan semu mereka belum pernah Hugo sekasar ini terhadap Mey. Malam ini ia tidak ubahnya seperti bajingan membiarkan air mata Mey terus mengalir.
kemarahannya sampai di puncak.
Ya, ini adalah marah bukan cemburu. Hugo menyangkal hal itu.
__ADS_1